Tiba-tiba pengen ada yang komen cerita ini, boleh?
.
.
.
"Kapan kita kasih tahu anak-anak?"
Ayah yang sedang melihat-lihat hasil pekerjaannya tadi mendongak menatap Bunda. Matanya yang terkesan acuh itu mengunci presensi Bunda yang selalu terlihat cantik di depannya.
"Mau udahan main rahasia-rahasiaannya?" Bunda mengendikkan bahu.
"Aku udah bosen gini terus, Mas."
Ayah menghela napas pasrah, apa pun keputusannya pasti tidak akan mampu mempengaruhi keputusan wanita yang telah lama mencuri hatinya itu. Dia menutup semua dokumen beserta teman-temannya lalu dia sisihkan laptop itu.
Tangannya mengisyaratkan Bunda untuk duduk bersamanya di sofa tapi Bunda menggeleng. Dia memilih duduk di kasur. Ayah bingung sebenarnya, apa yang harus dilakukannya kali ini. Terhitung kurang dari dua minggu Istrinya tinggal bersamanya. Meninggalkan anak kembar mereka jauh di rumah sana.
Sejak itu pula tidak ada hari yang tenang. Drama selalu hadir di pagi, siang, dan malam. Seperti minum obat saja.
"Yowes. Kapan pun kamu siap, aku juga siap."
Bunda mengangguk di sana. Tangan dengan cincin cantik yang menghias jari manisnya masih terlihat apik di sana, bukti bahwa Bunda benar-benar menjaganya dengan baik. Tapi sekarang, cincin itu terasa sesak, tidak nyaman.
"Cincin ini ..., enggak aku butuhin lagi," ujar Bunda seraya mencoba melepas cincin itu. Dibawanya cincin itu ke hadapan wajahnya, dia amati setiap detail serta ukiran inisial namanya. Cantik. Bunda mengakuinya.
"Kamu bisa tetap pake kalo mau," kata Ayah mendekati Bunda. "Atau mau kamu simpan juga, gak masalah."
"Stop! Jangan deket-deket aku," tukas Bunda cepat. Tangannya mengacung ke arah Ayah, alisnya mengerut dalam. "Jangan kamu berani deketin aku lagi!"
Ayah terdiam di tempat. Mata itu terlihat nelangsa, ada perih yang terasa di dada. Pujaan hatinya, kesayangannya, separuh nyawanya, harus menderita karena ulahnya. Seharusnya ia menolak saja saat itu sehingga mereka tidak akan seperti sekarang ini.
"Dek, Mas mohon ...."
See you asap!
KAMU SEDANG MEMBACA
11-17 The Adhitama
Genç Kurgu[The cup of tea] Ini kompilasi tingkah si kembar, yang katanya: saudara kembar itu barang kembar, sifat kembar, baju kembar, hobi kembar, sepatu kembar, artis idola kembar. "Heh, siapa yang bilang kalo kembar selalu kembaran? Sini gua gelitikin empe...
