part 34

210 34 4
                                        

Hiruk-pikuk bandara internasional Seoul menenggelamkan manusia dalam kesibukan yang tak ada habisnya.

Taehyung duduk menunggu, matanya menangkap setiap pergerakan manusia berlalu lalang namun begitu hatinya kosong. Dibalik kaca mata hitam yang ia kenalan terdapat kesenduan dari mata indah yang semula berbinar. Euphoria yang sempat ia rasakan kini terkubur dalam kesedihan mengingat sesuatu yang sudah ia lewatkan.

Jika waktu bisa sedikit diputar Taehyung akan nekad melangkah menemui Jungkook, tak peduli dengan segala keraguan dalam dirinya yang kini tak sebanding dengan penyesalan yang terus menggerogoti.

Taehyung menatap keseluruhan bandara, suara keras pemberitahuan bahwa penerbangan menuju Jepang akan segera lepas landas.

Jungkook di manapun kau berada aku harap kau baik-baik saja, maafkan aku untuk semuanya.

Taehyung menaruh pesan dalam hati berharap sesuatu bisa menyampaikannya pada Jungkook.

"Ayo!" Seojun menggandeng tangan Taehyung kemudian membawanya naik menuju pesawat.

.

Bunyi dentingan sendok beradu dengan cangkir memecah keheningan dalam sebuah apartment sederhana. Harum aroma coklat panas menguar menghangatkan suasana dalam ruangan yang semula dingin.

Sang empunya berjalan membawa cangkir berisi coklat panas itu menuju balkon, seketika udara dingin langsung menusuk tubuhnya.

Hari ini jadwal Taehyung sangat sibuk. Cukup wajar untuk orang yang baru menyandang gelar sebagai mahasiswa, banyak hal yang Taehyung lakukan dikampus sebagaimana umumnya mahasiswa tahun pertama. Ditambah kehadirannya sebagai mahasiswa asing membuat Taehyung harus berusaha lebih extra untuk mempelajari budaya dan bahasa lokal. Tak heran kalau Taehyung lebih banyak menghabiskan waktu diluar.

Namun juga bukan tanpa alasan Taehyung terus-menerus menyibukkan diri, sebab itu juga bentuk upayanya untuk mengalihkan perasaan yang tak menentu pada Jungkook, namun masalahnya datang ketika ia sendirian tanpa bisa dicegah semua hal itu serentak menyerang Taehyung dalam keheningan.

Taehyung pikir perpisahannya dengan Jungkook akan membawanya pada kebebasan yang ia inginkan. Namun nyatanya justru kini pikirannya terjebak pada pria itu.

Seringkali Taehyung menangis di malam hari kala kerinduan dan penyesalannya terhadap Jungkook tak mampu ia bendung. Rasanya Taehyung ingin berlari menghampiri pria itu kemudian memeluknya erat hingga pagi.

Dan sekarang lagi-lagi Taehyung tak bisa menahan air mata ketika dengan brengsek otak Taehyung memutar satu kenangan. Dimana setiap malam Taehyung dan Jungkook akan duduk berdua di depan teras menikmati suasana malam. Dimana ia akan banyak bercerita dan mengeluh tentang kesehariannya sedangkan Jungkook duduk tenang mendengarkan sambil menghisap rokok dan menikmati coffe yang Taehyung buat.

Ah sial!

Taehyung menunduk, meremas cangkir dalam genggamannya kemudian menangis terisak.

.

Taehyung keluar dari kamar mandi sembari mengusak rambutnya yang basah. Kemudian netranya menangkap seojun sedang sibuk memasak di dapur.

Taehyung pun mendekat kemudian membantu pria itu menata makanan, setelah selesai keduanya duduk berhadapan dan mulai menikmati sarapan.

"Tidak jadi pergi?"

Tanya Taehyung disela makannya. Setahu Taehyung hari ini seojun memiliki jadwal kumpul bersama beberapa anggota organisasi sedangkan Taehyung sendiri tak punya kegiatan karena memang ini hari libur.

"Tidak, salju sangat tebal aku takut terjebak badai."

Taehyung menatap seojun selama beberapa saat. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan dan Taehyung rasa ini waktu yang pas. Ia pun membuka mulut kemudian mengutarakan keinginannya.

"Universitas merekomendasi sebuah dorm padaku. " Taehyung melihat seojun masih fokus pada makanannya.

"Kau ingin pindah kesana?"

Taehyung mengangguk dua kali. "Aku tidak mau merepotkan mu terus-menerus!"

Seketika seojun menghentikan makannya kemudian menaruh perhatian pada Taehyung. "Dengan siapa kau bicara, aku menyukaimu Taehyung! tentu saja kehadiran mu disini sama sekali tidak merepotkan justru aku senang bisa selalu dekat denganmu!"

"Tetap saja aku merasa sungkan. akan lebih baik aku pindah saja dan kita masih bisa saling berkunjung"

"Aku tidak setuju! sudah ku bilang aku menyukaimu dan bukanlah kau merasa hal yang sama jadi seharusnya hilangkan rasa sungkan mu supaya kau bisa lebih nyaman tinggal denganku!" Seojun menggeleng.

"Lagipula jika kau nekat menyewa dorm itu akan menambah biaya yang cukup besar sedangkan kini kau bahkan belum mendapat pekerjaan" Lanjut pria itu.

"Tak masalah aku pikir uang yang Jungkook berikan sepertinya akan sangat cukup menutupi biayanya hingga aku lulus nanti"

Wajah seojun berubah tak bersahabat. "Sebaiknya jangan gunakan uang itu! kau tahu dari mana Jungkook mendapatkannya. Aku takut kau akan mendapat karma saat memakai uang yang Jungkook dapatkan dari hasil pembunuhan!" Seojun kembali melanjutkan makanya seolah kata yang Ia ucapkan tak berarti apa-apa

Taehyung menghela nafas lelah ketika seojun lagi-lagi terdengar merendahkan Jungkook. Entah sudah berapa kali Taehyung berdebat dengan pria itu untuk berhenti berbicara buruk tentang Jungkook namun hasilnya nihil karena mereka hanya akan berakhir bertengkar dimana Taehyung harus mengalah sebab seojun sangat keras kepala dan tak mau mendengar pendapatnya.


-
-
-

Tbc

Don't forget to vote guys!
Cause your vote
Is very meant to me
Thank you❤

bad thingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang