Bab 15- Ikatan

442 40 9
                                        

Tinggalkan vote dan komentar.

•••

Senan sedang menunggu sang papa untuk menjemputnya di ruang rias, hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh kedua orang tua mereka, mama papa, bunda dan ayah Jordan.

Seharusnya di saat ada kesempatan seperti ini Senan bisa kabur dari pernikahan ini, ya. Dulu pemikirannya seperti itu, tetapi setelah melihat bundanya Jordan yang sangat menanti-nanti hari ini tiba, Senan jadi takut mengecewakannya.

Umur enam belas tahun, menikah dan di jodohkan ah bukan di jodohkan melainkan permintaan seorang anak kecil yang di seriusin oleh orang tuanya. Apa yang bisa di banggakan? Jawabannya, tidak ada.

Kak Songkang, maafin adek, adek gak bisa nikah sama kakak nanti.

"Senan, ayo.. Jordan udah nunggu di altar." kata sang papa masuk dan memegang pundaknya membuat Senan tersenyum dan mengangguk lalu berdiri dan mengikuti sang papa keluar dari ruang penata rias.

Para tamu hadirin yang sedikit, karena mereka mengadakan acara pernikahan ini secara privat dan tertutup, bahkan teman-teman geng mereka yang mengetahui mereka akan menikah hari ini tidak mereka undang demi menjaga privasi.

Lihatlah, di altar sana Jordan sedang menunggunya lengkap dengan senyumannya, Senan baru menyadari Jordan kalau di lihat-lihat tampan juga dan seharusnya yang menunggunya disana adalah kak Songkang bukan kak Jordan. Tapi kenapa takdir menuliskan nama kak Jordan bukannya nama kak Songkang.

Saat Senan berdiri di hadapan Jordan, dengan Jordan yang tersenyum entah itu senyuman nyata atau palsu, Jordan memegang kedua tangannya.

"Lo siap?" tanyanya pelan nyaris berbisik dengan Senan yang langsung tersenyum dan mengangguk.

Setelah menjalani serangkaian proses upacara pernikahan dan mengucapkan janji suci sehidup semati, kini tiba acara penyematan cincin yang sebelumnya pernah di pakai oleh keduanya saat masih berstatus tunangan, keduanya sepakat untuk tidak mengganti cincin itu karena cincin yang akan disematkan itu mempunyai banyak cerita tersendiri bagi keduanya dan kini cincin itu kembali mengulang sejarah. Jordan mengambil kembali cincin itu dari kotak beludru dan memasangkannya pada Senan begitupun sebaliknya, tanpa adanya kekerasan seperti pada saat pertunangan mereka membuat ikatan tak kasat mata yang mengikat keduanya.

Kini Jordan dan Senan telah di umumkan resmi menikah. Dan mereka berhak menunjukkan cinta mereka dengan cara berciuman dihadapan para tamu dan para orang tua mereka, hal yang paling Senan benci adalah mengumbar yang seharusnya menjadi privasi antara dirinya dan Jordan. Tetapi tetap di lakukan oleh keduanya.

Jordan menarik pinggang Senan pelan menggunakan tangan kirinya agar mendekat padanya, dengan tangan kanan yang memegang dagunya seraya berkata "gak papa ya, kali ini doang?"

Senan pun mengangguk.

Jordan menempelkan bibirnya pada kening Senan membuat para hadirin kecewa melihat hal itu, Senan yang tadi sudah memejamkan matanya kini membuka lagi matanya saat merasakan bibir Jordan yang menempel pada keningnya. Cukup lama Jordan mencium kening Senan, sampai akhirnya ia menyudahinya, Jordan menatap Senan yang sudah menatapnya dengan pandangan bertanya. Lalu Jordan kembali menempelkan bibirnya pada bibir Senan, membuat Senan terkejut karena Jordan melakukannya tanpa aba-aba menghasilkan suara riuh tepuk tangan dari para hadirin yang datang, bahkan ada yang sampai bersiul.

Karena dengan berciuman akan menjadi penutup acara ini dan selesailah semua prosesi acara pernikahan.

Kini keduanya berada penthouse yang pernah mereka singgahi waktu hujan turun malam itu dan saat Senan kelelahan akibat ujian, hening menjadi dominasi suasana penthouse. Entah kenapa keadaan menjadi canggung setelah keduanya di tinggal oleh orang tua mereka disini.

Suddenly; Bl [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang