31

916 35 0
                                        

Zara menatap French dengan tatapan bingung, bukan karena ketakutan setelah nyaris tertabrak, tapi karena sesuatu yang lebih dalam—keterkejutan yang bercampur dengan emosi yang sulit ia pahami. Setelah semua kata-kata tajam yang dilontarkan pria itu di kantin tadi, Zara tidak menyangka French masih akan menyelamatkannya, bahkan dengan segenap kepedulian seperti ini.

"Apa?" gumam Zara akhirnya, suaranya terdengar sedikit gemetar, namun lebih karena kebingungan daripada kelemahan.

French, yang masih menggenggam lengannya, mendengus sambil melepas genggamannya. "Apa apanya? Kau pikir aku akan membiarkanmu celaka hanya karena kita bertengkar tadi?" Tatapannya intens, namun ada sesuatu yang lunak di dalam mata gelapnya yang membuat Zara tidak bisa mengalihkan pandangan.

Zara menggeleng pelan, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. "Aku tidak minta diselamatkan," katanya akhirnya, meski suaranya terdengar lebih defensif daripada yang ia maksudkan. "Aku hanya... terkejut."

"Ya, kau terkejut, tapi itu tidak mengubah fakta kalau kau hampir celaka. Aku tidak peduli seberapa keras kepala kau mencoba terlihat kuat, Zara. Aku tetap tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kau dengar itu?"

"Aku tidak lemah, French," Zara membalas dengan nada yang lebih tegas, menyilangkan tangannya di depan dada. "Aku hanya... terlalu sibuk memikirkan sesuatu tadi. Itu bukan berarti aku butuh—"

French mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat Zara menelan kata-katanya. "Butuh apa? Aku? Kau bisa membantah sesukamu, Zara, tapi kau tahu aku akan selalu ada di sini. Meski kau membuatku gila dengan caramu menghilang dan sekarang hampir tertabrak sepeda."

Zara terdiam sejenak, matanya bertemu dengan tatapan tajam French yang seolah tidak membiarkannya lari dari kenyataan. Ada kemarahan di sana, tapi juga sesuatu yang lebih hangat, lebih tulus, yang membuat Zara merasakan dorongan aneh di dadanya.

"Kenapa kau peduli?" akhirnya Zara bertanya dengan suara lirih. "Setelah apa yang aku katakan tadi..."

French menghela napas panjang, membuang pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Zara. "Aku peduli karena aku tidak bisa tidak peduli, Zara. Sesederhana itu."

Kata-kata itu menusuk Zara dengan cara yang tidak ia duga. Ia ingin membalas dengan sesuatu yang tajam, ingin mempertahankan temboknya, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Akhirnya, ia hanya bisa mengangguk pelan.

"Oke," gumam Zara akhirnya.

Kali ini, Zara tidak berdebat. Ia menghela napas, membiarkan French membawa kantong belanjaannya, dan berjalan di sisinya. Dalam hati, ia masih mencoba memahami apa yang sebenarnya ia rasakan—terutama tentang pria yang tidak pernah berhenti mengejutkannya.

***

French berjalan di samping Zara, memegang kantong belanjaan di tangannya dengan santai. Mereka sudah sampai di depan apartemen Zara.

Setelah beberapa langkah dalam keheningan, French akhirnya berbicara. "Jadi, mantanmu, huh?" suaranya terdengar pelan, tapi ada nada tajam yang menyelip di balik kata-katanya.

Zara langsung menoleh, alisnya terangkat. "Apa maksudmu?"

French menatapnya dengan pandangan yang penuh arti. "Pria tadi. Dia mantanmu, kan? Yang selingkuh itu?"

"Ya, dia mantanku. Tapi kenapa kau ingin tahu?"

French berhenti melangkah, memutar tubuhnya untuk menatap Zara langsung. "Karena aku tidak suka caranya melihatmu. Seperti dia masih punya hak atasmu, padahal dia sudah menyia-nyiakanmu."

Zara terdiam. "French, itu sudah lama sekali. Aku bahkan tidak memikirkannya lagi."

"Tapi dia memikirkanmu," balas French cepat. "Dan aku tidak suka itu, Zara. Kau layak mendapatkan seseorang yang tahu cara memperlakukanmu dengan benar, bukan pria yang menganggapmu hanya pilihan."

Zara tertegun. Meski ia merasa French sedang terlalu jauh masuk ke dalam urusannya, ia tidak bisa menyangkal ada kebenaran dalam kata-kata pria itu. "Aku juga tak akan pernah kembali padanya. Dia adalah bagian dari masa lalu, dan aku sudah selesai dengan itu."

"Bagus. Karena kalau dia mencoba sesuatu lagi, aku tidak akan tinggal diam."

"French, kau tidak perlu melakukan apa pun. Aku bisa mengurus diriku sendiri."

"Tentu saja kau bisa. Tapi itu tidak berarti aku akan diam saja kalau ada yang mencoba menyakitimu."

"Kau benar-benar terlalu percaya diri."

Pria itu tak menjawab. Ia memang pria yang sangat percaya diri.

"Apa kau benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti?"

French menoleh sekilas, menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. "Tidak, tidak akan pernah."

***

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang