Suara bising kendaraan umum membangunkan Rizka, ia melirik ponsel untuk melihat jam, bersamaan dengan itu terdapat banyak pesan dari temannya, terutama Chris.
"Nih anak kenapa?" Rizka bergulung malas di atas ranjang, ponsel di letakkan secara terbalik agar layarnya tak terlihat karena mengganggu.
Sangat ingin ia mengubah ponselnya ke mode jangan ganggu, tapi nanti dia tidak sadar jika orang tuanya menghubungi. Rizka hanya bisa mengabaikan dentingan pesan yang berbunyi di tiap menit.
Niat awalnya ingin melanjutkan tidur tapi karena dering ponselnya, kantuk jadi hilang dan memaksa Rizka untuk segera membalas semua pesan itu.
"Ck... malah nelpon," dia menerima panggilan walaupun sambil menggerutu pelan.
"Kemana kau semalam? Kenapa tak balas chat ku? Mu ada masalah keh? Aku ada buat salah ke Rizka?-"
"Oy, diem dulu. Satu pun pertanyaan Lo belum ada yang gw jawab." putus Rizka cepat sebelum ocehan di seberang berlanjut.
Terdengar helaan napas sebelum akhirnya membalas. "Maaf, jadi... kau marah ngan aku?" nadanya ragu.
"Ya gak lah, kalo Lo cuma mau tanya hal gak penting gitu, mending gak usah nelpon deh, Chris." Rizka mengacak rambutnya kasar.
"Aku minta maaf, dengar kau masih membebel macam biasa. Jadi tenang. Sampai jumpa kat arena esok."
panggilan pun berakhir tepat sebelum Rizka membalas perkataan Chris. Ada sedikit rasa bersalah karena terlalu berlebihan merespon semua kekhawatiran temannya. Tapi segera ia tepis perasaan mengganggu itu.
"Gak ada yang perlu di ceritain," tegasnya pada diri sendiri sambil menatap cermin di sebelah lemari.
Untuk melupakan kejadian yang menghantui pikirannya semalaman, Rizka memutuskan menghibur diri dengan berjalan ke beberapa tempat hiburan, yang pertama dia akan pergi ke game center. Walaupun tidak begitu paham tentang game Rizka cukup terhibur memainkan beberapa game ringan yang biasa dia mainkan bersama teman dekatnya.
"Main pukul tikus tanah aja kali ya," Rizka bergumam sendiri sesaat setelah memasuki game center.
Selama 15 menit ia puas bermain dan memutuskan untuk berhenti lalu lanjut ke tempat lain, tak berapa jauh dari game center Rizka melihat siluet orang yang sangat di kenalnya.
"Sombong, gak ajak-ajak kalo main ke sini. Udahlah chat gw gak di bales telpon juga gak di angkat. Kesibukan Lo apa sekarang, hah?" Rizka duduk di sebelah wanita muda yang sekarang ia ajak bicara.
"Woy, gw ajak ngobrol kok diem." karena kesal Rizka menjentikkan jari di depan wajah si wanita yang nampak fokus pada ponsel.
"Eh?! Kenapa ya kak?" tanyanya ketus dan menatap Rizka sinis, sangat jelas ia terganggu dengan kehadiran Rizka.
"Lo... Xenia kan?" Rizka tersenyum kikuk mendapat respon tak terduga.
"Iya, kamu siapa? Apa kita pernah bertemu?" balas gadis itu semakin waspada dan menjaga jarak.
"Kan kita satu sekolah, masa Lo lupa sih. Jangan bercanda ya!" Rizka sedikit menekan kalimat terakhirnya.
Gadis di depan Rizka lekas berdiri, tatapannya semakin tajam menusuk hati di tambah dengan perkataannya.
"Seumur hidup, aku belum pernah ketemu sama kamu." ia berjalan pergi tanpa menoleh sedikitpun.
Rizka masih duduk diam tanpa niatan menahan gadis itu, ia sadar sesuatu telah terjadi dan dia tidak bisa merubahnya, sekarang dirinya harus menerima fakta bahwa sahabatnya telah melupakan dia sepenuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REUNI (Enam)
Fiksi Penggemar~ini lanjutan cerita ~Black Code ~ Apa nak kita buat hari ni?" tanya Ali antusias karena sudah lama mereka di liburkan dari misi. "Aku tak tau," jawab Alicia. "Kau dah sehat betul-betul ke ni?" Ali memandang khawatir Alicia. "Mestilah, lama masa raw...
