28. Penyerangan

652 56 9
                                        

Happy Reading

Avariella menatap pintu di depannya dengan pandangan kesal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Avariella menatap pintu di depannya dengan pandangan kesal. Padahal gadis itu ingin melihat apa yang terjadi di aula kerajaan. Tetapi Adolf malah mengurungnya di kamar miliknya di Kerajaan Zephyr. Tunangannya itu entah pergi ke mana saat ini.

Gadis itu tersentak kaget ketika pintu kamarnya berusaha dibuka dari luar. Ia bergerak mundur saat terdengar dobrakan dari luar. Ia hendak menggapai pintu untuk membukanya. Sungguh, ia benar-benar penasaran dengan keadaan di luar. Belum sempat melancarkan niatnya, pintu dibuka oleh lelaki berlumuran darah di depannya.

"Kau kenapa?" Cemas gadis itu.

Ia menarik Egan menuju ke sofa kamarnya. Lelaki itu terkena luka di beberapa bagian. Lengannya yang paling parah, terdapat robekan lebar di sana. Avariella berlari menuju pintu untuk menguncinya. Takut-takut ada yang berusaha masuk lagi. Pergerakannya terhenti ketika mendapati beberapa kepala yang terputus dari badannya. Sepertinya mereka orang-orang yang berusaha memasuki kamarnya tadi.

Pandangannya menggelap ketika sebuah tangan menutup matanya. Sedikit berbau anyir, itu tangan Egan. Lelaki itu mengunci pintu dan menarik Avariella dari sana. Ia kembali duduk di kursi tadi.

"Tanganmu bau darah, kakak." Ujar gadis itu menjauh.

Ia mengambil kotak obat yang memang tersedia di kamarnya. Tidak seperti masa modern, alat bedah di dunia ini masih terbilang sedikit. Avariella membersihkan luka di lengan Egan dengan teliti. Gadis itu menatap jarum dan juga benang di depannya. Memang sedikit berbeda dengan dunianya. Semoga saja ia dapat membantu.

Gadis itu mulai menjahit luka lelaki itu dengan hati-hati. Egan tampak mengerang kesakitan. Salahkan saja kotak obat itu, di dalamnya tidak ada bius atau semacamnya. Dari pada lelaki itu kehabisan darah, lebih baik ia jahit secepatnya.

"Gigit ini kakak." Ujar gadis itu.

Avariella memberikan sapu tangan yang tergeletak di meja untuk digigit oleh kakaknya itu. Setelahnya ia melanjutkan kegiatannya tadi. Butuh beberapa menit hingga Avariella selesai.

Egan tampak bersandar pucat di kursi yang didudukinya. Avariella mengambil sapu tangan yang masih digigit oleh kakaknya itu. Gadis itu lanjut membersihkan beberapa luka di wajah kakaknya itu. Egan adalah orang yang cukup handal dalam berkelahi. Bagaimana lelaki itu bisa terluka?

"Kau tidak akan disukai lagi setelah mendapat luka ini." Ujar gadis itu tenang.

"Kau hampir membuatku mati, adik." Ujar Egan seperti kehabisan nafas.

Avariella sungguh tidak berperasaan. Bagaimana bisa gadis itu menjahit lukanya tanpa bius. Dia merasa Avariella masih dendam terhadap perlakuannya selama ini.

I'm not MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang