Senan adalah anak muda yang bermasalah dengan mentalnya, ia sangat terobsesi dengan yang namanya bunuh diri. Jika pikirannya sedang kalut dan chaos, ia akan menyayat paha bagian atas dekat dengan selangkangannya agar tidak ketahuan oleh siapapun bahwa ia bermasalah atau tempat-tempat tertutup yang tidak kelihatan oleh mata orang lain. Obsesi itu hadir pada saat orang tuanya selalu membandingkan dirinya dengan yang lain dan juga memaksanya untuk melakukan yang terbaik sembilan tahun yang lalu.
9 tahun lalu.
Usia Senan saat itu masih berada di angka 9 tahun, masih terlalu muda untuk mendapat ketidakadilan dari semua. Hari itu adalah hari yang mampu mengubah kehidupan Senan yang awalnya baik-baik saja menjadi Senan yang sering menyakiti dirinya sendiri.
Ia selalu di tuntut untuk menjadi yang terbaik di sekolah oleh Rana agar ia bisa di pamerkan ke teman-teman sosialitanya dan Galih sang papa hanya sibuk bekerja membangun bisnis dimana-mana melupakan Senan yang saat itu sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah dan membutuhkan pertolongan.
Senan yang berusia 9 tahun waktu itu baru saja pulang setelah lomba cerdas cermat di sekolahnya, ia berwajah murung karena kalah dalam lomba itu. Saat sampai di rumah, ia melihat sang mama bersedekap duduk di sofa ruang tamu menunggu kepulangannya.
"Kenapa.. kamu kalah?"
"I-iya, maaf ma Senan.."
Ucapan Senan tidak terselesaikan karena ia sangat terkejut saat sang mama langsung memegang tangannya dan menyeretnya ke belakang menuju gudang, Senan di kurung disana, dalam keadaan gelap, berdebu juga dengan atap gudang itu yang bocor sehingga hujan yang turun bersamaan dengan ia yang di kurung pun merembes ke gudang itu.
"Ma buka pintunya, Senan takut disini gelap ma." teriaknya sembari mengetuk-ngetuk pintu gudang, ia menangis disana, Senan takut dan di saat itu pula petir menyambar dengan kerasnya membuat Senan bertambah ketakutan di dalam gudang itu.
Senan menangis memeluk tubuhnya yang ringkih saat mendengar suara petir bersahut-sahutan, Senan menangis dengan kencang, menutup telinganya seakan tak ingin mendengar apapun.
Senan tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar bisa keluar dari gudang gelap itu, Senan kembali ingin berdiri dan mencoba kembali membuka pintu, tetapi sebelum itu terjadi Senan seperti menyentuh sesuatu yang tipis berada di lantai gudang itu.
Sebuah potongan cutter yang sudah sedikit berkarat, Senan mengerjap menatap benda itu, pikirannya yang takut dan kacau balau saat itu mendorongnya untuk menyakiti dirinya sendiri dengan menggunakan potongan cutter itu.
Senan yang saat itu masih berusia 9 tahun mengarahkan cutter itu ke pahanya sendirinya dan menyayat pahanya hingga mengeluarkan darah, Senan yang melihat darah merembes dari pahanya bukannya takut, ia malah tersenyum melihat darah itu mengalir dengan deras. Pandangannya perlahan mengabur dan lama kelamaan menjadi gelap gulita, suara hujan deras di sertai petir menyambar tidak lagi terdengar di rungu Senan.
"Semoga di kehidupan lain, aku lebih bahagia dari kehidupan sekarang."
Obsesi menyakiti dirinya sendiri itu bahkan terus menerus hadir saat dirinya lelah dengan kehidupan yang selalu membeda-bedakan nya dengan anak lain, di tuntut untuk selalu menjadi yang terbaik. Bahkan Senan kecil yang waktu itu masih duduk di kelas 4 sering mendapatkan perlakuan tak wajar di sekolahnya, ia di bully, bahkan pernah di telanjangi oleh teman-teman sekelasnya hanya karena tidak mau membayari uang kas teman-temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suddenly; Bl [End]
RomansaBL 18+ Suddenly? Pendapat kalian tentang judul cerita ini tuh apa? Suddenly kan artinya tiba-tiba tuh, apakah kalian berpikir.. Tiba-tiba mendapat uang segepok di jalan begitu? Atau tiba-tiba menjadi anak yang di sayangi orang tua atau guru di seko...
![Suddenly; Bl [End]](https://img.wattpad.com/cover/330541708-64-k230290.jpg)