29. Akar Pemberontakan?

374 25 2
                                        

Happy reading

Avariella menatap sekeliling istana, semuanya bersih seperti semula ia tinggalkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Avariella menatap sekeliling istana, semuanya bersih seperti semula ia tinggalkan. Ia yakin istana sekacau itu saat penyerangan kemarin malam. Pagi ini tak ada tertinggal jejak penyerangan sedikitpun. Penjagaan di istana pun tampaknya semakin diperketat. Terlihat dari banyaknya prajurit berlalu-lalang di area istana.

Avariella tak mau ambil pusing, ia langsung saja berkeliling mencari keluarganya dan juga Adolf. Semenjak bangun dari tidur, ia tak menemui orang lain selain Earla yang membantunya bersiap.

Avariella memasuki ruang rapat istana dan menemukan semua orang tengah berada di sana. Ia perlahan keluar, tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka. Gadis itu memilih berjalan menuju taman istana. Avariella memilih duduk di gazebo yang terletak di taman itu. Tak berselang lama, pelayan kerajaan berdatangan meletakkan teh dan juga camilan untuknya.

"Tau saja aku tengah lapar." Gumam gadis itu.

Avariella perlahan mengangkat cangkir teh dan menyesapnya. Ternyata enak, teh hijau ini akan menjadi favoritnya untuk seterusnya. Dulu, Avariella akan memilih minum kopi dibandingkan teh yang memiliki rasa aneh menurutnya.

Gadis itu menyicipi semua camilan yang ada di hadapannya, semua sesuai seleranya. Ia memilih menghabiskan semua makanan itu tanpa menyisakannya sedikitpun. Dia tidak perlu sarapan lagi pagi ini.

Seseorang datang dari belakang dan duduk di sampingnya. Gadis itu menoleh ke samping dan mendapati Adolf tengah menatapnya. Lelaki itu tak membuka suaranya sedikitpun selama beberapa waktu.

"Kau baik-baik saja, Ava?" Tanya Adolf akhirnya.

"Seperti yang kau lihat." Jawab Avariella seadanya.

"Kau tidak bertanya keadaanku?" Tanya lelaki itu dengan raut memelasnya.

"Bersandar di sini." Gadis itu menunjuk bahunya.

Adolf menurut, lelaki itu menyandarkan kepalanya di pundak Avariella. Ia memejamkan matanya seraya menghela nafas berat. Avariella memilih menatap lurus ke taman bunga favoritnya itu. Ia tak tahu pasti apa yang terjadi pada tunangannya itu, tapi ia sadar lelaki itu sedang tidak dalam keadaan baik.

"Kau ingin bercerita denganku, Duke?" Tanya gadis itu pelan.

"Tetap di sisiku, itu sudah cukup." Jawab Adolf.

"Tentu saja. Kau tidak akan pernah melepaskanku, bukan?" Avariella menatap lelaki itu sejenak.

Adolf makin membenamkan wajahnya di pundak kecil gadis itu. Lagi, ia kembali menghela nafas berat. Avariella memilih menjauh dari lelaki itu. Hal itu membuat Adolf kembali duduk tegak dengan wajah kusutnya.

"Sebenarnya ada apa, Dami?" Tanya gadis itu sedikit kesal.

"Aku diperintahkan untuk mengatasi pemberontakan di wilayah timur." Jawab Adolf.

I'm not MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang