Suara ledakan energi terdengar menggelegar memenuhi hutan, terlihat dua orang wanita berlarian menghindari beberapa serangan, nampak juga seorang pria yang kesulitan mengangkat tombaknya.
"Jangan menghindar lagi, aku dah tak larat. Kalo macam ni, kita yang akan kalah". ucap Hamid sambil menangkis lemparan kerambit.
"Robot tu memang tak serang kita secara langsung dan hanya menyerang Rizka, tapi dia akan tetap tembak jika kita berada di dekat Rizka, aku bukannya gesit macam dia!." omel Nina panjang lebar.
"Cis, biar aku rusak kan robot tu dulu." Mei bersiap menembak tapi di hentikan oleh Hamid.
"Jangan, itu gejet kawan kita!" nada Hamid yang sedikit membentak membuat Mei takut dan menurunkan senjatanya.
Mereka bertiga diam dan larut dalam pikiran masing-masing, seketika di kejutkan oleh suara Rizka.
"Kalian ngapain?" Rizka ikut bersandar ke pohon yang sama dengan Mei.
Nina yang terkejut reflek mengayunkan cambuknya, Mei melompat menjauh dari Rizka. Berpikir bisa menangkap Rizka menggunakan cambuknya, Nina mematung saat Rizka dengan santai membelokkan cambuk dan itu membuatnya melilit dahan yang tepat berada di atas kepala Rizka.
"Lo gak liat pohon ya, kalo udah nyangkut gitu siapa yang repot?".
Hamid berniat membantu tapi terhenti karena Rizka yang melontarkan kerambit kearahnya, saat Hamid sibuk menghindari kerambit itu, Nina sudah terbaring tidak sadarkan diri karena Rizka menendang perutnya sekuat tenaga.
"Hamid, mundur!". teriakan Mei menghentikan Hamid yang berniat menyerang Rizka tanpa rencana.
"Kita berdua tak boleh maju sorang-sorang, mesti tunggu arahan dari ku." lanjut Mei yang nampak sibuk menembaki Rizka.
"Aku tau, tapi arahan kau tak pernah betul. Rancangan kau tu memiliki celah untuk di patahkan. Tak macam Alena." perkataan Hamid sontak membuat Mei berteriak marah.
"Heh!? Dia kenapa?" kaget Rizka.
"Jangan sesekali kau sama kan aku dengan budak sampah tu. Dia di terima sebab ayah dia, bukan karena kemampuan yang dia miliki. Kami berbeda, mentor mengakui aku." Mei menjelaskan dengan menggebu.
Hamid tidak merespon, dia sudah banyak belajar dari setiap kejadian beberapa minggu belakang yang membuatnya malas terlibat dengan wanita, menjauh dari Mei, Hamid kembali melancarkan serangan.
"Gak mau denger atasan Lo?" ledek Rizka sambil menghalau tombaknya.
"Dia bukan atasan ku". jawab Hamid, tubuhnya terdorong mundur karena Rizka menendangnya.
Mei melihat pertarungan keduanya tidak tinggal diam, ia juga menembak Rizka berkali-kali setiap kali ada celah. Beberapa tembakan memang mengenai tubuh Rizka tapi gadis itu tidak merasa sakit yang berlebihan.
"Kenapa gejet Lo gak ada rasa nya?" tanya Rizka pada Mei.
"Itu sebab aku belum guna seluruh kemampuan gejet ni." jawab Mei yang terdengar di paksakan.
Rizka hanya mengangguk, saat dia berjalan perlahan berniat mendekati Mei, beberapa anak panah melesat laju ke arahnya, beruntung Rizka dapat menghalau semua serangan itu.
"Aku akan bantu kalian." ucap Sela dengan panah yang terangkat.
"Huh! Awak bukan kumpulan kami." balas Mei yang langsung menembak.
Sela menghalau serangan Mei dengan membuat panahnya bertabrakan dengan peluru, setelah itu ia lanjut memanah Rizka yang kembali berhadapan dengan Hamid.
"Nih anak bikin repot aja." keluh Rizka seraya menangkis anak panah.
"Bukan ke budak tu kawan kau?" tanya Hamid sedikit ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
REUNI (Enam)
Fiksi Penggemar~ini lanjutan cerita ~Black Code ~ Apa nak kita buat hari ni?" tanya Ali antusias karena sudah lama mereka di liburkan dari misi. "Aku tak tau," jawab Alicia. "Kau dah sehat betul-betul ke ni?" Ali memandang khawatir Alicia. "Mestilah, lama masa raw...
