Tinggalkan vote dan spam komentar ya.
Entah kenapa sejak kepergian Jordan untuk mengerjakan tugas dari dosennya selama dua minggu, kini teman-temannya dan juga anggota inti the Devils bergantian datang dan menginap hanya untuk menemani Senan yang sedang sendiri di penthouse.
Tanpa Senan ketahui, mereka bergantian datang dan menginap hanya untuk menjaga Senan agar tidak melakukan hal aneh yang dapat merugikan Senan karena suruhan dari bos mereka, Jordan.
Hari ini sudah hari ke sembilan sejak Jordan pergi hari itu, sekarang giliran Dewa dan Ozan yang menemani Senan. Mereka juga membantu Senan membersihkan penthouse karena memang disuruh oleh Senan untuk membantunya.
"Cil lo masuk sekolah nanti udah kelas dua belas kan ya?" tanya Dewa yang sedang menyapu, ia memberhentikan sejenak kegiatannya untuk menoleh ke dapur dimana Senan berada.
"Bisa gak, enggak usah manggil gue bocil? Gue udah besar, udah gede dan udah kelas dua belas pas masuk nanti, jangan manggil bocil terus.."
"Gede dari mana nya sih? Coba gue liat sini." kata Ozan sebelum Senan menyelesaikan ucapannya, ia juga berada di dapur untuk mengambil minum serta cemilan, ia mendekat ke Senan yang berada di depan kompor dan membolak-balikkan tubuh Senan membuat Senan kesal.
"Gak gede pun, masih sama kecil kayak dulu." ucap Ozan lagi setelah memeriksa Senan membuat Dewa tertawa terpingkal-pingkal di sana.
Senan menghela napas berat sebelum mengatakan, "kalian jujur deh sama gue, kalian kesini karna disuruh kak Jordan kan?"
"Sebenernya iya, sama gue juga mau makan gratis disini, masakan lo enak soalnya hehe." kata Dewa berjalan ke dapur karena ia sudah menyelesaikan tugasnya.
"Thanks, gue anggap itu pujian. Tapi gak setiap hari juga dong kesini nya, gue capek tiap hari masak mulu buat kalian."
"Halah, emang kalo bang Jordan disini gak lo masakin? Kan sama aja." ucap Dewa lagi.
"Ya beda dong bang, kak Jordan kan suami gue. Lah kalian siapa gue sampe gue juga harus masakin kalian?" tanya Senan menatap keduanya.
"Ya.. kita kan anak buahnya bang Jordan, sama aja dong."
"Beda, gue gak harus masakin kalian, kalian juga bisa makan di luar."
"Yaudah sih, anggap aja kita ini anak kalian jadi harus di masakin juga." ucap Ozan yang lelah melihat Dewa dan Senan terus beradu mulut itu.
Senan yang mendengar itupun jadi mengingat perkataan Jordan malam itu sebelum ia pergi, yang mana Jordan mengatakan bahwa Senan bisa mengandung.
"Bang, gue mau buktiin sesuatu kalian bisa bantu gak?" tanya Senan menatap kedua orang yang sedang memakan biskuit yang diambil Ozan di kulkas.
"Bantu ngapain dulu nih?" tanya Dewa tidak yakin ia kan membantunya atau tidak.
Senan juga sebenarnya tidak yakin ingin melakukan ini, tapi ia juga harus membuktikannya walau bukan Jordan orangnya. Senan menarik napas dan memejamkan mata, "ng-ngewe.."
Dewa dan Ozan terbelalak dengan ucapan Senan yang di luar nalar itu, mereka bertatapan sebentar. "Gila lo cil." ucap keduanya bersamaan.
"Lo.. akh.. lo waras gak sih Sen? Lo sakit?" ucap Ozan tak bisa berkata-kata lagi.
"Bisa di gorok kita nanti sama bang Jordan cil, mikir gak sih? Lo tau gak sih, lo ngajakin kita ngapain tadi?" omel Dewa membuat Senan menunduk.
"T-tau," cicitnya pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suddenly; Bl [End]
RomanceBL 18+ Suddenly? Pendapat kalian tentang judul cerita ini tuh apa? Suddenly kan artinya tiba-tiba tuh, apakah kalian berpikir.. Tiba-tiba mendapat uang segepok di jalan begitu? Atau tiba-tiba menjadi anak yang di sayangi orang tua atau guru di seko...
![Suddenly; Bl [End]](https://img.wattpad.com/cover/330541708-64-k230290.jpg)