Zara menatap tiket pesawat di tangannya, perasaan campur aduk memenuhi hatinya. Ia telah memutuskan untuk mengambil cuti mendadak dan pulang ke Turki. Kejutan ini sudah ia rencanakan sejak beberapa hari lalu, setelah percakapan telepon dengan Dada dan Mamanya. Mereka begitu merindukannya, dan meskipun ia berusaha keras menyembunyikan kerinduan yang sama, ia tahu ini saatnya untuk kembali.
Di ruang tunggu bandara, ia mencoba menenangkan dirinya. “Apa yang akan mereka lakukan ketika melihatku?” gumamnya sambil tersenyum kecil. Pesawat menuju Istanbul hampir siap berangkat, dan Zara merasa waktu berlalu begitu lambat.
Meninggalkan French, si pria gila nan menyebalkan itu.
***
Setibanya di Istanbul, Zara menarik napas dalam-dalam. Udara musim semi yang hangat menyambutnya, membawa aroma kota yang penuh kenangan. Dari bandara, ia naik taksi menuju rumah orang tuanya. Perjalanan singkat itu dipenuhi dengan rasa antusias dan sedikit gugup. Ia membayangkan ekspresi Mamanya yang penuh kehangatan dan Dada-nya.
Ketika taksi berhenti di depan rumah, Zara turun dengan koper kecilnya. Ia berdiri beberapa saat di depan pintu kayu besar yang sudah sangat familiar, merasakan desiran emosi yang tak bisa ia bendung. Ia mengetuk pintu dengan cepat, lalu mundur selangkah, menunggu.
Pintu terbuka beberapa detik kemudian, dan Mamanya muncul, mengenakan apron. Wajahnya penuh kejutan saat melihat siapa yang berdiri di depannya. "Zara?!" serunya dengan suara nyaring, matanya membelalak.
"Mama!" jawab Zara sambil tersenyum lebar.
Dalam sekejap, Mamanya menjatuhkan handuk yang dipegangnya dan langsung memeluk Zara dengan erat. "Oh sayang! Kau benar-benar di sini? Oh, Dada! Cepat ke sini, Zara pulang!"
Dada muncul dari ruang tamu, awalnya terlihat bingung sebelum senyum kecil muncul di wajahnya. "Zara... kau di sini," katanya dengan suara lembut.
Zara melangkah mendekat, memeluk Dada dengan erat. "Aku rindu kalian, Dada."
Dada menepuk punggungnya dengan lembut, suaranya terdengar penuh kasih. "Kami juga, sayang. Kami sangat merindukanmu. Rumah ini terasa sepi tanpamu."
Mamanya menarik Zara kembali ke pelukannya, menciumi pipinya dengan semangat sambil berbicara cepat, "Kenapa kau tidak bilang akan pulang? Bagaimana perjalananmu? Kau lapar? Oh, Mama harus memasak sesuatu yang spesial!"
Zara tertawa kecil, membiarkan Mamanya memanjakannya dengan pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi. Sementara itu, Dada menatap putrinya dengan ekspresi bangga dan penuh kehangatan.
"Kau tahu, Zara sayang. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihatmu kembali ke rumah," kata Dada sambil mengacak-acak rambut puterinya.
Zara tersenyum, hatinya terasa hangat. "Aku tahu, Dada. Karena itu aku di sini. Aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian."
Mamanya sudah sibuk di dapur, memasak sesuatu yang pasti akan membuat Zara tersenyum puas. Sementara itu, Zara duduk di ruang tamu bersama Dada, mendengarkan cerita tentang tetangga, dan kehidupan di Turki yang selama ini hanya bisa ia dengar melalui telepon.
“Dada, apa kabar pekerjaan?” tanyanya setelah mendengar panjang lebar tentang kegiatan sehari-hari keluarganya.
Dada mengangguk pelan. “Semuanya baik. Tapi Dada tidak peduli tentang itu sekarang. Yang penting kau di sini, Zara.”
Zara tertawa kecil, merasakan betapa besar cinta keluarganya. Mereka tidak pernah menuntut apa pun darinya, kecuali kehadiran dan kebahagiaan.
Saat makan malam, Zara duduk di meja sambil menikmati makanan yang sudah lama tidak ia rasakan. Mamanya tidak berhenti memperhatikan setiap suapan Zara, memastikan ia puas. "Bagaimana rasanya? Kau masih suka, kan?"
"Suka, Ma," jawab Zara dengan mulut penuh. "Ini lebih enak dari yang aku ingat."
Mereka menghabiskan malam dengan bercanda, tertawa, dan menceritakan banyak hal. Rumah yang tadinya sepi kini penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan. Zara merasa kembali ke tempat yang paling ia rindukan—tempat di mana ia dicintai tanpa syarat.
Sebelum tidur, Zara duduk di kamar lamanya, menatap langit malam dari jendela. Ia merasa damai, sesuatu yang jarang ia rasakan belakangan ini.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Zara merasa benar-benar pulang.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Короткий рассказ"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
