11

1.5K 44 0
                                        

Pagi itu, Zara dan pria itu mampir ke sebuah toko roti kecil yang terkenal di kota. Zara sudah mendengar banyak tentang croissant almond dan ia ingin mencobanya langsung. Dengan semangat, ia menatap etalase kaca, memandangi berbagai macam roti dan kue yang dipajang rapi.

Sementara itu, pria itu berdiri di belakang Zara, memainkan ponselnya tanpa minat besar pada roti atau kue. Namun, semua berubah ketika seorang pria asing muncul di samping Zara.

Pria asing itu tinggi, berpenampilan rapi, dan membawa aura percaya diri. Ia menyapa Zara dengan senyum lebar, "Permisi, kalau boleh saran, croissant almond di sini benar-benar luar biasa. Kau harus mencobanya."

Zara menoleh, sedikit terkejut, tetapi ia membalas dengan ramah. "Oh, terima kasih. Aku memang sedang mempertimbangkannya. Jadi, itu favoritmu?"

Pria itu mengangguk. "Iya, aku sering ke sini. Rasanya tidak pernah mengecewakan. Kau baru pertama kali ke sini, ya?"

Zara mengangguk sambil tersenyum sopan. "Benar. Aku dengar tempat ini cukup terkenal."

Pria itu tampak antusias. "Oh, tentu saja. Kalau kau suka kue-kue Eropa, ini tempat yang pas. Aku juga merekomendasikan pain au chocolat mereka."

Pria itu yang berdiri di belakang Zara langsung mendongak dari ponselnya. Tatapannya tajam, tetapi ia tetap diam, memilih mengamati situasi dulu.

"Ah, terima kasih atas rekomendasinya," balas Zara santai.

Pria asing itu terus melanjutkan, "Oh, dan mereka juga punya kouign-amann yang luar biasa. Kalau kau suka sesuatu yang manis dan buttery, kau harus mencobanya juga."

"Kau sepertinya sangat ahli tentang tempat ini."

Pria itu tersenyum. "Aku suka mencoba banyak tempat roti. Kebetulan tempat ini salah satu favoritku."

Sampai di titik ini, pria itu yang berdiri di belakang Zara sudah tidak tahan lagi. Ia mendekat, berdiri di sebelah Zara, dan menatap pria asing itu dengan dingin. "Dia hanya ingin memilih croissant, bukan diwawancarai soal menu," katanya datar.

Zara meliriknya sekilas, merasa aneh dengan nada bicaranya, tetapi tidak terlalu mempermasalahkan. Pria asing itu tampak sedikit terkejut, tetapi dengan cepat menyembunyikan rasa tidak nyamannya.

"Maaf, aku hanya ingin membantu," katanya, tetap dengan senyumnya yang sopan.

"Terima kasih, tapi kami tidak membutuhkan bantuan," balas pria itu tanpa basa-basi. Ia kemudian menatap Zara. "Sudah selesai memilih?"

Zara mengernyit, bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba tegas. "Aku masih melihat-lihat. Kau kenapa?"

"Tidak apa-apa. Hanya merasa kita tidak perlu terlalu lama di sini," jawabnya, sambil terus menatap pria asing itu dengan tajam.

Pria asing itu merasa situasinya semakin tidak nyaman, jadi ia melangkah mundur sambil berkata pada Zara, "Baiklah, semoga kau menikmati kunjunganmu ke sini. Dan coba kouign-amann mereka kalau ada kesempatan."

Zara tersenyum sopan. "Terima kasih."

Begitu pria asing itu pergi, pria itu menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Zara menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Ada apa denganmu?" tanyanya, masih bingung dengan sikapnya.

"Aku hanya tidak suka orang yang terlalu banyak bicara," jawabnya santai, tetapi tatapannya masih mengarah ke pintu tempat pria asing itu keluar.

"Dia hanya ramah, tidak ada yang salah," kata Zara sambil kembali memperhatikan etalase.

Pria itu tidak menjawab, hanya menatap Zara yang tampak tidak menyadari bahwa tadi ia sedang cemburu. Sebaliknya, Zara sibuk memutuskan kue mana yang akan ia beli, tanpa menyadari bahwa ada ketegangan yang baru saja terjadi.

"Aku ambil croissant almond dan pain au chocolat," ujar Zara akhirnya.

Pria itu mengangguk tanpa banyak bicara, tetapi dalam hatinya ia masih merasa kesal. Ia tahu pria asing tadi tidak sekadar ramah. Ia tahu tatapan pria itu lebih dari sekadar memberi rekomendasi roti. Namun, Zara tampak benar-benar tidak menyadarinya.

Setelah memesan, Zara menoleh ke pria itu, "Kenapa wajahmu seperti itu?"

"Tidak," jawabnya pendek.

Zara mengangkat bahu dan kembali sibuk memeriksa pesan di ponselnya. Pria itu hanya bisa menghela napas, memikirkan betapa lugunya Zara. Lain kali ia akan menemani gadis itu walau hanya sekedar memilih manik-manik. Gadis cantik memang rawan sekali digoda.

Saat mereka keluar dari toko roti, pria itu akhirnya bersuara, "Lain kali, kalau ada orang asing yang terlalu ramah, kau tahu harus bagaimana, kan?"

Zara menatapnya dengan bingung. "Apa maksudmu?"

"Ya, kau tahu. Jangan terlalu terbuka. Tidak semua orang punya niat baik," jawabnya dengan nada pelan, sambil membuka pintu mobil untuk Zara.

Zara mengernyit lagi, masih tidak mengerti. "Kau ini aneh sekali. Dia hanya bicara soal kue."

"Ya, soal kue," gumamnya sambil masuk ke dalam mobil.

Zara mengangkat bahu lagi, merasa pria itu sedang dalam suasana hati aneh. Sementara itu, pria itu dalam hati hanya bisa tersenyum kecil sambil memandang Zara yang masih asyik menikmati croissant-nya, tanpa tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.

***

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang