10

1.8K 40 0
                                        

Keesokan harinya, Zara akhirnya membeli celana dalam yang diminta pria itu. Namun, bukannya memilih yang sederhana, ia justru memilih model yang paling mencolok—warna hitam dengan motif hati kecil-kecil di seluruh permukaannya, lengkap dengan tulisan besar di bagian pinggang yang berbunyi, “I’m Sexy”. Ia tersenyum miring saat membayangkan reaksi pria itu nanti.

Beberapa jam kemudian, paket itu tiba di kantor pria tersebut. Tidak butuh waktu lama bagi Zara untuk menerima panggilan darinya.

"Zara! Apa-apaan ini? Kau benar-benar membelikanku celana dalam yang seperti ini?!" serunya dengan nada setengah kesal. Namun, tawa yang tertahan jelas terdengar di ujung kalimatnya.

Zara menahan tawa sambil membalas dengan santai, "Bukankah kau minta yang seksi? Menurutku itu cukup seksi." Ia sungguh puas dengan reaksi pria itu.

"Seksi? Ini memalukan! Kau tahu aku membuka paket ini di depan rekan kerja? Sekarang semua orang memanggilku Mr. Sexy Boxer!" keluhnya dengan nada dramatis yang berlebihan.

Zara tertawa geli, merasa puas dengan reaksinya. "Salahmu sendiri yang meminta barang aneh seperti itu dariku. Aku hanya memenuhi permintaanmu. Nah, sekarang rasakan giliranmu dibuat malu!"

"Aku tidak percaya kau tega melakukan ini padaku. Zara, kau benar-benar...", kali ini dengan nada yang terdengar seperti seorang aktor sinetron yang terlalu mendalami perannya.

"Oh, jangan drama, Mr. Sexy Boxer. Lagipula, memalukan apa? Itu hanya celana dalam," balas Zara sambil menahan tawa.

Pria itu terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata dengan nada serius yang sedikit menggoda, "Baiklah, Zara. Kau menang kali ini. Tapi ingat, aku akan membalasnya. Tunggu saja kejutan dariku."

Zara mengangkat alis, merasa penasaran sekaligus waspada. "Terserah kau saja. Yang penting jangan menyusahkan aku lagi! Atau kau merasakan akibatnya."

"Tenang saja, Sayang. Aku sudah punya rencana besar. Kau pikir kau bisa terus menang dariku? Tunggu saja," balasnya dengan nada penuh misteri sebelum menutup telepon.

Setelah panggilan itu berakhir, Zara duduk di sofa sambil tersenyum terbahak-bahak. Ia bisa membayangkan pria itu di kantornya, mencoba menahan muka di depan rekan-rekannya yang terus menggoda. Ia puas sekali. Sangat puas.

Sementara itu, di kantornya, pria itu duduk dengan ekspresi campur aduk. Celana dalam bermotif hati-hati itu masih tergantung di tangannya, dan ia memandanginya sambil bergumam, "Dia ini benar-benar keterlaluan."

Namun, perlahan, senyumnya muncul. Ia menyimpan celana dalam itu di laci mejanya dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang melihat, lalu menghela napas panjang. "Tapi tunggu saja, Zara. Ini belum selesai."

***

Beberapa hari kemudian, Zara yang sedang sibuk dengan pekerjaannya menerima pesan dari kurir bahwa sebuah paket telah sampai. Ia membuka pintu dan mendapati sebuah kotak besar yang didekorasi dengan pita merah terang.

"Kotak apa ini?" gumamnya sambil membawa kotak itu ke dalam. Ia membukanya perlahan dan langsung terkejut melihat isinya.

Di dalam kotak itu, ada sebuah boneka besar berbentuk celana dalam bermotif sama dengan yang ia belikan untuk pria itu—hitam dengan hati kecil-kecil dan tulisan “I’m Sexy”. Boneka itu tampak tersenyum nakal dengan jubah kecil di belakangnya.

Zara langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon pria itu. "Kau pikir ini lucu?!" serunya begitu panggilan tersambung.

Pria itu tertawa di ujung sana. "Lucu? Sangat lucu! Aku bahkan memesan khusus. Kau tahu, Zara, sekarang kau punya maskot untuk semua ide gilamu."

"Aku tidak percaya kau benar-benar melakukan ini!" Zara mendengus kesal.

"Kau mulai duluan, Sayang. Ini hanya pembalasan kecil. Tapi kau harus akui, boneka itu sangat cocok untukmu."

"Awas kau! Dasar pria kurang ajar!" balas Zara yang naik pitam.

Pria itu tertawa lebih keras. "Tenang saja, boneka itu bisa jadi teman tidurmu. Kalau kau kesepian, cukup peluk dia dan bayangkan aku di sana."

"Berhenti bercanda? Atau aku akan membuang ini ke tempat sampah!"

"Buang? Kau tidak tega. Lagipula, aku tahu kau tidak bisa hidup tanpa aku... atau kekonyolanku," balas pria itu dengan percaya diri.

Zara mendesah panjang sambil membuang hadiah itu. "Dasar pria gila," gumamnya sebelum menutup telepon.

Ia semakin stress menghadapi pria itu.

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang