part 37

211 32 10
                                        

Sehun berdiri mematung dengan tangan mengepal di dalam saku celana. Di balik pintu besar kayu jati di hadapannya, terdengar teriakkan Jungkook yang menggema nyaring.

Sehun tak bergeming, telinganya senantiasa mendengarkan setiap rintihan yang keluar dari mulut putranya. Semakin lama rintihan Jungkook semakin lemah hingga suaranya hilang sepenuhnya.

Sehun pun memutuskan untuk masuk ke dalam. ruangan itu gelap, meski begitu ia masih dapat melihat sosok sang anak tidur menyamping di lantai dengan hanya celana panjang hitam yang melekat di kakinya. Nafasnya tersengal-sengal dengan tubuh basah oleh keringat bagai disiram air.

Kemudian suara langkah kaki high heels mendekat, seorang wanita muda berparas bule masuk. Ia menunduk sekilas saat melihat keberadaan sehun kemudian bersimpuh di lantai memeriksa keadaan Jungkook.

"Maaf tuan Jeon, sepertinya tuan muda harus segera dibawa ke rumah sakit" Ujar dokter muda itu melihat kondisi Jungkook yang terlihat menghawatirkan.

Sehun mendekat kemudian berlutut di hadapan sang putra, ia mengusap kepala basahnya lembut. Merasa kehadiran ayahnya Jungkook membuka mata, dengan sayu ia menatap kearah Sehun. Tanpa mengatakan apapun sehun lekas bangun kemudian berjalan keluar.

Dan akhirnya Jungkook benar-benar di bawa kerumah sakit.

"Tuan muda mengalami depresi akut dan gangguan kecemasan serta halusinasi yang parah. Faktor dari kecanduan yang tuan muda alami membuat alam bawah sadarnya menganggap zat adiktif sebagai alat penunjang hidupnya, dimana ketika tubuh tak mendapatkannya maka otaknya akan menciptakan ilusi rasa sakit yang teramat sangat. Ditambah kehidupan yang sebelumya tuan muda jalani banyak merusak kesehatan mentalnya. Akibatnya tuan muda tak bisa membedakan dunia nyata dan dunia ilusi. "

"Lalu apa yang harus aku lakukan? Dia terus berteriak kesakitan. " Tanya Sehun putus asa. Ia sungguh tak kuat melihat derita yang ditanggung Jungkook.

"Untuk saat ini tak banyak yang bisa dilakukan. Biarkan tuan muda melewati masa sakaunya lebih dulu, kita hanya perlu memantaunya jika tuan muda nekad menyakiti diri sendiri. "

"Tapi ia bisa bebas bukan?"

"Tentu tuan, asal tuan muda mau dan sedikit bertahan dengan rasa sakitnya, tuan muda akan sembuh dengan sendirinya. Untuk saat ini kita hanya perlu fokus pada rehabilitasi tuan muda, setelah itu kita akan mengobati mentalnya perlahan. "

Sehun tampak lingkungan setelah mendengar penjelasan dari dokter Robert. Ia tahu seburuk apa kehidupan yang dijalani putranya hingga menjadi seperti ini. Atau bahkan Sehun tak tau dan tak mengerti apa yang sesungguhnya Jungkook rasakan?

Sehun menghela nafas panjang. Jika sudah begini menyesal pun rasanya sehun tak pantas.

.

Jungkook memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.

Tiba-tiba sebuah cahaya masuk ketika pintu kamarnya terbuka, tanpa melihat Jungkook sudah tahu siapa yang datang.

"Kau suka melihatku menderita?"

Jungkook menoleh dari tepatnya berbaring ke arah sehun yang berdiri di pintu.

"Lihat apa yang sudah kau lakukan padaku? kau membuatku seperti sampah tak berguna!" Jungkook berteriak kemudian bangun dan berdiri di hadapan sehun, ia mencengkram kemeja pria itu dengan mata merah berkaca-kaca.

"Kenapa kau lakukan ini, aku kesakitan sialan. tubuhku sangat sakit, kepalaku sakit. mereka bahkan tak membiarkan aku tidur dengan tenang!" Jungkook memukul-mukul kepalanya yang terus berisik.

Sehun segera membawa jungkook ke dalam pelukannya.

"Aku mohon berikan aku obat, mereka terus menyakitiku!" Pinta Jungkook dalam pelukan sehun.

Sehun tak menjawab ia hanya mengeratkan pelukan di tubuh Jungkook.

Jungkook mendorong dada sehun kasar hingga pria itu mundur beberapa langkah, ia berjalan menghampiri nakas kemudian melempar semua barang yang ada disana. Sedangkan Sehun tak mencoba menghentikan, ia membiarkan Jungkook melakukan apapun untuk melampiaskan emosinya. ia hanya mengawasi putranya, berjaga jika Jungkook menyakiti diri sendiri.

"Sialan! bangsat! aku membencimu! " Teriak Jungkook kesetanan sembari menghancurkan apapun yang ada di depan matanya.

"Berhenti, berhenti berteriak! aku tidak mau! Aku tidak mau! Arghhhh.... " Jungkook semakin tak terkendali, ia menjambak rambutnya keras berusaha mengeluarkan suara yang terus menghantui kepalanya.

Sehun pun datang kemudian memeluk Jungkook, sontak Jungkook memukul mukul tubuh sehun.

"Sssttt tenanglah nak! " Sehun tak memperdulikan pukulan Jungkook. Ia tetap memeluk sang anak sekalipun Jungkook terus berontak.

"Aku disini Jungkook, aku disini."

"Arghhh.. Hikss... " Jungkook menangis, menenggelamkan wajahnya di dada sehun sedangkan tangannya meremas kuat jas pria itu.

"Sakit! ini sakit sekali! kumohon bunuh aku saja! Aku tidak kuat, aku takut! Mereka terus datang dan menyakitiku! Mereka ingin membunuhku. Mereka tak mau berhenti! " Racau Jungkook berantakan tenggelam di dada sehun.

Jika Jungkook kesakitan seperti ini, percayalah kalau hati sehun bahkan lebih hancur. Setiap rintihan yang keluar dari mulut Jungkook bagaikan silet tajam yang menggores jantungnya.

"Tak apa nak, aku disini, aku disini sekarang!" Sehun mencium kepala Jungkook berkali-kali.

Sehun merasa tubuhnya lemas, nafasnya memburu 2 kali lebih cepat, namun sekuat tenaga ia tetap bertahan mendekap sang putra dalam pelukannya.

Jungkook masih menangis. Tubuhnya bergetar hebat seolah ia benar-benar ketakutan. Selang beberapa menit sehun merasa tubuhnya semakin berat, rancauan Jungkook pun berhenti. Jungkook pingsan.

Sehun menahan tubuh Jungkook yang tak sadarkan diri di pelukannya. Ia mengangkat kepalanya menahan air mata yang jatuh sembari mengatur nafasnya yang berantakan.

Setelah merasa kuat ia pun menggendong Jungkook lalu membaringkan di ranjang, ia mengelus sayang kepala Jungkook yang basah oleh keringat dan mencium keningnya lama.

"Bertahanlah nak, aku janji kau akan baik-baik saja. "



-
-
-

Tbc

Don't forget to vote guys!
Cause your vote
Is very meant to me
Thank you❤

bad thingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang