Setelah semua kejadian di Arena, Ali jadi tidak berani untuk berbicara dengan Alicia karena dia merasa gadis itu pasti membencinya atas apa yang ia lakukan selama pertarungan.
"Ali, aku nak cakap kejap." suara Alicia membuyarkan lamunan Ali.
"Um, Afi! Jom pegi kantin!" Ali beranjak dari tempat duduknya mengabaikan Alicia.
"Um, dia tengah cakap ngan Ali lah. Layan kejap." ucap Afi sambil menahan tangan saudaranya.
Ali ingat menolak tapi Afi lebih dulu mendorong tubuhnya untuk menghadap Alicia yang masih berdiri di dekat mereka, setelah membantu Alicia, Afi beranjak keluar bersama Victor menuju kantin lebih dulu.
"Victor, Ali ngan Alicia tuh tengah gaduh ke?" Afi meletakkan sendok dan masuk dalam mode interogasi.
"Err, entah. Kenapa kamu tanya?" balas Victor berusaha mengabaikan sorot mata Afi yang penuh curiga.
"Kau pasti? Diorang tu kan kawan kau, mesti kau tau sesuatu yang aku tak tau." Afi menarik mangkuk mie milik Victor agar si pria fokus ke dia.
Lama Victor tak bersuara, Afifah mengetuk-ngetuk meja menunggu jawaban Victor yang bisa membuat dia puas akan rasa penasarannya.
"Diorang memang sering begaduh, jangan tanya aku alasannya sebab aku pun tak dekat dengan Alicia." jawab Victor seraya menarik balik mangkuk.
Afifah merengut melihat Viktor kembali melahap makanannya tanpa memperdulikan dia, terbesit niatan ingin menyusul kakaknya tapi Victor menahan dia dengan alasan, jangan terlibat dengan masalah mereka.
"Diorang sepasang kekasih?" celetuk Afifah yang di balas semburan air.
"Heyy!"
"Sorry, nah tissue." ucap Victor dengan sedikit terbatuk.
Seolah lupa dengan rasa penasarannya, Afi mengomel panjang pada Victor karena telah membasahi kerudungnya, di tambah Afi jadi hilang selera makan karena Victor.
Victor berkali-kali meminta maaf dan membujuk Afi dengan membelikan makanan baru serta membersihkan tangan Afi yang terkena semburan air, sedangkan di tempat Ali sekarang.
"Jawab jujur, kenapa kau abaikan aku?" tanya Alicia setelah dirasa sepi.
"Huh?! Apa maksud kau? Mana Ade aku abaikan kau," jawab Ali, gugup.
"Tak payah berpura-pura, Ali. Cakap je yang sebenar." tegas Alicia.
"Aku malu nak berhadapan dengan kau setelah apa yang aku buat kat Arena, kalau bukan sebab aku mesti kau dapat nilai lebih." aku Ali dengan kepala tertunduk.
Alicia menghela napas panjang, "memang sebab kau nilai aku berkurang karena tak masuk langsung ke pertarungan, tapi aku dapat nilai sempurna dari dapatkan capture point lawan." ia diam sejenak.
"Dah, jangan fikir hal lain. Kita masih dalam arena dan satu tim. Tak baik bila bermusuhan macam ni." lanjutnya seraya menepuk bahu Ali.
"Maaf Alicia, aku janji masa Arena nanti tak akan buat kacau lagi." ucap Ali, tangannya tergenggam kuat sebagai perwujudan janji pada Alicia.
"Iyelah, jom pegi kantin. Nanti merengek pulak adek kau tu." ajak Alicia, ia terkekeh membayangkan wajah Afifah saat dia membawa Ali.
"Biarlah, dia juga yang suruh aku tuk layan kau kan. Tak kan dia merajuk." balas Ali, sedikit bingung melihat gadis di sebelahnya tertawa kecil.
Ke-duanya berjalan beriringan menuju kantin dan bergabung dengan Afifah dan Victor yang nampak seperti habis bertengkar, karena Afifah terlihat diam dan acuh dengan kedatangan mereka, Victor hanya tersenyum canggung pada Ali sambil menggeleng pelan, tapi keheningan itu tak bertahan lama, tawa canda kembali terdengar selama istirahat.
KAMU SEDANG MEMBACA
REUNI (Enam)
Fanfiction~ini lanjutan cerita ~Black Code ~ Apa nak kita buat hari ni?" tanya Ali antusias karena sudah lama mereka di liburkan dari misi. "Aku tak tau," jawab Alicia. "Kau dah sehat betul-betul ke ni?" Ali memandang khawatir Alicia. "Mestilah, lama masa raw...
