part 38

216 35 12
                                        

Kamar mewah itu tampak gelap, sunyi dan dingin. isi di dalamnya hancur berantakan seperti kapal pecah.

Terdapat seorang laki-laki meringkuk diujung ruangan, tampak menyedihkan. Tubuhnya sangat kurus, pipi tirus dan bibir pucat. Sorot matanya kosong namun penuh ketakutan. Ia menutup telinganya kuat-kuat tak mau mendengar suara suara berisik yang terus mengganggunya

"Kau tak berguna! "

"Lihatlah pohon besar itu terbang ke udara" Mereka tertawa dalam kepalanya.

"Apa kau tak mau mati Jungkook?"

"Kau tak iri melihat ibumu yang kini sudah tidur di dalam tanah? "

"Kau ingin mati, kau harus mati! "

"Tidak, tidak aku tak mau mati!" Jungkook memeluk kakinya. Matanya berkeliaran ke sembarang arah, berusaha untuk tak melihat monster monster di sekelilingnya.

"Monster akan datang ketika kau tidur, dia akan menikammu dengan pisau tajam! "

"Jangan, aku mohon jangan. Rasanya sakit!" Jungkook berujar panik, ia tampak gelisah namun tak berani beranjak dari tempatnya karena takut monster itu akan menyakitinya.

"Apa gunanya hidup di dunia ini, neraka lebih baik! "

"Kau akan mendapat Taehyungmu di neraka! "

"Taehyung meninggalkanmu kau tak pantas dicintai! Taehyung pergi bersama seojun! "

"Taehyung! " Jungkook menangis mengingat Taehyung sudah meninggalkannya.

"Ayolah Jungkook kau harus sedikit lebih berani. Lihat pecahan beling itu, bayangkan bagaimana nikmatnya saat kaca tajam itu menggores lenganmu! "Jungkook menggeleng cepat, ia semakin meringkuk ketakutan melihat pecahan kaca depan matanya.

" Lagi pula untuk apa hidup, tak ada yang menginginkanmu! Kau monster Jungkook semua orang membencimu! Tak ada yang sudi mencintaimu!"

"Tidak, papa mencintaiku! Aku ingin bersama papa" Jungkook meracau cepat. Sebagian otaknya memaksa memutar memori kebersamaanya dengan sang ayah.

"Kau monster! Bunuh dirimu sendiri! Bunuh! Bunuh! Kau tak pantas dicintai! Hahaha monster, monster, bunuh, bunuh! " Suara-suara itu serentak semakin keras menggema di kepalanya. Para monster itu tertawa puas melihat Jungkook ketakutan.

"Arghhh... Tidak, tidak! Pergi! aku takut! Pergi! " Jungkook berontak, memukuli kepalanya berusaha mengeluarkan suara itu.

"Mati!!!"

" Arghhh....! " Jungkook menjerit kemudian menangis histeris sembari memukul-mukul kepalanya, kakinya menendang kesana-kemari.

Brak...

Sehun muncul sembari menggebrak pintu. Kepanikan terlihat jelas diwajahnya melihat Jungkook tengah histeris di ujung ruangan.

"Jungkook tenang nak!" Sehun berusaha menangkap tangan Jungkook yang masih memukul-mukul kepalanya

"Pergi! Jangan ganggu aku!"

"Ini papa Jungkook, ini papa!" Sehun Memeluk tubuh Jungkook, namun apa daya tenaga jungkook sangat kuat membuat pelukannya terlepas berkali-kali.

"Tidak, tidak, pergi, aku ingin hidup! Papa mencintaiku, papa mencintaiku, aku ingin hidup bersama papa!"

Bagai ada sebongkah batu menghantam dadanya membuat Sehun terdiam. Ia menatap Jungkook yang masih histeris sembari meracaukan hal yang sama, tanpa sadar air matanya jatuh bercucuran. Hatinya tersayat mendengar ucapan sang putra.

"Iya nak, papa mencintaimu, sangat mencintaimu!" Sehun menarik Jungkook ke dalam pelukannya, meletakkan kepala sang anak di dadanya.

Jungkook meringkuk bagai janin, tangannya memeluk lengan sehun posesif. Ia merasa tenang ketika mendengar detak jantung sang ayah. Monster-monster itu bahkan tak berani mendekat lagi ketika ia bersama sang ayah.

Sehun mengangkat kepala Jungkook, mengusap pipi basahnya lembut. Mata bulat itu, sehun bahkan harus menguatkan hati ketika matanya bertemu dengan sorot mata Jungkook yang penuh ketakutan.

"Papa janji tak akan pernah meninggalkanmu lagi, kau tak akan sendiri lagi nak, papa akan selalu ada untukmu, mari hidup bersama selamanya! " Sehun mencium kening Jungkook, membiarkan air matanya jatuh mengenai wajah sang putra.

"Tidurlah!" Sehun mencium puncak kepala Jungkook kemudian mengusap punggungnya lembut untuk menghantarkan sang putra ke alam mimpi.

.

Jungkook duduk di depan canvas yang menghadap ke jendela kamarnya.

Baru-baru ini lucas, orang kepercayaan sehun mengajari Jungkook melukis yang mana ternyata Jungkook menyukainya.

Ia cukup berbakat dalam hal itu. Lukisannya sudah banyak yang jadi. Sebagian ditempel di dinding, sebagian lagi tersimpan rapi di sudut-sudut kamar, membuat kamar mewahnya terlihat seperti studio lukis artistik.

Ini masih tengah hari dan Jungkook pun masih betah duduk di kursinya, menyelesaikan lukisan baru yang ia buat.

"Hey nak!" Sapa sehun yang baru datang.

Sudah menjadi rutinitas semenjak kehadiran Jungkook di mansion sehun selalu pulang disiang hari untuk makan siang. Tak jarang juga sehun tak kembali ke kantor dan memilih menyelesaikan pekerjaannya di rumah.

"Apa yang ini boleh aku taruh dikamar dan ruang kerjaku? "

"Yang ini tidak! Tapi kau bisa memilih yang lain untuk kau simpan." Jawab Jungkook tanpa mengalihkan perhatiannya.

Sejujurnya dikamar dan ruang kerja sehun sudah terisi penuh oleh lukisan Jungkook, bahkan beberapa sudut rumah ini pun tak luput dari hasil karya cantik tangan putranya itu.

Saat tengah asyik menggores kanvas tiba-tiba tangan Jungkook gemetar, sakit menyerang kepalanya menciptakan hawa panas sampai ke punggung.

Sehun pun mendekat kemudian memeluk Jungkook. Pria itu tampak tenang ketika menghadapi anxiety sang putra yang selalu kambuh tiba-tiba setelah pengalaman sebelumnya.

Jungkook meletakkan kepalanya di dada Sehun yang mana ia selalu merasa tenang ketika mendengar detak jantung pria itu.

"Mhhhh.... " Jungkook menjerit teredam di dada sehun.

"Ssttt tak apa! " Sehun memeluk Jungkook erat walau bahunya perih berdarah karena di gigit sang putra. Ini lebih baik ketika Jungkook bisa membagi rasa sakit dengannya.

"Tubuhku panas dan sakit!" Adunya dengan suara lemah.

"Aku mengerti, tapi aku yakin kau kuat!" Sehun mencium kepala Jungkook lembut.

Setelah mereda, Jungkook memasrahkan tubuhnya yang lemas dalam dekapan sehun.


-
-
-

Tbc

Don't forget to vote guys!
Cause your vote
Is very meant to me
Thank you❤

bad thingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang