French terduduk di ruang tamu, tubuhnya terasa berat seolah dunia telah runtuh di sekitarnya. Di atas meja, kertas hasil pemeriksaan medis masih tergeletak, menjadi pengingat pahit akan kenyataan yang harus ia hadapi. "Kualitas sperma rendah." Kalimat itu terus terngiang di kepalanya seperti hukuman yang tak terelakkan.
Selama bertahun-tahun, French selalu merasa dirinya adalah pria yang mampu mengatasi segala tantangan. Ia mencintai Zara dengan sepenuh hati, dan impiannya adalah membuat istrinya bahagia dalam setiap aspek kehidupan mereka. Namun, kenyataan bahwa ia mungkin tidak bisa memberikan anak kepada Zara menghancurkannya dari dalam. "Bagaimana kalau dia berpikir aku tidak cukup? Bagaimana kalau dia meninggalkanku untuk seseorang yang bisa memenuhi keinginannya?" pikirnya dengan kepala tertunduk.
Hari-hari berlalu dengan French yang semakin terpuruk. Ia menjadi pendiam, jarang menatap langsung ke arah Zara, dan sering menghindari percakapan yang terlalu dalam. Zara, yang selalu peka terhadap perubahan suaminya, tahu ada sesuatu yang tidak beres. Namun, setiap kali ia mencoba bertanya, French hanya memberikan jawaban singkat atau senyuman kecil yang terasa kosong.
Di dalam hatinya, French merasa malu. Ia takut mengakui kelemahannya kepada Zara, wanita yang selalu ia anggap sempurna. Ketika malam tiba, dan Zara telah tertidur, French sering duduk sendirian di ruang tamu dengan segelas air di tangannya. Ia menatap kosong ke arah dinding, mencoba mencari jawaban atas kebingungannya.
Pada suatu malam, rasa frustrasi itu memuncak. Ia membiarkan air matanya mengalir, sesuatu yang jarang ia lakukan. "Aku ingin jadi pria yang bisa memberimu segalanya, Zara. Tapi aku bahkan tidak bisa memberikanmu satu hal ini," bisiknya dengan suara penuh luka. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan isak tangis yang selama ini ia tahan keluar tanpa henti.
French mulai menarik diri lebih jauh. Ia sering keluar rumah lebih awal dan pulang larut malam, mencari pelarian dari perasaan bersalah yang menghantuinya. Namun, di setiap langkah, ia hanya semakin terjebak dalam pikirannya sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan Zara tahu. Aku harus menemukan cara untuk memperbaiki ini," pikirnya dengan penuh kegelisahan.
Zara, meskipun diam, terus mengamati perubahan pada suaminya. Ia merasakan jarak yang semakin besar di antara mereka, tetapi ia memilih untuk menunggu. Dalam hatinya, ia tahu bahwa ini adalah ujian bagi hubungan mereka, dan ia tidak akan membiarkan French menghadapi semuanya sendirian.
Pada suatu malam, Zara mendapati French duduk sendirian di ruang tamu dengan pandangan kosong. Ia mendekatinya dengan lembut, duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. "Apa yang kau pikirkan, sayang?" tanyanya dengan suara lembut.
French menggeleng, mencoba menyembunyikan rasa sakitnya. Namun, Zara tidak menyerah. "Aku ada di sini untukmu, French. Apa pun yang kamu rasakan, kita bisa melewatinya bersama."
"French please... kau tak bisa seperti ini terus."
French menggeleng tak menjawab. Ia memeluk tubuh istrinya erat. Zara menghela nafas pelan membalas pelukan pria itu. Perlahan pria itu meneteskan air matanya. Ia tak sanggup menahan. Ia menangis seakan menumpahkan segala ketakutakannya.
Zara membelai pipi suaminya yang basah dengan air mata. Ia mendekatkan wajahnya ke arah French, mata mereka bertemu dalam keheningan yang penuh makna. Ketika bibir mereka akhirnya bersatu dalam ciuman, ada kehangatan, rasa cinta yang begitu mendalam, dan keintiman yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Ciuman itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih intens. Zara menyampaikan melalui sentuhan itu bahwa ia ada untuk French, tanpa syarat, tanpa ragu. French membalasnya dengan rasa syukur yang membara, seolah ingin menumpahkan semua cinta dan rasa takut yang selama ini ia simpan.
Meskipun tidak mengatakan apa-apa malam itu, kata-kata Zara tetap terngiang di kepala French. Ia tahu bahwa ia harus mengungkapkan semuanya suatu saat nanti, tetapi ketakutannya terlalu besar untuk ia hadapi.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Conto"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
