French terbangun dengan napas yang tak teratur, tubuhnya basah oleh keringat. Di luar, malam masih mendalam, namun di dalam dirinya ada sesuatu yang terus berputar. Sebuah mimpi yang terasa begitu nyata, mengganggu dan menyakitkan. Zara—kepergiannya, ucapan perpisahan yang terucap begitu saja, dan perasaan kehilangan yang mendalam, seperti pisau yang menghujam jantungnya.
Ia duduk di tepi tempat tidur, memandang kosong ke ruang yang masih gelap. Mimpi itu masih terngiang, berputar-putar dalam benaknya. Zara pergi ke Turki untuk melanjutkan pendidikannya—sebuah keputusan yang membuat French merasa seakan dunia ini runtuh di sekitarnya. Tapi itu hanya mimpi, bukan kenyataan. Zara belum pergi. Ia masih ada di luar sana, meski saat ini tidak bisa dijangkau. Tapi kenapa perasaan itu terasa begitu nyata? Kenapa mimpi itu mengguncang hatinya sekeras itu?
"Kenapa harus seperti ini?" gumamnya pelan, merasakan gelisah yang tak bisa dijelaskan. Ia meremas pelipisnya, berusaha menenangkan dirinya. Namun, seiring napas yang mulai stabil, French tahu satu hal—perasaan ini bukan hanya mimpi. Perasaan ini sudah ada sejak lama, bahkan sebelum dia menyadarinya. Sebelum ia tahu bahwa Zara adalah sesuatu yang tak bisa ia lepaskan begitu saja.
Dengan langkah gontai, French menuju jendela kamar. Ia membuka tirai dan memandang keluar. Kota yang sunyi di malam hari hanya diterangi oleh lampu-lampu jalanan. Namun di dalam dirinya, ada keramaian yang berdesakan, berputar-putar dalam kekosongan. Zara, dengan segala intensitasnya, telah menguasai pikirannya—dan kini, mimpi itu menambah lapisan baru dari kecemasan yang mulai menggerogoti dirinya.
"Mimpi bodoh," desisnya, meskipun ia tahu bahwa mimpi itu jauh lebih nyata dari yang ingin ia akui. Mimpi itu menunjukkan ketakutannya yang paling dalam—bahwa Zara bisa saja pergi begitu saja dari hidupnya, dan bahwa ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya.
French kembali ke tempat tidur, duduk di pinggir ranjang dengan wajah tertunduk. Meskipun hanya sebuah mimpi, perasaan itu terasa begitu nyata. Setiap kata Zara yang terucap dalam mimpi itu kembali terulang dalam benaknya. "Aku butuh ruang untuk diriku sendiri." Perasaan itu menyakitkan. Seakan-akan, Zara tidak lagi membutuhkan dirinya, atau bahkan menginginkannya.
Ia mengusap wajahnya kasar. Zara adalah wanita yang bebas, dengan ambisi dan keinginan yang kuat. Itu yang membuatnya begitu memikat, sekaligus membuat French merasa seperti terjebak dalam bayang-bayang ketakutannya sendiri. Seperti ia tahu bahwa apa pun yang ia lakukan, ia tidak akan pernah cukup untuk Zara.
Namun, di sisi lain, ia juga tahu—dalam hati kecilnya—bahwa ia tidak bisa melepaskan dirinya begitu saja. Zara adalah miliknya. Dan meskipun mimpi itu mengganggu, ia tak bisa membiarkan perasaan itu mengalahkan tekadnya.
French berbaring kembali di tempat tidur, memejamkan mata. Meski tubuhnya lelah, pikirannya tetap berputar. Mimpi itu mungkin hanya sebuah khayalan. Tetapi dalam hatinya, French merasa sesuatu yang lebih dari sekadar mimpi itu. Ia tidak bisa mengabaikan perasaan ini, meskipun itu berarti ia harus menghadapi kenyataan yang sangat sulit. Kenyataan bahwa mungkin, ia terlalu terlambat menyadari betapa besar rasa takutnya kehilangan Zara.
"Zara..." bisiknya, suara itu hampir seperti sebuah doa. "Kau tak akan pergi begitu saja. Aku tak akan membiarkanmu."
Perasaan itu datang lagi—perasaan bahwa ia harus berjuang lebih keras, lebih cerdas, dan lebih teguh. Ia tidak akan membiarkan mimpi itu menjadi kenyataan. Jika Zara harus pergi, French ingin menjadi alasan yang membuatnya tetap tinggal. Ia ingin menjadi orang yang diinginkan, yang dibutuhkan—sehingga tak ada alasan bagi Zara untuk melangkah pergi.
Malam itu, meskipun mimpi itu terus membayang, French tahu satu hal yang pasti. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan membiarkan Zara pergi begitu saja. Perasaan ini lebih dari sekadar mimpi. Ini adalah kenyataan yang harus ia hadapi—dan kali ini, ia siap untuk melakukannya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Conto"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
