Bab 41- Ketauan

315 30 9
                                        

double update nih, awas aja sepi😏

Beberapa bulan kemudian.

Senan sedang makan di tempat makan pinggir jalan dengan Dewa yang menemaninya, Dewa sedari tadi sibuk memperhatikan Senan yang terlihat lahap sekali memakan bakso urat itu, katanya Senan ingin sekali makan bakso urat di pinggir jalan dekat dengan sekolahnya dulu.

"Dek, lo beneran udah pisah belum sih sama bang Jordan?" tanya Dewa yang masih menatap Senan yang sibuk makan. Pertanyaan itu membuat Senan yang ingin kembali menyuapkan kuah bakso kedalam mulut pun terhenti dan dengan malas ia menatap Dewa yang masih menatapnya.

"Bener kok, gue bahkan yang pertama kali tandatangani surat pisah itu. Nih liat cincinnya udah gak ada. Kenapa sih?" tanya Senan kembali memakan bakso hingga mulutnya menggembung lucu.

Dewa menggeleng tak habis pikir, "gak papa cuma kepikiran kok lo gak keliatan kayak orang patah hati gitu."

"Oh.. emang harus di tunjukin kalo gue lagi patah hati? Gue kan harus terlihat baik-baik aja, biar lo dan semua orang tau, kalo gue lebih kuat dari yang kalian kira." ucap Senan tersenyum dan kembali memakan baksonya.

Sudah dua bulan sejak penandatanganan surat cerai itu, kini Senan sudah tamat dari SMA nya dan sudah mulai mendaftarkan diri di kampus yang sama dengan anak-anak the Devils dan juga Jordan, Senan tidak jadi kuliah di luar negeri dan memilih untuk tetap berada disini. Senan hanya ingin menunjukkan kepada Jordan bahwa dirinya sekarang baik-baik saja tanpa lelaki itu.

"Gimana sama cebong lo? Masih bisa handle kan?" tanya Dewa menatap perut Senan yang terlihat masih rata dari luar pakaiannya.

Usia kandungannya juga sudah sepuluh minggu atau sudah masuk bulan ketiga dan perutnya juga sudah mulai menampakkan wujud kalau dirinya sedang hamil jika ia melepas pakaiannya, Senan yang di tanya seperti itu merengut.

"Cebong-cebong enak banget lo, ini anak gue bukan cebong."

"Iya maaf, oh iya seminggu lagi lo daftar ulang kan? Mau bareng gak sama yang lain juga?" tanya Dewa membuat Senan menatap horor dirinya.

"Lo gak kasih tau keadaan gue sekarang sama siapa pun kan?" tanya Senan menatap lekat Dewa.

"Belum,"

Hal itu membuat Senan menghela nafas lega, selain dirinya dan Jordan, Dewa juga mengetahui keadaannya waktu Dewa mengantarnya ke rumah sakit. Bahkan orang tuanya sendiri tidak ia beri tahu, hanya perpisahannya dengan Jordan yang Senan beritahu. Yang lain biarlah tetap menjadi pikiran Senan sendiri, orang tuanya tidak boleh tahu.

"Kak Jordan masih sering liatin kalian kan kalo di markas?" tanya Senan penasaran menatap Dewa yang juga sedang menyeruput es teh nya.

"Jarang cuma sekali itu doang, itu juga dia bawa pelakornya, gak ada yang suka sama dia, dihati kita queen the Devils tetep lo gak ada yang lain dan gak akan diganti lagi." kata Dewa menceritakan kejadian dua minggu lalu, waktu Jordan datang membawa perempuan yang menjadi selingkuhannya, dulu.

"Kenapa gitu? Gue kan udah bukan istrinya kak Jordan lagi."

"Gak sreg aja liat tu cewek, gak tau deh isi pikiran lakik lo gimana?"

"Suttt jangan ngomong gitu, kak Jordan kan gak tau apa-apa, dia cuma lagi di guna-guna doang sama si doi." ucap Senan membela Jordan yang bahkan dirinya juga tidak tahu kenapa ia membela Jordan.

"Nah itu.. itu kalo bang Jordan sadar dari guna-guna nya, dan tau kalo dia udah pisah sama lo gimana?" tanya Dewa membuat Senan mengedikkan bahunya tanda tak tahu.

..🍂..

Kini Senan di ajak oleh Dewa ke markas the Devils hanya untuk memenuhi keinginan anak-anak yang merindukan Senan kembali bergabung dengan mereka.

Suddenly; Bl [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang