#23

169 16 11
                                        

Pergerakan yang cepat dan tepat sasaran itu membuat Sela tak berkutik, tangannya nyeri karena terkena sabetan kerambit Rizka. Ditambah lagi, busurnya terlempar jauh kebelakang tapi anehnya, Rizka tidak menyerangnya sampai pingsan.

Belum sempat mempertanyakan perlakuan Rizka, mereka dikejutkan dengan suara tepuk tangan dari arah kiri yang sontak membuat keduanya menoleh secara bersamaan.

"Damn! Rizka, kau benar-benar luar biasa." puji Sam yang tak henti bertepuk tangan dan bersiul.

"Sendirian aja Lo, yang lain mana?" tanya Rizka mengabaikan Sam.

"Cis, aku dah puji kau tak berterima kasih." balas Sam, sedikit kesal.

"Aku gak perduli!" tukas Rizka, acuh.

Sam tidak begitu memusingkan kelakuan Rizka, lalu perhatiannya tertuju pada Sela yang terduduk sambil memandangi dirinya. Gadis itu nampak berusaha menyembunyikan rasa senangnya saat melihat Sam.

"Kenapa diorang masih bangun?" tanya Sam sambil menyisir rambut yang menjadi gaya andalannya.

"Biarin aja, lagian udah gak ada tenaga juga." balas Rizka seraya berjalan menuju capture point.

Sepeninggalan Rizka, Mei bangkit dan langsung mengarahkan pistolnya pada Sam yang hanya berdiri santai tanpa penjagaan. Sebelum dia sempat menarik pelatuk, Sela lebih dulu melesatkan anak panah.

"Itu peringatan, yang ke dua pasti gak meleset." ucap Sela, suaranya tegas dan penuh ancaman.

"Kau pasti nak biarkan diorang menang macam tu je?!" Mei meninggikan suaranya membalas intimidasi dari Sela.

"Gw gak perduli, yang jadi permasalahan sekarang. Lo ngarahin pistol ke orang yang gw sayang." tanpa rasa malu Sela mengatakannya dengan suara lantang.

"Hmm, sapa yang kau maksud ni?" tanya Sam tanpa memperhatikan perubahan ekspresi Sela.

Bukannya menebak maksud perkataan Sela, dia malah lanjut berucap sesuka hati. "Ada aku je kat sini, jadi siapa yang kau maksudkan?"

Mei yang awalnya ingin menembak Sam malah menarik tangannya untuk menutup mulutnya kuat agar tawanya tak pecah, mereka memang musuh tapi sekarang bukan moment yang tepat untuk meledek atau bertarung. Bahkan busur Sela juga sudah di simpannya.

"Don't mind," bisik Mei tanpa berani memandang Sela di sampingnya.

"Ck, mati kek' lu!" Sela sekuat tenaga menstabilkan suaranya yang bergetar.

Sadar dengan pergerakan Sela yang ingin memanahnya, Mei lekas mengarahkan pistol dan ikut menembak, dua serangan beradu dan terjadi ledakan kecil yang menjadikan tanda bagi keduanya untuk sedia dengan serangan lanjutan.

Tapi, tepat setelah ledakan. Mereka yang sama-sama berlari kearah satu sama lain terkejut saat melihat cahaya hijau yang melesat ke depan dan berakhir dengan tarikan kuat.

"What the!!" seru ke duanya kompak.

Disamping mereka, terlihat Sam yang berdiri sambil memegangi jam tangan nya, ia jalan perlahan mendekat.

"Maaf, aku tak bisa menahan diri untuk tidak menembak. Selama MATA tak aman, aku tanamkan pada diriku untuk selalu menyelesaikan pertarungan dengan kemenangan telak." ucap Sam yang berjongkok sebentar disamping kedua wanita itu.

Beberapa detik kemudian, pemberitahuan perpindahan capture point terdengar di iringi dengan suara panjang yang menandakan berakhirnya Arena. Butuh waktu 5 menit untuk para robot medis datang membantu para Ejen muda yang cedera dan juga yang tertahan serangan dari tipe gejet tertentu.

Selama menunggu Sela tampak diam, walaupun mereka terkena peluru gravitasi bersama yang membuat mereka juga tersiksa bersama tapi, posisi Sela lebih menyedihkan karena ia berada dibawah tubuh Mei.

REUNI (Enam)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang