Saat masuk kedalam flat jungkook mendapati tempat itu sangat gelap, dia pun menyalakan saklar lampu membuat seluruh ruangan terang seketika, terlihat dimatanya kalau keadaan disini masih berantakan sisa dari pertengkarannya dengan Taehyung.
Menyadari Taehyung tidak disini dadanya langsung mencelos. Namun alih alih panik mencari keberadaannya jungkook lebih memilih duduk menyender di lantai
Wajah pria itu terlihat sangat pucat seolah urat-uratnya berhenti mengalirkan darah pun dengan jantungnya yang berdetak lemah yang mana membuat dirinya lemas.
bagaimana tidak kejadian hari ini bagaikan mimpi buruk baginya dimulai dari pertengkaran dengan Taehyung hingga kemunculan pria yang mengaku sebagai ayahnya.
Jungkook terkekeh sendiri kala otaknya kembali mengingat, meski dia sudah bertekad untuk melupakan segala hal tentang orang tuanya, tapi nyatanya sekarang sangat sulit mengingkari kalau jiwanya serasa melayang meninggalkan raga setelah bertemu langsung dengan sang ayah.
Bagaimana pun jungkook hanyalah seorang anak remaja. Tumbuh besar di panti asuhan lalu menjalani kehidupan yang kejam mengharuskannya kuat untuk bertahan hidup yang mana seharusnya sosok orang tualah yang menjadi pelindung bagi anaknya.
Sejak kecil jungkook tak pernah dilindungi oleh siapapun bahkan oleh taehyung sendiri justru jungkook lah yang senantiasa melindungi taehyung, merelakan tubuhnya babak belur disiksa kenyataan.
Dan sebagai seorang anak tentu saja jungkook bertanya-tanya kemana orang tuanya pergi, mengapa mereka meningalkannya begitu saja yang mana semua pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui setiap menit hidupnya kemudian seiring berjalannya waktu pikiran-pikiran itu perlahan membuat jungkook tumbuh dengan membenci orang tuanya sebab dia merasa kalau mereka telah membuang dirinya.
Dan pada akhirnya jungkook memutuskan untuk melupakan semua hal tentang orang tuanya sebagai tebusan atas kesakitan yang dia alami.
Dan sekarang tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba sehun muncul mengaku sebagai ayahnya. jungkook bahkan tidak tahu kata apa yang dapat menjelaskan kesakitannya karena pria itu, selain fakta bahwa hatinya kini benar-benar perih bagaikan luka berdarah yang di taburi garam.
Ceklek
Pintu flat terbuka, taehyung masuk dengan wajah dingin melihat jungkook duduk di bawah.
"Dari mana kau?"
"Namsan tower bersama seojun!"
"Berani kau pergi dengannya lagi?"
"Ya dia temanku, memangnya kenapa kalau aku pergi dengannya?"
Dengan cepat jungkook bangun menghampiri taehyung dan berdiri didepannya, Taehyung pun mendongak menatap jungkook dengan tatapan dingin.
"Jangan buat aku memukulmu taehyung!"
"Apa hanya itu yang bisa kau lakukan jika sesuatu tidak berjalan sesuai kehendak mu?"
Sekarang yang taehyung rasakan hanyalah benci dan benci kepada jungkook. Pria ini sudah menghancurkan hidupnya dan taehyung tak akan membiarkan dia menjadi penghalang untuk kehidupannya lagi.
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak berhak mengatur ku, aku begitu bodoh selama ini karena sudah menurut pada orang sepertimu!"
Jungkook mengepalkan tangan, pupil matanya bergetar menatap taehyung.
"Aku sudah memutuskan, kalau aku akan mengambil beasiswa ke Jepang!" Taehyung melewati jungkook berjalan menuju toilet.
"Tidak kita akan tetap pergi malam ini!"
"Aku tidak mau!"
"Taehyung!" Bentak jungkook.
"Apa? Kau pikir aku sudi hidup dengan seorang pembunuh sepertimu?" Taehyung berbalik menatap jungkook.
Plakkk...
Dalam jeda waktu satu detik pipi Taehyung menoleh ke samping dengan keras meninggalkan denyutan menyakitkan.
"Jaga mulutmu sialan?"
Taehyung tertawa miring sembari memegangi pipi kanannya yang memerah.
"Kenapa, yang aku katakan memang benar kau adalah pembunuh!" Taehyung mentap nyalang pada jungkook.
Tak bisa menahan amarahnya lagi Jungkook pun mencekik taehyung lalu menyudutkannya ke dinding.
Taehyung memegang tangan jungkook berusaha melepas cengkram nya, dia kesulitan bernafas.
Urat urat menonjol di kening pria itu, perasaannya campur aduk marah, benci, kecewa, sakit hati semuanya menggulung bagai gumpalan badai dalam dada jungkook membuat dia tak kuasa mengendalikannya.
Karena tidak mampu menghalau tangan jungkook, taehyung pun menendang pria itu hingga akhirnya cengkeramannya terlepas.
"Uhukk... Uhukk.. " Taehyung langsung batuk sembari memegangi lehernya yang perih.
"Kau memang gila!"
Tak menghiraukan hinaan Taehyung jungkook lebih memilih masuk kedalam kamar, mengeluarkan dua koper berisi baju miliknya dan taehyung.
"Apa yang kau lakukan?" Sergah taehyung.
"Suka tidak suka kita tetap akan pergi malam ini!" Kata jungkook sembari mondar mandir mengambil barang yang penting.
"Sudah kubilang aku tidak mau ikut denganmu!"
Jungkook menghentikan langkahnya kemudian memejamkan mata menahan ledakan emosi saat lagi-lagi mendengar Taehyung menentangnya.
"Jangan sampai aku melakukan kekerasan lagi taehyung, sekarang yang harus kau lakukan hanya menurut padaku!"
"Kalau begitu bunuh saja aku, lagipula hidup bersamamu lebih buruk daripada kematian!"
Bagaikan ada sebuah belati yang menusuk jantungnya Jungkook mematung sesaat sebelum dengan cepat keluar dari sana.
.
Tukkk... Tukkk...
Jungkook mengetuk ngetuk tabung berukuran kecil di atas meja untuk mengeluarkan serbuk berwarna putih di dalamnya. Setelah cukup banyak serbuk yang keluar dia pun mendekatkan hidungnya lalu menghirup masuk serbuk tersebut.
Seolah tak cukup sampai disitu, jungkook mengeluarkan puluhan pil dari dalam saku lalu memasukkannya ke dalam mulut kemudian dengan buku tangannya yang berdarah dia mengambil botol alkohol dan meneguknya bersama dengan pil - pil itu.
Dengan mata merah Jungkook menatap kosong ke arah dinding basecamp yang penuh coretan tak beraturan sedangkan pikirannya terus memutar kata-kata kalau Taehyung tidak bahagia bersamanya.
Jungkook tidak merasa marah mendengar ujaran Taehyung. entahlah dia sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan kini, namun yang jelas ini sangat menyakitkan seolah membuat seluruh urat syaraf ditubuhnya mati, dan jungkook bersumpah bahwa ini adalah perasaan paling sakit yang pernah dia rasakan, bahkan berkali kali lipat dibandingkan dengan seluruh luka yang pernah dia dapat.
Jungkook hanya sangat mencintai Taehyung oleh karena itu dia melakukan pembunuhan itu untuk melindunginya namun kenapa Taehyung justru menatapnya dengan hina.
Kini semua perjuangannya terasa sia-sia sebab walau dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk melindungi dan membuat taehyung bahagia nyatanya taehyung sendiri justru merasa tersiksa hidup bersamanya.
Lantas apa yang harus jungkook lakukan sekarang. Fakta bahwa Taehyung berniat pergi meninggalkan dirinya membuat jungkook takut setengah mati, sungguh jungkook tidak sanggup jika harus hidup tanpa Taehyung dia sangat sangat mencintainya.
Sial! Kenapa semua orang suka sekali meninggalkannya apa yang salah dengan dirinya?
Rasa sakit ini terlalu berat hingga jungkook tidak kuat menahannya, dia pun mengambil botol alkohol di atas meja kemudian meneguknya rakus.
-
-
-
Tbc
Don't forget to vote guys!
Cause your vote
Is very meant to me
Thank you❤
KAMU SEDANG MEMBACA
bad things
Romancejeon jungkook dan kim taehyung tumbuh besar bersama di panti asuhan. mereka telah bersama selama hidup mereka. jungkook mencintai taehyung dengan caranya sendiri. dia menggenggam erat taehyung sebagai bukti cintanya, namun ternyata apa yang dia lak...
