Bab 22- Nakal

489 38 5
                                        

Tinggalkan vote dan komentar untuk menghargai author.

•••

"Oke, ini rem, ini kopling, inget koplingnya sebelah kiri, kalo ini.." Jordan terus menjelaskan bagian-bagian dari motor sebelum ia mengajari Senan cara mengendarai nya.

"Udah paham?" tanya Jordan selesai menjelaskan semuanya pada Senan dengan Senan yang mengangguk mengerti.

"Yaudah idupin motornya, biar gue ajarin." suruh Jordan, Senan pun segera menaiki jok depan motor dan segera menstater motor besar Jordan seperti yang di jelaskan dan di praktikkan oleh Jordan tadi.

"Kakak pegangin, nanti jatuh motornya." rengek Senan membuat Jordan segera memegangi motornya dengan Senan yang kembali menstater.

Setelah motor hidup dengan usaha Senan yang tidak membuahkan hasil sama sekali dan berakhir di bantu oleh Jordan yang sekarang seperti sumbu pendek, setelahnya Jordan naik ke jok belakang motor sembari ikut menyangga kan kakinya ke tanah walaupun ia sedikit menjinjit karena tinggi dari jok belakang motor nya.

"Masukkan gigi, tarik koplingnya dulu, baru gas pelan-pelan." jelas Jordan lagi dengan sabar mengajari Senan yang dari seminggu lalu terus merengek minta di ajari naik motornya, setelah selama seminggu ia abaikan permintaan itu dengan Senan yang terus merengek tiap harinya. Dan hari ini pun Jordan akhirnya mengajari Senan dengan sabar.

"Yeay.. bisa! Gue bisa naik motor yuhu!" ucap Senan kegirangan dengan stang motor yang grogi ke kanan dan ke kiri membuat Jordan was-was.

"Ra fokus dulu nanti kita jatuh." ucap Jordan memperingatkan.

Senan pun kembali fokus mengendarai motor besar itu pelan-pelan mengelilingi sekitaran gedung apartment mereka, dengan Jordan yang terus membantu menjelaskan bagaimana caranya menaikkan atau menurunkan gigi dan juga bagaimana caranya berhenti dengan kaki pendek itu. Terdengar seperti body shaming, tetapi memang benar adanya.

"Kakak kok gak nyampe? Tadi kan nyampe walaupun jinjit, ini gimana berentinya kak? Gue masih mau idup, umur gue masih muda banget untuk mati.. kak gimana ini?" cerocos Senan yang panik membuat Jordan ikutan panik, ia pun menenangkan Senan yang panik setelah anak itu tenang, Jordan kembali mengajari untuk pelan-pelan menurunkan gas dan kopling lalu kakinya menyangga tanah dan berhasil, kaki Senan berhasil menggapai tanah walaupun jinjit dengan Jordan yang ikut menyangga kan kakinya ke tanah juga.

"Lo kalo kakinya gak nyampe tuh jangan panik, itu lo ada di dataran yang gak rata, santai aja bawanya jangan panik, lo juga bikin panik gue nanti." omel Jordan dengan Senan yang menampilkan deretan giginya yang rapi.

"Iya maaf, namanya juga panik. Lain kali gak lagi deh." ucap Senan tersenyum malu.

"Makasih udah di ajarin kakak," ucap Senan seperti anak kecil, bernada manja setelah lama terdiam.

"Hm.."

"Kak? Ke markas yuk, gue mau pamer kalo gue udah bisa naik motor lo hehe." ujarnya membuat Jordan sedikit was-was, ia hanya bisa mengernyit.

"Emang berani? Kita lewat jalan raya loh, lo belum cukup umur, ntar kita di tilang gue juga yang kena." ucap Jordan yang benar adanya, Senan masih enam belas tahun, empat bulan lagi baru tujuh belas, belum punya KTP dan SIM, kalo ketilang nanti bahaya, ia tidak ingin terus merepotkan Jordan.

"Yaudah kalo gitu lo aja yang bawa, ntar kalo udah deket baru gue yang bawa motornya."

🍂

Senan mengklakson dari jauh sebelum sampai di markas, berharap semua orang keluar dari markas itu dan melihatnya mengendarai motor besar milik Jordan.

Suddenly; Bl [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang