Seperti yang sudah di rencanakan tadi malam, pagi ini ke lima pria berlari mengelilingi kompleks perumahan sebanyak tiga kali, sebenarnya ingin terus berlari sampai matahari mengudara lebih tinggi. Tapi...
"Huff.. huff.. guys! Aku.. dah tak larat!" keluh kesah disampaikan oleh Jet, ia berusaha mengatur napasnya.
"Apalah Jet, belum jam 8 lagi!." balas Chris sedikit berteriak karena dirinya jauh memimpin didepan.
"Panas lah nanti kalau nak sampai jam 8. Dah lah weh.. meleleh aku ni!" Jet terus merengek sambil memelankan lariannya.
"Lembek!" ledek Rudy seraya menepuk kuat belakang Jet.
"Adoy~ woy! kau nak cederai aku, keh?!" marah Jet karena tubuhnya hampir mencium aspal.
"Rileks ha~ baik kau sambung lari dan berhenti bercakap, sebab tu yang buat kau semakin letih. Jom! Chris ngan Zass dah jauh kat depan!" Khai menepuk pelan bahu Jet dan menyamakan kecepatan larinya.
Jet menghela napas panjang sebelum akhirnya menambah kecepatan dan menyusul Rudy bersamaan dengan Khai, mereka bertiga melihat dua punggung rekannya yang nampak berlari pelan menunggu mereka.
Tepat di jam 8 pagi, mereka sudah kembali ke rumah Chris untuk melanjutkan latihan dengan alat berat dan jenis lainnya yang berada di kamar pria pirang itu. Tapi, baru duduk beberapa menit di pekarangan mengistirahatkan tubuh sebelum lanjut ke tahap latihan selanjutnya.
Terdengar suara pecahan kaca dan beberapa barang yang menghantam dinding di iringi teriakan wanita muda dan pria paruh baya sedang beradu mulut diakhiri dengan tangisan dan pintu yang terbuka.
"AKU TAK NAK PINDAH SEKOLAH, JANGAN PAKSA AKU. UNTUK APA SEKOLAH KALAU KORANG TAK PERNAH PERHATIAN DAN SAYANG DENGAN AKU!" gadis itu nampak sekuat tenaga menahan isak tangis.
Pintu di banting kuat, ia berbalik dan terkejut mendapati ke lima pria yang sedang memandangi dirinya.
"Hai," sapa Jet canggung.
Gadis itu tidak membalas dan langsung berlari kecil menjauhi rumahnya menghilang di ujung gang yang merupakan persimpangan jalan.
Sebelum merespon apa yang baru saja terjadi, Chris lekas memerintahkan teman-temannya untuk masuk ke dalam rumah.
"Jiran kau perempuan!" kaget Jet yang sepertinya dia lebih tertarik dengan gender tetangga Chris ketimbang kejadian mengerikan barusan.
"Itu yang kau tanyakan?!" balas Khai sambil geleng-geleng kepala.
"Apa?"
Ketiga temannya langsung menyerang Jet dengan berbagai nasehat dan sindiran, berbeda dengan Chris yang nampak diam mengintip dari balik gorden memantau tetangganya.
"Kejadian hari ni lebih teruk dari biasa, budak perempuan tu murid baru kat sekolah ku." ucap Chris menghentikan perdebatan temannya.
"Diorang yang gaduh kenapa kita yang sembunyi?" bingung Rudy.
"Sebab itu yang dinamakan adab, kita tak semestinya curi dengar permasalahan mereka." jawab Chris seraya merangkul Rudy dan mengajaknya menjauh dari jendela.
"Bukan curi dengar. Mereka yang paksa kita untuk mendengarkan." balas Rudy membantah penuturan Chris yang menganggap tindakan mereka sebelumnya bersifat kriminal.
"Amboy~ pandai kau bersilat lidah." canda Chris yang hanya dibalas delikan tajam oleh Rudy.
Mengikuti perkataan Chris, mereka melupakan tentang latihan dan menghabiskan waktu dengan bermain-main. Tidak sepenuhnya, kadang mereka juga berlatih sebentar dengan saling serang dengan kemampuan bertarung tanpa gejet.
KAMU SEDANG MEMBACA
REUNI (Enam)
Fiksi Penggemar~ini lanjutan cerita ~Black Code ~ Apa nak kita buat hari ni?" tanya Ali antusias karena sudah lama mereka di liburkan dari misi. "Aku tak tau," jawab Alicia. "Kau dah sehat betul-betul ke ni?" Ali memandang khawatir Alicia. "Mestilah, lama masa raw...
