30

1K 34 0
                                        

"Siapa itu Zara, sayang?" tanya Mamanya di depan pintu kantin.

"Hanya pria gila. Lupakan Ma. Aku akan pulang ke apartemenku sekarang," tuturnya dengan suara bergetar menahan emosi.

**

Zara berjalan keluar dari rumah sakit dengan napas yang masih sedikit berat setelah konfrontasinya dengan French. Ia mencoba menenangkan pikirannya dengan berjalan ke minimarket terdekat untuk membeli sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya. Langkah kakinya cepat, seperti ingin melarikan diri dari emosi yang baru saja meledak.

Sesampainya di minimarket, Zara mengambil keranjang dan mulai berjalan menyusuri lorong-lorong. Ia meraih sekaleng kopi dingin dari lemari pendingin, kemudian menuju bagian makanan ringan. Namun saat ia berbalik, langkahnya terhenti.

Dihadapannya berdiri seseorang yang tidak ingin ia temui, mantan kekasihnya, Si Tukang Selingkuh. Pria itu adalah kenangan pahit dalam hidup Zara—pria yang pernah ia percayai sepenuh hati, hanya untuk menemukan bahwa ia adalah seorang pembohong dan tukang selingkuh.

"Zara?" suaranya terdengar sedikit terkejut, tapi senyum kecil segera terbit di wajahnya. "Wow, ini benar-benar kau?"

Zara mengerutkan kening, tangannya mengencang di keranjang belanjaannya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku? Oh, aku baru pindah ke daerah ini. Dan kau? Lama tidak bertemu," katanya dengan nada ramah, seolah tidak ada hal buruk yang pernah terjadi di antara mereka.

Zara menatapnya dingin, mencoba menahan emosi yang kembali membara di dadanya. "Aku tidak tahu kau pindah ke sini. Dan, jujur saja, aku tidak peduli."

Pria itu tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Zara, kita sudah lama putus. Aku harap kau tidak masih menyimpan dendam."

Zara mengangkat alis, memandangnya dengan tajam. "Dendam? Tidak. Aku hanya tidak punya waktu untuk pria seperti dirimu. Jadi, kalau kau tidak keberatan, aku akan melanjutkan belanjaku."

Pria tampak sedikit terkejut, tapi ia cepat-cepat mengganti ekspresinya dengan senyum. "Kau tahu, aku selalu mengagumi semangatmu, Zara. Aku minta maaf untuk... apa yang terjadi dulu."

Zara terdiam sejenak, lalu mendekatkan wajahnya sedikit ke arah pria itu. "Maaf tidak mengubah fakta. Kau menghancurkan kepercayaan seseorang, dan itu tidak bisa diperbaiki hanya dengan kata-kata."

Ia melangkah melewati pria bajingan itu dengan kepala tegak, meninggalkan pria itu terdiam di tempat.

Namun, saat ia berjalan menuju kasir, Zara merasa perasaannya campur aduk. Pertemuan itu membangkitkan kenangan yang ia kira sudah terkubur, tapi juga memberinya kekuatan untuk mengingat betapa ia telah tumbuh lebih kuat sejak saat itu.

Tanpa disadari dari luar French memperhatikan keduanya.

Ia bergumam, "Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya.

"Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya."

Saat Zara keluar dari minimarket dengan belanjaannya, ia melihat sosok French berdiri, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Zara menghela napas dalam-dalam. "Tidak bisakah aku mendapatkan satu hari tanpa drama?" gumamnya pada dirinya sendiri sebelum melangkah pergi, mengabaikan tatapan intens pria yang masih mencoba masuk ke dalam kehidupannya.

Namun sebelum gadis itu pergi jauh French menarik tangan gadis itu dengan keras ke belakang. Kantong belanjaannya terjatuh ke tanah, bersamaan dengan sepeda yang melintas dengan cepat, nyaris menabraknya. Ia terkejut, jantungnya berdegup kencang.

Saat ia menoleh, Zara mendapati French berdiri di belakangnya, tangannya masih memegang erat lengannya. Wajah pria itu tegang, matanya menatap Zara dengan penuh kekhawatiran.

"Kau baik-baik saja?" tanya French, suaranya sedikit serak.

***

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang