😺😺😺
Fanny Delaney, seorang dokter berusia 25 tahun. Gadis yang sering kali ditanya kapan menikah itu sangat mencintai stetoskopnya. Memiliki keluarga yang menuntut kesempurnaan. Meski begitu ia tetap merasakan kebahagiaan. Ia lebih memilih disuru...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Avariella menatap dua bocah kembar di depannya. Keduanya tengah menundukkan kepalanya dalam. Kereta sudah kembali bergerak sejak beberapa menit yang lalu. Tak ada satu pun dari keduanya yang membuka suara. Gadis itu mengernyit heran dibuatnya.
"Ada apa dengan kalian?" Tanya Avariella.
Diam, tak ada yang menyahut. Pertanyaannya seperti tak terdengar oleh keduanya. Aneh, tak biasanya kedua kembar itu diam di hadapannya. Entah apa yang membuat keduanya bereaksi seperti itu, Avariella juga tidak mengetahuinya.
"Aku akan pindah!" Perkataan gadis itu memancing atensi keduanya.
Ervins langsung berpindah duduk di samping Avariella. Pemuda itu menggenggam tangan sang kakak dengan erat. Netranya menyiratkan kepedihan. Kedua adik kembarnya itu telah melewati kejadian menyeramkan itu di usia yang masih belia.
"Maaf." Ujar Elvin pelan.
"Kakak, maafkan kami." Lanjut Ervins dengan mata berkaca.
"Kenapa meminta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak dapat menyelamatkan ibu." Gadis itu menyeka air mata di pipi adiknya.
Avariella beralih mendekap Ervins ketika pemuda itu tak berhenti mengeluarkan air matanya. Ia mengusap punggung pemuda itu pelan. Tatapannya beralih pada Elvin yang mengalihkan pandangannya pada jendela.
"Berhentilah merasa bersalah, semua itu bukan kesalahan kalian." Ucapan gadis itu membuat Elvin menatapnya.
"Seharusnya kami membantumu malam itu, kak. Bukannya malah bersembunyi seperti pengecut." Ucap pemuda itu dengan tangan terkepal.
"Dengarkan aku! Kalian tidak salah, lagi pula apa yang bisa dilakukan anak 10 tahun?" Avariella menatap Elvin tegas.
"Kalian tidak salah, dan jangan menyalahkan diri sendiri!" Lanjut gadis itu.
"Maaf." Lagi, hanya kata itu yang bisa keduanya ucapkan.
Kejadian di malam itu benar-benar membekas di ingatan mereka. Tak ada sedikitpun yang terlupa. Sebab di malam itulah mereka kehilangan ibunda mereka. Apalagi dari ingatan Avariella, Duchess Elara kehilangan nyawa di depan matanya sendiri.
😺😺😺
Keluarga Elara dan juga Adolf telah sampai di Duchy Elara. Semuanya tengah beristirahat setelah perjalanan yang memakan waktu cukup lama itu. Terkecuali Adolf yang tengah menatap Avariella. Gadis itu tengah tertidur lelap.