Zara duduk di tepi tempat tidurnya, satu tangannya sibuk memainkan ujung selimut sementara pikirannya melayang entah ke mana. Heningnya ruangan justru memperparah kekacauan dalam kepalanya. Pikiran tentang French terus menghantui-tatapan tajamnya, suaranya yang berat dan mantap ketika berkata bahwa ia "tak akan menyerah."
"Apa pria itu gila?" gumam Zara pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Punggungnya bersandar ke dinding sementara kepalanya ia tengadahkan. Ia memejamkan mata, berharap perasaan itu bisa lenyap begitu saja. Tapi semakin ia berusaha menghindarinya, bayangan French justru semakin jelas. Wajahnya yang muram, sorot matanya yang penuh obsesi, langkahnya yang berat ketika ia pergi... dan kemudian ia kembali.
Zara menghela napas panjang, kesal pada dirinya sendiri. "Kenapa dia harus balik lagi?" Keluhan itu keluar begitu saja, tetapi tak ada jawaban, hanya dirinya yang semakin gelisah.
Ini French-pria yang berlebihan dalam segala hal. Terlalu serius, terlalu intens, terlalu obsesif. Zara membuka matanya dan menatap kosong ke arah langit-langit kamar.
Kenapa dia harus peduli sejauh itu? Kenapa setiap hal kecil yang Zara lakukan selalu terlihat begitu besar di mata French? Seperti tadi pagi-itu hanya pria asing yang membantunya memilih menu, tapi French bertindak seolah dunianya hancur. Dia marah, terluka, dan akhirnya pergi, tapi kembali.
Zara bangkit dari tempat tidurnya, berjalan ke meja kecil di sudut kamar dan menatap bayangannya sendiri di cermin. Matanya sedikit sayu, jelas menunjukkan betapa ia lelah memikirkan ini semua. French, intensitas perasaannya sering kali membuat Zara takut. Bagaimana caranya menghadapi perasaan yang sebesar itu? Bagaimana caranya hidup di bawah bayangan seseorang yang menganggap dirinya segalanya?
Tiba-tiba, suara ketukan pintu apartemen membuatnya sedikit terkejut. Ia membuka pintu, sebuah kotak misterius yang tiba-tiba datang malam ini-tanpa nama pengirim, hanya diantar kurir dengan instruksi tegas: "Untuk Zara."
Semua instingnya mengatakan ini pasti ulah French. Siapa lagi yang bisa melakukan hal aneh seperti ini? Apa maksudnya? Apa lagi yang French lakukan sekarang?
Akhirnya ia membuka kotak itu perlahan.
Begitu tutupnya terbuka, Zara terdiam. Di dalamnya, tergeletak sebuah benda kecil-liontin perak berbentuk kunci. Desainnya sederhana namun elegan, bagian tengahnya terukir inisial "Z." Zara menatap benda itu lama. Di bawah liontin itu ada sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan.
"Kunci ini untukmu, Zara. Karena kau sudah memiliki seluruh diriku."
"Apa maksud semua ini?" bisik Zara pada dirinya sendiri, suaranya terdengar nyaris putus asa.
Zara menatap liontin itu lagi, lalu meletakkannya di atas meja dengan cepat, seolah takut benda itu akan membakar tangannya. Ia ragu untuk membuangnya. Pria itu memang tak pernah berhenti-selalu ada sesuatu yang ia lakukan untuk memastikan Zara mengingatnya. Seakan French ingin meresapi setiap ruang kosong dalam hidupnya.
Kenapa pria itu tak bisa membiarkannya hidup dengan tenang?
Pikirannya melayang kembali pada ucapan French tadi-"Aku tak akan menyerah."
"Dia gila..." ucap Zara lagi, kali ini lebih pelan. Tapi suara hatinya berbisik
"Apa aku harus menjelaskan pada pria itu? Pria itu bukanlah pria yang kuinginkan."
***
Hai guys terimakasih sudah mendukungku sangat sangat lama 🙏
Vote dan dukungan kalian sangat berharga untuk melanjutkan cerita ini 🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Kort verhaal"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
