46

476 21 1
                                        

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Zara dan French duduk berdua di bangku panjang, dengan tangan mereka yang saling menggenggam erat. Meski suasana malam tampak begitu tenang, hatinya terasa begitu bergolak. Apa keputusan yang diambilnya, menerima atau menolak lamaran French, terus menghantui pikirannya.

French, pria yang kini berusia 31 tahun, duduk di sampingnya dengan senyum yang tak pernah pudar. Ia memandang Zara dengan tatapan penuh harap, seolah menunggu jawaban yang pasti, meskipun ia tahu bahwa Zara masih terombang-ambing antara perasaan dan keraguannya sendiri.

Zara menundukkan kepala, menatap jemarinya yang saling terjalin dengan jemari French. Ia merasa hangat dengan sentuhan pria itu, namun ketakutan dan keraguan datang menghantui pikirannya. Ia baru berusia 21 tahun, masih sangat muda. Sementara itu, French sudah berada pada titik di mana hidupnya mulai matang, dengan segala pencapaian dan tujuan yang jelas. Namun, yang paling membuat Zara bingung adalah perbedaan usia mereka, yang tampak begitu mencolok-10 tahun lebih tua dari dirinya.

"Apa yang membuatmu ragu, Zara?" tanya French dengan suara yang penuh ketulusan, namun juga penuh dengan kesabaran yang ia miliki untuk menunggu jawaban dari gadis di sampingnya.

Zara terdiam sejenak, memutar kata-kata dalam pikirannya. "Aku... aku masih muda, French. Masih banyak hal yang harus kujalani. Kuliahku belum selesai, dan aku belum tahu ke mana hidupku akan membawa. Sedangkan kau, kau sudah tahu apa yang kau inginkan."

French menatapnya dalam-dalam, merasakan keraguan yang menggantung di udara. "Zara, aku tahu kau masih muda, tapi aku tak pernah melihat usia sebagai penghalang. Aku tahu bahwa kita berdua memiliki tujuan yang berbeda dalam hidup, tetapi aku ingin berbagi semuanya denganmu. Semua impian dan harapan yang ada dalam hidupku, aku ingin kau menjadi bagian dari itu."

Zara menghela napas, lalu memandang French dengan tatapan yang penuh kebimbangan. "Tapi apakah kau yakin kau tidak akan menyesal? Aku takut jika aku memilihmu, aku akan menahanmu dari apa yang seharusnya kau capai. Aku terlalu muda untuk keputusan sebesar ini."

French tidak membiarkan keraguan itu menguasai mereka. Perlahan, ia menarik Zara lebih dekat, sehingga jarak di antara mereka hanya seujung rambut. Ia berbisik, "Zara, aku sudah cukup lama menjalani hidupku dengan segala pencapaian yang bisa aku banggakan. Namun, aku merasa ada yang hilang. Aku merasa, ada bagian dari diriku yang belum lengkap, dan itu adalah kau. Aku tak ingin menunggu lebih lama. Aku ingin melangkah bersama denganmu, apapun yang terjadi."

Zara merasa jantungnya berdebar lebih cepat. Keberanian French untuk membuka hatinya begitu tulus. Namun, keraguan itu tetap ada, terperangkap dalam pikirannya yang penuh dengan pertanyaan.

"Tapi... bagiku ini terlalu cepat. Aku masih belum tahu siapa aku sebenarnya. Aku takut jika aku terlalu cepat melangkah, aku akan kehilangan diriku sendiri," kata Zara, suaranya kini bergetar, entah karena kebingungannya atau karena kedekatannya dengan French yang semakin intens.

French menarik napas dalam, kemudian menatapnya dengan penuh perhatian. "Aku mengerti keraguanmu, Zara. Aku tahu betapa besar ketakutanmu. Tapi kamu harus tahu satu hal-keputusan yang kita ambil sekarang ini, tak akan mengubah siapa kita sebenarnya. Kita akan tumbuh bersama. Aku tak akan pernah memaksamu untuk memilih antara aku atau masa depanmu."

Zara menggigit bibir bawahnya, memandang French dengan hati yang semakin kaca.

"Zara," kata French dengan suara yang lebih lembut namun penuh makna, "Aku ingin menjalani sisa hidupku bersamamu, Zara. Aku ingin membuat rumah bersamamu."

Zara menghela nafas pelan, ia tak tahu. Ia bingung. Namun perasaan ini tak mampu menolak apapun itu. Ia juga mencintai pria itu.

"French... mungkin kau harus menemui Dadaku."

French menatapnya dengan senyum yang penuh kebahagiaan, namun matanya tetap penuh dengan keseriusan. Ia meraih wajah Zara dengan lembut, menariknya lebih dekat untuk mencium bibirnya dengan penuh kelembutan. "Kau tak akan pernah menyesal, Zara. Aku berjanji."

Pria itu terus menciumnya. Biasanya Zara hanya akan membiarkannya mengecupnya saja. Namun, kali ini tidak. Zara membiarkannya. Dan tentu French sangat senang dengan itu. Ia tak akan melepaskan kesempatan sebesar ini.

***

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang