[The cup of tea]
Ini kompilasi tingkah si kembar, yang katanya:
saudara kembar itu barang kembar, sifat kembar, baju kembar, hobi kembar, sepatu kembar, artis idola kembar.
"Heh, siapa yang bilang kalo kembar selalu kembaran? Sini gua gelitikin empe...
Hai, udah hampir setahun, ya, dan saya masih bingung mau dibawa kemana si kembar ini.
Reygan sama Raykan kecanduan mancing.
Gara-gara kemarin ikut mancing gratis, mereka dapat ikan banyak. Awalnya Ayah sama Raykan yang mancing tapi karena umpannya dimakan mulu sama ikan, Reygan pun tergiur ingin merasakan tarikan si ikan. Jadilah Ayah cuma nonton.
Hari ini, Reygan yang ngajak mancing lagi. Enggak gratis, harus bayar perorang. Ayah mau bayarin berdua lagi tapi kata Reygan biar makin banyak ikannya, bayar aja untuk bertiga tapi mancingnya tetep berdua. Raykan pun setuju.
Mereka semangat, lebih semangat dari pada mancing beberapa waktu lalu. Dengan kepercayaan dirinya mereka ambil posisi ternyaman untuk menjadikan saksi sejarah kebangkitan hobi mancing mereka. Bahkan milih tempat seperti kemarin, posisi hoki katanya.
Raykan dengan handphonenya yang sudah siap merekam, Reygan yang sudah memberikan umpan pertamanya, dan Ayah yang sedang nyantai dengan si pemilik pemancingan.
"Siap-siap, ah, bawa ikan banyak lagi," canda Reygan ke Raykan.
"Duh, si Aa, pake umpan naon sekarang, A?"
"Ayeuna mah make nu mahal, Mang, biar makin banyak ikannya."
"Moal aeuna mah, ges dijampean ku urang balongna!" Seru Panji yang masih iri dengki pasca kekalahannya atas taruhan kemarin.
Pokoknya hari ini Panji harus dapat ikan lebih banyak dari pada dua anak kembar itu. Gak terima dia bapaknya yang pemancing pro kalah sama dua member baru. Pokoknya kesel! Mana taruhannya gak ngotak, masa harus nyediain liwet buat keluarga yang menang. Bukan Panji gak mampu tapi masa iya yang menang ikan siapa tapi yang nyediain nasi liwetnya siapa.
"Bun, hehe, ngaliwet yuk? Kan si Gan-gan dapet ikan banyak tuh, nanti Panji deh yang urusin nasinya."
Meski heran Bunda tetep iyain, untung beliau nolak perbumbuan dan bahan mentah yang Panji tawarin, katanya cukup bantuin masak aja. Dengernya Panji seneng banget, hampir-hampir dia meluk Bunda saking girangnya. Cuma 'hampir' juga, mata si kembar udah kayak mau jatoh tuh apalagi kalo beneran Panji peluk. Bisa dicincang beragam bentuk Panji.
Belum lagi Mamahnya yang ngomelin, katanya Panji malu-maluin Mamah sama Bapak kayak anak yang culametan. Pokoknya kali ini dia harus menang, bakal dia balas kekalahannya kemarin.
"Wes, wes, hiu lagi ini mah euy!" Panji bersorak girang saat jorannya memberat tanda ada ikan yang nyantol diumpan miliknya.
"Halah, paling ikan cupang!" sewot Reygan yang udah kesel banget.
Terhitung sudah lebih dari 3 jam mereka nunggu tidak ada satu pun ikan yang nyantol pada umpan si kembar. Ayah aja udah pulang duluan karena ngantuk. Sedangkan Panji udah kedua kalinya dapat—ya walau pun kecil-kecil. Meski kecil gitu tapi Reygan panas luar dalam. Kayak ada api merah membara yang melingkupi tubuhnya.
Gak jauh beda, Raykan juga mukanya udah lempeng banget. Alisnya nekuk dikit sama mulutnya rapet terus dari tadi. Bahkan dia udah enggak nyoba buat hibur adeknya lagi yang kebakaran jenggot itu.
Tangannya saling bertaut, matanya tetep fokus lihatin ujung senarnya. Dia juga fokus ke ikan-ikan yang muncul ke permukaan deket sama ujung senarnya. Sesekali dia hela nafas kasar pas lihat si ikan cuma geol-geol lihatin balik. Di mata Raykan si ikan seakan-akan ngeledekin dia.
Dasar hewan!
See you asap!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.