😺😺😺
Fanny Delaney, seorang dokter berusia 25 tahun. Gadis yang sering kali ditanya kapan menikah itu sangat mencintai stetoskopnya. Memiliki keluarga yang menuntut kesempurnaan. Meski begitu ia tetap merasakan kebahagiaan. Ia lebih memilih disuru...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi yang tenang Avariella langsung dimusnahkan oleh kelakuan manusia di Kediaman Elara. Pagi-pagi sekali ia sudah dibangunkan oleh Earla. Niat hati ingin mengistirahatkan tubuh, dirinya malah diganggu. Lebih tepatnya ia disuruh menemani seekor Adolf seharian ini.
Besok adalah keberangkatan Adolf ke wilayah timur. Ia langsung berangkat dan tidak akan menghadap raja terlebih dahulu di ibu kota. Oleh karena itu, lelaki itu masih bisa mengganggu Avariella pagi ini.
"Ava, ayo temani Adolf hari ini." Suara Duke Arlen memecahkan keheningan di meja makan.
"Kemana ayah?" Tanya Avariella heran.
"Ajak Adolf berkeliling Duchy Elara." Disetujui anggukan oleh Adolf.
"Bukankah kau sudah pernah kutemani berkeliling duchy?" Heran Avariella.
"Turuti saja, Ava." Ujar Duke Arlen.
"Baiklah, ayah." Avariella beranjak dari ruang makan diikuti oleh Adolf.
Gadis itu membawa Adolf keluar dari mansion Elara, mendekati kereta kuda. Avariella menaiki kereta dibantu oleh Adolf. Keduanya duduk berdampingan, tak banyak kata yang disampaikan keduanya. Hanya keheningan yang menemani keduanya sepanjang perjalanan.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka tiba di pusat kota Duchy Elara. Hari ini pusat kota dipenuhi dengan berbagai pedagang yang tengah berjualan. Yang menarik perhatian Avariella adalah penjual makanan yang terletak di tengah ramainya penduduk duchy.
Adolf yang menatap gadis itu sedari tadi hanya tersunyum tipis. Ia menarik Avariella menuju pedagang makanan. Gadis itu hanya diam mengulum senyum dengan kepekaan Adolf.
"Kau ingin makanan, bukan?" Lelaki itu terkekeh pelan.
"Rupanya kau sangat mengenalku." Ujar Avariella seraya mengangguk pelan.
Adolf tersenyum. "Tentu saja, sayang."
Keduanya berjalan menikmati sekitaran pusat kota seraya berjalan menatap keadaan sekitar. Avariella hanya diam menikmati pemandangan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, begitu juga dengan Adolf. Gadis itu tak tahu pasti apa yang tengah dipikirkan oleh Adolf. Lelaki itu tak membuka suara sedikitpun sedari tadi.
"Ada yang ingin kau sampaikan, Dami?" Avariella akhirnya membuka suara.
"Apa aku tidak usah berangkat besok?" Sahut Adolf setelah beberapa saat hening.
Avariella menatap Adolf seraya mengernyitkan dahinya heran. Lelaki itu menyamakan tingginya dengan Avariella. Ia menatap mata gadis itu dalam.
"Aku akan sangat merindukanmu, Ava." Ia meletakkan dahinya di pundak Sang Gadis.
"Aku tidak akan kemana, kau bisa mengirimiku surat." Jawab Avariella tenang.
"Ayo ikut saja denganku." Lelaki itu tiba-tiba merengek.