#31

159 13 21
                                        

Pertarungan sudah berlangsung cukup lama, Dila hanya berdiri diam menyaksikan semuanya tanpa niatan membantu, berbeda dengan Afi yang nampak sibuk mengalahkan setiap robot teras yang berada didekatnya.

"Kalau kau tak serang, markah kau berada di bawah yang lain." tegur Afi.

"Ck, aku tau la." ketus Dila, perlahan ia berjalan masuk ke area hutan.

Ada banyak robot teras yang berdatangan dari arah depan tapi gadis itu hanya diam seraya merentangkan jarinya, sedetik kemudian Dila memainkan jari jemarinya dengan ritme tertentu.

"Jom, menari bersama ku." bisiknya.

Sebelum memutuskan untuk bergabung dengan Ejen muda yang tengah melawan Ejen Dayang. Dan membiarkan yang lain melindungi capture point dari serangan robot.

Sekitar capture point berhamburan serpihan tubuh robot yang membuat para Ejen muda kesulitan mencari pijakan, beberapa kali salah seorang dari mereka akan tersandung ringan.

"Uwah, kenapa jadi makin banyak bangkai robotnya. Perasaan MATA gak pernah keluarin robot teras sebanyak ini cuma buat latihan." Rizal melompat saat kakinya tersandung tubuh robot KOMBAT.

"Mungkin mereka sengaja ngeluarin pas Arena. Lo fokus depan aja, biar belakang gw yang jaga!" seru Soni, ia merendahkan tubuhnya menghindari
serangan seraya memukul betis robot INVISO hingga jatuh.

Selanjutnya, Soni menekan ujung gejetnya pada leher si robot, menyetrumnya hingga berasap.

"Huft, gw mulai lelah." keluh Nanda, terlihat jelas sela-sela jarinya terluka.

"Istirahat aja Nanda, kalo Lo tumbang sekarang kita kekurangan badan." nasehat Rizal, jarum gejetnya melesat menembus mata robot TEKNO.

"Kalo gw istirahat. Robot-robot ini bakal lewat dan masuk area capture point. Gak bisa, gw harus bertahan." Nanda meninju robot menggunakan setengah kekuatan untuk menghemat energi dan membiarkan rekannya yang menghabisi robot-robot itu.

"Keras kepala." cibir Fadil yang hanya dibalas tawa oleh Nanda.

Melihat teman-temannya menahan robot agar tidak mendekat, Nanda hanya bisa tersenyum dan memilih mengalah dengan menepi duduk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

Belum sempat membuat hangat tempat duduknya, seseorang menegur kelakuan Nanda serta mengatainya.

"Oy! Sempat lagi kau duduk tengah pertarungan. Kalah nanti, jage kau!" Athillah menunjuk Nanda dengan ujung gejetnya, raut wajahnya tegas.

"Maaf, gw cuma istirahat sebentar." sahut Nanda di iringi tawa canggung.

Dengan terpaksa ia bangkit dan lanjut menyerang robot teras yang terlewat pengawasan temannya, Fadil berbalik mendekati Nanda untuk membantu.

"Gak usah dengerin bacotan bocah, dia belum tentu bisa bertahan sejauh yang Lo lakuin sekarang." Fadil menatap tajam pada Athillah, jari tengahnya teracung tinggi.

"Lo gak banyak bantu jangan sok berkuasa." lanjutnya.

Fadil tidak asal bicara karena memang setelah Arena di mulai, Ejen cabang 4 sama sekali tidak begitu membantu dalam pertarungan, mereka hanya akan menyerang robot Teras yang mengganggu jalan mereka.

Membantu dalam artian kerjasama, cabang 4 tutup mata setiap kali ada Ejen muda dari cabang lain yang membutuhkan bantuan, mereka lebih fokus mengamankan point' Arena.

"Apa kau cakap!?" Athillah mengarahkan pistolnya pada Fadil.

Ingin meladeni tapi perhatian Fadil teralihkan oleh kedatangan robot NEURO, ia tidak begitu menanggapi ocehan Athillah lagi. Hingga tidak sadar jika Athillah dengan santainya melepaskan tembakan mengarah lurus pada Fadil yang memunggungi.

REUNI (Enam)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang