Keesokan harinya, Zara melangkah keluar dari apartemennya dengan tenang. Matahari pagi menyinari wajahnya, namun ia tetap tampak tidak terpengaruh. Langkahnya ringan, raut wajahnya netral—seolah malam tadi tidak pernah ada. Tidak ada kotak, tidak ada liontin, tidak ada pesan yang menyusup diam-diam ke dalam pikirannya. Zara memilih untuk tidak memikirkan itu lagi.
Namun seolah semesta punya rencana lain, di ujung trotoar itu, French sudah menunggu. Bersandar santai di sisi mobil hitamnya, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Kemejanya putih, bersih, dan tergulung rapi hingga siku, rambutnya sedikit berantakan namun tetap terlihat sempurna. Tatapannya tajam seperti biasa, namun hari ini ada sesuatu yang berbeda—kelembutan yang hampir membuat Zara bingung.
“Pagi,” sapanya ringan begitu Zara mendekat, suaranya berat dan nyaris terdengar biasa, tanpa ada tanda-tanda intensitas yang biasanya ia bawa.
Zara menghentikan langkahnya sejenak, menatapnya sekilas sebelum kembali berjalan. “Pagi,” jawabnya datar, seolah keberadaan French tidak berarti apa-apa.
French hanya tersenyum kecil melihat reaksinya. “Tumpangan?” tanyanya, sambil membuka pintu mobil di sampingnya dengan gerakan santai. Tawaran itu terdengar biasa saja, seolah tak ada maksud tersembunyi.
Zara memutar bola matanya dengan malas. “Aku bisa pergi sendiri,” sahutnya cepat tanpa berhenti. Langkahnya tetap mantap melewati French.
“Tentu saja bisa,” jawab French sambil terkekeh pelan. Suaranya terdengar seperti angin pagi yang singkat namun tajam. “Tapi kau terlihat lebih lelah dari biasanya. Tidak tidur nyenyak semalam, huh?”
Zara langsung berhenti. Rahangnya sedikit mengeras, namun ia tidak langsung berbalik. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menoleh menatap pria itu. “Aku tidur nyenyak. Jangan merasa kau tahu segalanya tentangku.” Suaranya tenang, namun ketegasan di baliknya tak bisa diabaikan.
French tidak menjawab dengan cepat. Ia hanya berdiri di sana, menatap Zara dengan sorot mata yang sulit dibaca. Tatapannya bukan tatapan orang yang mencoba bermain-main, tapi juga bukan tatapan yang memaksa. “Aku hanya bertanya,” katanya akhirnya, bahunya sedikit terangkat. “Jangan terlalu memikirkannya.”
“Itu yang kau katakan?” tanya Zara tajam, lengannya kini terlipat di dada. “Setelah semalam?”
French menatapnya lebih lama kali ini, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang samar. “Aku sudah bilang, itu cuma kunci. Jangan diperbesar. Tidak ada yang perlu kau pikirkan terlalu jauh.”
Jawaban itu membuat Zara semakin kesal, namun ia berusaha tidak menunjukkannya. “French, kau melakukan sesuatu yang… aneh, lalu bersikap seolah tidak ada apa-apa. Kau pikir itu normal?”
French tidak menjawab seketika. Tatapannya berpindah ke Zara, dalam dan tajam, namun tetap dengan ekspresi tenang yang membuatnya sulit ditebak. “Mungkin bagi orang lain tidak. Tapi bagiku? Itu sederhana.”
“Sederhana?” ulang Zara dengan nada sinis. “Mengirim kotak dengan pesan berlebihan itu sederhana bagimu?”
French menghela napas pelan, langkahnya bergerak mendekat, namun tetap memberi jarak yang aman. “Zara,” ucapnya lembut, namun tetap tegas, “aku tidak akan pergi, dan aku tidak akan menyerah. Apa pun yang kau pikirkan, itu urusanmu. Tapi aku di sini bukan untuk mengganggumu. Aku hanya… ada.”
Zara menatapnya lama. Kata-kata French terasa begitu sederhana, namun justru itulah yang membuatnya semakin jengkel. Pria itu bicara seolah keberadaannya bukan beban, padahal nyatanya ia memenuhi seluruh ruang kosong dalam pikirannya.
“Kau keras kepala,” Ia berbalik, memilih untuk tak memperpanjang pembicaraan itu lagi. “Dan menyebalkan. Dasar pria gila tak tahu diri.”
French tersenyum kecil, meskipun Zara sudah tak melihatnya. “Sudah kubilang, itu tidak akan berubah.”
Zara melanjutkan langkahnya, tak menoleh sedikit pun.
Sementara French hanya berdiri di sana, melihat punggung Zara yang semakin menjauh. Ia tidak mengejar, tidak memaksa, hanya membiarkan Zara pergi.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Short Story"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
