44

208 14 0
                                        

Sudah menjadi rutinitas. Di luar kafe, di sudut yang teduh, French berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, memastikan dirinya tidak terlihat oleh Zara. Dia memandangi Zara dengan penuh perhatian, tidak pernah ingin mengecewakan gadis yang ia cintai. Namun, saat itu, sesuatu yang tak terduga terjadi. Zara melihat seorang pria baru yang datang dan duduk di dekatnya, berbicara dengan santai dan terlihat nyaman dengan Zara.

Perasaan cemburu yang mendalam langsung melanda hati French. Ia melihat pria itu tertawa dengan Zara, berbicara dengan akrab, seolah mereka sudah lama mengenal satu sama lain. Meskipun pria itu terlihat tidak mengancam, French tidak bisa menahan perasaan tidak suka yang tiba-tiba muncul. Ada yang mengganggu dirinya, sesuatu yang lebih dari sekadar sekedar rasa cemas. Tak lama kemudian pria itu pamit pergi, ada urusan yang harus diselesaikan, Zara mengangguk mempersilahkan.

"Aku tidak akan membiarkan ini berlanjut," pikir French dengan penuh tekad. "Aku harus muncul, dia harus tahu siapa yang benar-benar ada di sini untuknya."

Tanpa ragu, French memutuskan untuk muncul dari persembunyiannya selama ini. Ia berdiri dengan tegap, dan masuk ke dalam kafe, langkahnya cepat namun penuh keyakinan. French melirik sinis pria yang pergi itu. Tak ada yang bisa menandinginya. French lah satu-satunya pria yang pantas bersanding dengan Zara.

Begitu French memasuki kafe dan mendekati meja Zara, gadis itu terlihat terkejut. Pandangannya langsung tertuju pada pria yang muncul tiba-tiba di hadapannya. Zara terdiam, mulutnya sedikit terbuka karena tak percaya. Apa yang sedang terjadi?

"French? Kau di sini?" Zara bertanya dengan suara pelan, tampak kebingungan.

"Ya, aku di sini, Zara," jawab French dengan senyum penuh makna. "Aku tidak bisa terus hanya mengawasi dari jauh. Ada hal-hal yang harus kutunjukkan padamu."

Zara menatapnya lebih dekat, matanya penuh pertanyaan. "Tapi... kau sudah di Boston? Sejak kapan?" Ia terdiam sejenak, berusaha menangkap gambaran apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia tidak tahu harus merasa terkejut atau senang.

French menarik kursi dan duduk di depan Zara, tetap menjaga tatapan penuh perhatian. "Aku sudah di sini beberapa waktu. Aku tahu ini mungkin mengejutkanmu, tapi aku harus memastikan kau baik-baik saja. Dan aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain."

Zara terdiam, mencoba mencerna kata-kata French. Hatinya terasa campur aduk.

"Apa yang kau lakukan di sini, French? Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu?" Zara bertanya, suara agak berat karena kebingungannya.

French menatapnya dengan tatapan lembut namun tegas. "Karena aku tidak ingin mengganggu kehidupan barumu, Zara. Aku ingin kau menjalani hidupmu tanpa merasa terikat, tapi aku juga ingin kau tahu bahwa aku ada di sini. Dan mengenai pria itu... aku tidak akan membiarkan siapapun mengacaukan kedekatan kita."

Zara menghela napas pelan, meskipun hatinya berdebar. "French, kau cemburu?"

French mengangguk perlahan, matanya menyiratkan perasaan yang tidak bisa ia sembunyikan. "Tentu saja. Aku tidak bisa membiarkan orang lain mendekatimu seperti itu. Aku tahu kau cukup kuat untuk menjaga dirimu sendiri, tapi aku tetap merasa perlu ada di sini untukmu."

Meskipun ia merasa sedikit terkejut dengan kehadiran French yang tiba-tiba, ia tak bisa menutupi rasa senangnya. Ia merasa aman, merasa dihargai, meskipun ada kebingungan yang tersisa.

"Kau selalu tahu bagaimana membuat kejutan, French."

French menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Aku akan selalu ada untukmu. Tidak peduli apa yang terjadi. Dan.. aku tak peduli jika kau mengusirku dari sini, aku akan tetap disini."

Zara menghela nafas pelan. Pria itu.. huh.. memiliki usaha yang sangat kuat, ia tak mungkin mengusirnya, "Aku senang kau di sini." Walaupun berat mengatakannya tapi itulah kenyataannya.

Mata French berbinar-binar mendengar pernyataan yang mengejutkan ini, "Benarkah? Maksudku.. aku.. kau senang? Apa berarti kau merindukanku?"

Zara tak menjawab.

"Kalau kau tak rindu denganku. Akulah yang merindukanmu... Apa.. aku boleh memelukmu, Zara?" tanpa persetujuan ia langsung memeluk gadis itu erat-erat.

"Aku merindukanmu, Zara. Selalu. Aku ingin memelukmu erat seperti ini ketika melihatmu," ucapnya teredam pelukan yang begitu memabukan.

Zaranya. Tak menolak? Astaga.. apa ia bisa menikahinya sekarang?

***

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang