Keesokan harinya, Zara berusaha kembali pada rutinitas biasanya. Ia bangun pagi, menyiapkan sarapan sederhana, dan duduk di meja kecil dekat jendela sambil menatap kosong ke luar. Namun, secangkir kopi panas di tangannya tak mampu menenangkan pikirannya.
"Aku tak akan menyerah."
"Tak akan menyerah."
Kalimat itu terus terngiang-ngiang dalam benaknya. Bukan karena kata-katanya dramatis atau menyentuh, tapi karena itu French. Pria yang selalu konsisten dan keras kepala. Kata-katanya bukan sekadar bualan. Zara tahu itu.
Ia mendesah, meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar. “Menyebalkan.” Gumamnya keluar begitu saja. Ia tidak tahu siapa yang lebih menyebalkan—French yang selalu muncul dan hadir dalam hidupnya dengan intensitas yang tak pernah surut, atau dirinya sendiri yang tidak bisa benar-benar mengabaikan pria itu.
Beberapa jam kemudian, Zara sudah duduk di kantor, berusaha memusatkan pikirannya pada pekerjaan. Namun, fokus itu hanya bertahan sebentar sebelum ia kembali melamun. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Kenapa hanya dengan beberapa kalimat sederhana, pikirannya bisa diacak-acak seperti ini? Apa yang sebenarnya ia rasakan? Apa sebenarnya yang ia inginkan dari semua ini?
“Zara?”
Suara Maya lagi-lagi menyentaknya keluar dari pikiran. Rekan kerjanya itu berdiri di samping meja, memandangnya dengan alis terangkat. “Kau melamun lagi.”
“Aku tidak melamun,” bantah Zara cepat sambil kembali mengetik di laptopnya.
Maya mendesah, lalu duduk di kursi di depan Zara sambil menatapnya lekat-lekat. “Aku tahu ada sesuatu. Jangan berpura-pura lagi. Masalah itu masih tentang pria misteriusmu, ya?”
Zara berhenti mengetik sejenak, jari-jarinya melayang di atas keyboard. “Dia bukan pria misterius.”
“Tapi kau belum bilang siapa dia sebenarnya,” balas Maya cepat, suaranya penuh rasa penasaran.
Zara memejamkan mata sebentar, lalu mendesah panjang. “Dia… seseorang yang terlalu keras kepala untuk menyerah.”
Maya menaikkan alisnya lebih tinggi. “Keras kepala? Menyerah? Kedengarannya seperti pria itu… menyukaimu?”
Zara mendelik tajam ke arah Maya. “Aku tidak mau membahas ini.”
Namun Maya hanya tersenyum penuh arti. “Kalau kau tidak mau membicarakannya, berarti itu benar. Kau pasti merasa terganggu.”
Zara tidak menjawab, hanya kembali menatap layar laptopnya dengan ekspresi dingin. Namun, dalam hati ia tahu Maya tidak sepenuhnya salah. French memang mengganggunya—tapi bukan dengan cara yang bisa ia jelaskan.
Setelah jam kantor berakhir, Zara memutuskan untuk berjalan kaki pulang. Udara sore yang sejuk biasanya membantunya meredakan kepenatan, tetapi tidak kali ini. Setiap langkahnya terasa berat, pikirannya kembali dipenuhi bayangan French—tatapannya, ucapannya, bahkan kehadirannya yang tak pernah bisa ia abaikan.
Malamnya, Zara duduk di tepi tempat tidurnya lagi. Sama seperti malam-malam sebelumnya, pikirannya melayang tanpa tujuan. Ia memandangi liontin berbentuk kunci yang ia letakkan di atas meja. Benda itu kecil, namun memiliki kehadiran yang sama kuatnya dengan French. Zara mendesah pelan.
Zara kemudian berbaring, memejamkan mata, dan berharap ia bisa tidur nyenyak malam ini. Namun, ketika ia hampir terlelap, ponselnya bergetar pelan. Dengan malas, ia meraihnya dan melihat nama yang tertera di layar. French.
Setelah beberapa detik menimbang, ia akhirnya mengangkat telepon itu.
“Ya?”
“Tidur?” suara French terdengar lembut di seberang sana.
“Tidak,” jawab Zara singkat. “Apa yang kau mau?”
French terdiam sebentar sebelum menjawab. “Hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”
Zara mendengus. “Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu repot-repot memastikan.”
“Kalau kau benar-benar baik-baik saja, kenapa suaramu terdengar begitu lelah?” tanya French.
Zara memejamkan mata, menekan amarah kecil yang mulai muncul. “French, berhentilah bertindak seolah kau tahu segalanya tentangku.”
“Aku tidak tahu segalanya,” balas French cepat. “Tapi aku peduli, Zara. Itu tidak akan berubah.”
Kalimat itu membuat Zara terdiam. Selalu seperti ini—French dengan caranya yang tak tergoyahkan. Zara tahu ia tidak bisa memenangkan perdebatan ini, jadi ia memilih untuk tidak menjawab.
“Tidurlah,” lanjut French setelah beberapa saat. “Aku tidak akan mengganggumu lagi malam ini.”
Tanpa menunggu jawaban, French memutus panggilan. Zara menatap ponselnya lama, lalu meletakkannya di samping tempat tidur. French benar-benar menyebalkan, pikirnya. Namun di sisi lain, ia juga tahu satu hal pria itu selalu ada, dan itu jauh lebih menakutkan daripada yang ingin ia akui.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Conto"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
