Hari itu, Zara baru saja pulang dari pekerjaannya ketika ia menemukan selembar kertas yang terselip di sofa ruang tamu. Mata Zara terpaku pada hasil diagnosa medis yang tertulis di sana. "Kualitas sperma rendah." Kata-kata itu membuat hatinya mencelos. Tiba-tiba, banyak pertanyaan memenuhi pikirannya.
Ia memegang kertas itu erat-erat, mencoba memahami mengapa French tidak pernah memberitahunya. Selama ini, Zara tahu ada sesuatu yang salah. French semakin tertutup, terlihat lebih lelah, dan sering kali menghindari pembicaraan tentang anak. Namun, ia tidak pernah menduga ini.
Zara berjalan menuju kamar, mendapati French duduk di tepi tempat tidur dengan pandangan kosong. Ia membawa kertas itu ke hadapannya. "Apa ini, French? Kenapa kau tidak pernah bilang apa-apa?" suaranya bergetar, antara marah dan kecewa.
French terkejut. Ia tidak pernah berniat agar Zara mengetahui ini dengan cara seperti ini. "Zara... aku tidak ingin kau khawatir. Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri," katanya dengan nada penuh penyesalan.
Zara menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. "French, ini bukan sesuatu yang bisa kau sembunyikan dariku. Kita ini pasangan, seharusnya kita menghadapi ini bersama! Kau tidak bisa memikul ini sendirian."
French berdiri, tetapi ia tidak bisa menatap Zara langsung. Matanya mulai basah, dan suaranya pecah saat ia akhirnya berbicara. "Aku takut, Zara. Aku takut kau akan membenciku… atau meninggalkanku karena aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Kata-kata itu membuat Zara terdiam. Ia melihat pria yang selama ini menjadi tempatnya bersandar, sekarang berdiri di depannya dengan penuh keraguan dan rasa bersalah. Air mata French mulai mengalir, dan ia jatuh berlutut di hadapan Zara. "Maafkan aku… Aku hanya ingin kau bahagia. Aku takut aku tidak cukup untukmu."
Zara menatapnya, ia berlutut di depan French, menggenggam kedua tangannya erat. "Dengar aku, French. Tidak ada yang bisa membuatku meninggalkanmu. Kau adalah bagian dari hidupku. Dan aku mencintaimu lebih dari segalanya. Masalah ini adalah masalah kita, bukan hanya masalahmu."
French mengangkat wajahnya yang penuh air mata, melihat Zara yang menatapnya dengan penuh kasih. "Kau tidak akan meninggalkanku?" tanyanya dengan suara kecil.
Zara tersenyum tipis, meskipun air matanya juga mengalir. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, French. Aku berjanji. Kita akan melewati ini bersama, apa pun yang terjadi."
French memeluk Zara erat-erat, seolah-olah ia memeluk seluruh dunianya. Dalam pelukan itu, ia merasakan ketulusan Zara, cinta yang tidak akan pernah berubah. Malam itu, mereka berbicara lebih dalam tentang perasaan mereka, tentang rasa takut dan harapan. Bagi Zara, French adalah segalanya, dan ia akan selalu berada di sisinya.
Beberapa bulan berlalu, dan mereka mulai menjalani perawatan medis bersama. Meski tidak mudah, mereka terus saling mendukung.
Hari ulang tahun French tiba dengan suasana yang hangat. Zara memutuskan untuk merayakannya secara sederhana di rumah. Ia menghias meja makan dengan lilin kecil dan bunga segar, menciptakan suasana romantis. French tampak sangat senang malam itu.
Setelah makan malam, Zara meminta French duduk di sofa. "Aku punya sesuatu untukmu," katanya dengan senyum misterius sambil membawa sebuah kotak kecil yang terbungkus rapi.
French menatap kotak itu dengan bingung. "Sayang, kau sudah melakukan banyak hal untukku. Apa lagi ini?"
Zara hanya tersenyum. "Bukalah, aku yakin kau akan suka."
Dengan hati-hati, French membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah test pack dengan dua garis merah yang jelas. Mata French membelalak, dan ia menatap Zara dengan kebingungan. "Zara… apa ini? Ini… ini benar? Hamil? Apa.." suaranya gemetar.
Zara mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Ya, sayang. Aku hamil. Kita akan punya bayi."
French terdiam beberapa detik, seolah mencoba mencerna kabar itu. Kemudian, air mata mulai mengalir dari matanya. Tapi kali ini, bukan air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan yang tak terbendung. Ia menarik Zara ke dalam pelukannya, memeluknya erat.
"Ini nyata? Aku… aku pikir aku telah gagal... Aku pikir... aku akan kehilanganmu… aku.. ini.. ini seperti mimpi," katanya, suaranya serak.
Zara membelai punggungnya dengan lembut. "Aku mencintaimu, French. Aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkanmu. Kita telah melewati banyak hal bersama, dan sekarang kita punya hadiah terbesar dalam hidup kita."
French berlutut di hadapan Zara, meletakkan tangannya di perut Zara yang masih datar. Matanya penuh dengan rasa syukur. "Aku tidak tahu bagaimana aku bisa pantas mendapatkanmu. Tapi aku berjanji, aku akan menjadi suami dan ayah terbaik untuk keluarga kecil kita."
Zara tersenyum, air mata bahagia mengalir di pipinya. "Kita akan terus berjuang bersama, French. Apa pun yang terjadi."
Malam itu, mereka berbicara tentang masa depan dengan penuh harapan dan cinta. Semua rasa takut dan frustrasi yang pernah menghantui mereka kini tergantikan oleh kebahagiaan yang tak terlukiskan. Di tengah kehangatan malam, French menyadari bahwa cinta mereka adalah kekuatan yang akan membawa mereka melewati segala hal. Ia membuktikan bahwa memperjuangkan Zara adalah sebuah keputusan tepat.
TAMAT
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Short Story"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
