Tinggalkan vote dan spam komentar ya.
Mengurus segala keperluan orang sakit seperti pakaian, bahkan orang sakit itu sendiri, belum lagi izin pulang ke dosennya sendiri membuat Mada kerepotan. Awalnya juga Jordan menolak untuk pulang dalam keadaan seperti itu, tetapi setelah di paksa oleh Mada akhirnya Jordan mengiyakan dengan terpaksa.
Sebenarnya Jordan hanya tidak ingin merepotkan Senan di rumah, mengingat kejadian terakhir di penthouse siang itu sudah cukup menyayat hatinya.
Jordan yakin Senan masih kecewa padanya, buktinya sampai saat ini pesan yang ia kirimkan ke Senan terpantau belum di buka oleh si kecil.
Jordan menghela napas berat sebelum ia menatap kearah Mada yang sedang membereskan baju-baju nya kedalam tas, Jordan tersenyum kecil saat pikirannya terlintas Senan yang malam itu membereskan baju-baju nya kedalam tas sebelum kejadian itu terjadi.
"Ngapa lo senyam-senyum ngeliatin gue? Suka lo sama gue?" tanya Mada yang sedari tadi melihat aktivitas Jordan lewat ekor matanya.
"Najis! Gue masih pengen dada semok nya bocil ya, jangan sembarangan ngomong lo." ucap Jordan dengan lemas karena ia masih belum cukup tenaga untuk meladeni bacotan Mada.
"Tmi najis! Ternyata lo mesum kalo sama bini lo, btw itu termasuk pedofil gak sih?" tanya Mada asal.
"Senan udah tujuh belas tahun Mad, pedo itu di peruntukkan bagi yang usianya kurang dari enam belas tahun."
"Sama aja, lo kan lebih tua dari si bocil. Berarti lo pedo karna lo membayangkan aktivitas seksual sama bocil."
"Ngapain gue bayangin kalo gue bisa lakuin sama bocil? Sepongannya aja mantep." ucap Jordan membuat Mada terbelalak.
"Oke mulai tmi gak jelas, gila lo Dan."
"Lo iri karna gak bisa ngelakuin sama Garra, coba deh lakuin sekali-kali gue jamin Garra juga gak bakal nolak lo." saran Jordan dengan suara yang masih sama lemasnya dengan yang tadi.
"GAK! Gila lo." tolak Mada.
"Gue yakin, sekarang ini lo sakit karna kangen sama Senan. Karna sebelumnya mau lo pisah pulau sekalipun gak bakalan sakit, karna gue kenal lo gak gampang sakit orangnya." lanjut Mada membuat Jordan terlihat seperti berpikir.
"Iya mungkin, kan gak salah kalo kangen sama bini sendiri."
"Emang gak salah, cuma lo nyadar gak sih? Secara gak langsung lo sama Senan tuh terikat, bukan cuma terikat pernikahan tapi hati dan perasaan lo juga. Saran gue sih, jangan pernah lepasin dia apapun keadaannya karna selain Senan, lo juga bakal sakit sendiri nantinya."
🍂
Di penthouse, Senan sedang cemas memikirkan sang suami yang sedang sakit dan jauh dari jangkauan nya. Berbagai pikiran buruk bergantian masuk bergilir di kepala, mulai dari Jordan sampai omongan kedua abang-abangan nya semalam, Dewa dan Ozan.
Memutuskan untuk melupakan sejenak tentang suaminya, Senan berjalan ke kamar mandi, ia bermaksud ingin berendam sekaligus merilekskan pikiran. Mungkin agaknya Senan bisa melupakan sejenak pikiran tentang obrolannya tempo lalu dengan Jordan.
Tangannya meraih ponsel yang ia letakkan tak jauh dari bathup, setelah menimbang-nimbang, ia memilih untuk membaca dan membalas pesan Jordan.
Setelah selesai berendam, Senan menatap penasaran pantulan tubuhnya dari cermin yang masih terbalut handuk kimono. Senan berjalan maju dan mundur, lalu perlahan ia menatap perutnya yang datar, ia mengelusnya perlahan dan bergumam "emang beneran bisa ya?"
Lagi, ia menatap pantulan dirinya dari cermin. Kali ini ia menatap pada lekuk tubuhnya yang seperti perempuan kalau kata Jordan, "bagus dan montok kayak biasanya, kalo beneran bisa hamil, pasti badan gue jelek nanti dan si Jordanjing itu pasti bakal nyari simpenan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Suddenly; Bl [End]
RomanceBL 18+ Suddenly? Pendapat kalian tentang judul cerita ini tuh apa? Suddenly kan artinya tiba-tiba tuh, apakah kalian berpikir.. Tiba-tiba mendapat uang segepok di jalan begitu? Atau tiba-tiba menjadi anak yang di sayangi orang tua atau guru di seko...
![Suddenly; Bl [End]](https://img.wattpad.com/cover/330541708-64-k230290.jpg)