Cuaca hari itu sangat cerah, hanya cerah tidak panas. Yang membuat Ejen muda bersemangat memulai Arena tanpa tau pasti apa yang akan mereka lakukan di putaran pertama.
Tim baru, Ejen buatan ketua Teras terlihat tidak saling bicara dan fokus pada gejet masing-masing. Mereka mengira adanya status murid pribadi menjadikan 4 gadis itu besar kepala dan memandang rendah mereka.
Padahal nyatanya, ke 4 gadis itu sebenarnya tidak saling kenal dan baru di bentuk 3 Minggu lalu. Bukan berarti kerjasama mereka jelek hanya karena tidak dekat dan mengobrol bersama, terbukti sekarang mereka bisa melalui putaran pertama dengan lancar tanpa cedera sedikitpun.
"Wahhh! Power gila adek kau tu Ali!" heboh Moon yang dengan tidak santainya mengguncang tubuh Ali.
"Err, Moon. Pala ku pusing. Aku pun terkejut juga tengok kemampuan dia." Ali sedikit menjauh dari Moon agar terhindar dari reaksi belebih si gadis.
Di putaran pertama mereka harus menjaga capture point dari serangan robot teras, cukup simpel dan mudah untuk di lewati semua tim. Lanjut ke putaran ke dua, dimana semua tim memasuki arena bersamaan.
"Sorry Ali, Afi tak kan mengalah." bisik Afifah saat berlaluan dengan tim Ali, ia juga melambai pada Alicia.
"Kalah nanti jangan nangis tau," balas Ali dengan senyum menyebalkan membuat Afifah tertawa.
"Kalau tim kau menang, nanti Ali belanja." ucap Alicia seraya membalas lambaian tangan Afifah.
"Wehh?!" protes Ali.
"Janji tau!" tegas Afifah yang membuat Ali mengangguk pasrah.
Ketiganya kembali fokus pada tim masing-masing karena putaran ke 2 akan segera dimulai, tepat setelah waktu hitung mundur selesai, masuk sekumpul robot teras.
"Kan ini sudah, masa lawan robot lagi. Kurang menantang." keluh Rizal yang langsung menyesal setelahnya.
"Siapa kata lawan kawanan robot je?!" seruan dari balik robot teras.
"Waduh, kenapa jadi lawan last bos!?" Hendra segera merentangkan rantai ketika robot tekno mendekat.
Robot itu terlilit rantai dan di banting kuat oleh Hendra sampai tidak berfungsi lagi, tim lain juga mulai menyerang beberapa robot yang mendekati mereka untuk mempertahankan capture point.
"Keputusan yang bijak. Membuat pertahanan lebih bagus daripada memilih untuk menyerang." puji an itu terdengar dari atas Ejen muda.
"Siapa sangka, kita akan berhadapan dengan ketua Teras." ucap Alicia sambil memanah ball drone milik Ejen Dayang yang hampir menembak rekan se-timnya.
"Kalau macam ni, habis lah kita!" Rina tampak panik menghindari para robot. Tipe gejet penyamaran seperti dirinya sangat di rugikan.
Berbeda dengan Rudy yang masih bisa mengontrol robot teras, Rina hanya bisa menyamar sementara menjadi salah satu robot agar terhindar dari serangan, dan ketika waktu penyamaran telah habis, maka ia bisa dengan mudah menjadi target.
"Rina, jaga-jaga!" seruan panik itu berasal dari Ken yang berusaha secepat mungkin menyelamatkan Rina, tapi jaraknya terlalu jauh.
Ejen Ganz tersenyum miring melihat Ejen muda itu tidak bisa menghindar tepat waktu, tinjuan Ejen Ganz mengarah langsung pada Rina. Melihat besarnya hembusan angin yang di timbulkan, Rina jatuh terduduk membuatnya tidak sempat untuk menghindari serangan. Ken di buat frustasi dengan keberadaan robot yang menghadang jalannya.
"Hmm, boleh tahan." puji Ejen Ganz pada dua orang yang berani menahan kedua tangannya sebelum menghantam Rina.
"Pergi, cepat!!" bentak Ryan untuk menyadarkan Rina dari keterkejutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
REUNI (Enam)
Fiksi Penggemar~ini lanjutan cerita ~Black Code ~ Apa nak kita buat hari ni?" tanya Ali antusias karena sudah lama mereka di liburkan dari misi. "Aku tak tau," jawab Alicia. "Kau dah sehat betul-betul ke ni?" Ali memandang khawatir Alicia. "Mestilah, lama masa raw...
