40

481 19 0
                                        

French menatap Zara dengan penuh perhatian, duduk di kursi seberangnya di kafe yang dipenuhi aroma kopi dan roti panggang. Ia memutar cangkir kopinya dengan santai, sementara Zara terlihat lebih serius dari biasanya.

"Aku sudah membuat keputusan. Aku akan pindah minggu depan."

French, yang awalnya tampak tenang, langsung tersenyum lebar. Matanya berbinar penuh antusiasme. "Kau pindah? Jadi, akhirnya kau memutuskan untuk kembali ke Turki?"

Zara terdiam sejenak, memiringkan kepalanya dengan ekspresi heran. "Turki?" tanyanya.

"Ya," kata French sambil bersandar di kursinya, terlihat puas dengan kesimpulannya sendiri. "Aku tahu kau mungkin merindukan keluargamu, dan ini keputusan yang tepat. Aku juga sudah berencana mengalihkan pekerjaanku kesana. Aku sangat tertarik dengan negara Turki."

Zara menghela napas. "French, aku tidak pindah ke Turki."

Kebahagiaan di wajah French sedikit meredup. Ia mengerutkan kening, bingung. "Tunggu, kalau bukan ke Turki, lalu ke mana?"

"Boston," jawab Zara singkat, matanya tetap menatap French dengan tenang. "Aku akan melanjutkan kuliah di sana."

French mendengar kata-kata Zara dengan saksama, dan ketika ia menyebutkan "Boston," senyumnya langsung mengembang. Ia bersandar di kursinya, tawanya pecah tanpa bisa ditahan. Zara menatapnya dengan bingung, alisnya bertaut.

"Ada apa? Apa yang lucu?"

French menggelengkan kepala, masih tertawa kecil. "Zara, aku serius mengira kau akan pindah ke Turki. Kupikir aku harus siap-siap menghadapi culture shock disana."

Zara menatapnya dengan bingung, matanya sedikit menyipit. "Jadi, kau senang aku di Boston?"

"Tentu saja," jawab French tanpa ragu. "Boston itu jauh lebih baik daripada Turki. Kita memang tidak akan berada di kota yang sama, tapi itu bukan masalah besar untukku."

Zara masih menatapnya dengan ekspresi bingung. "Aku tidak menyangka kau akan bereaksi seperti ini."

French tersenyum lembut, kali ini matanya penuh dengan kesungguhan. "Zara, aku mendukung kau, apa pun keputusanmu. Boston itu tetap bisa dijangkau. Dan yang terpenting, kau tetap berada di negara yang sama denganku. Itu sudah cukup buatku."

Zara menghela napas pelan. "Aku hanya ingin fokus pada studiku, French."

"Yang paling penting, kau mengejar apa yang kau mau dan impikan. Aku akan selalu senang menerimanya."

"Aku sudah mempertimbangkan ini matang-matang. Mungkin orangtuaku benar aku harus kuliah di Amerika daripada di Turki."

"Hidup itu tidak selalu tentang membuat semuanya berjalan sesuai rencana. Kadang-kadang, kau hanya perlu membiarkan hal-hal mengalir, seperti hubungan kita."

Zara terdiam, menatap French yang tampak santai.

"Aku serius, French. Aku ingin memastikan kau tidak mengorbankan sesuatu untukku."

French mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapnya langsung dengan sorot mata yang intens. "Zara, dengar baik-baik. Aku mengatur ulang prioritas hidupku agar bisa tetap bersamamu, maka itu yang akan aku lakukan. Aku tidak melihat ini sebagai pengorbanan. Aku melihat ini sebagai bagian dari perjalanan kita."

Zara terkejut mendengar ketegasan dalam suaranya. Ia tahu French serius, tapi mendengar kata-kata itu diucapkan langsung membuat hatinya sedikit melunak. Namun, ia tetap berusaha menjaga ekspresi tenangnya.

"Aku belum pernah mendengar kau berbicara seperti ini sebelumnya," katanya pelan, hampir seperti bisikan.

French tersenyum, mengambil cangkirnya dan menyeruput kopi sebelum menjawab. "Mungkin karena aku merasa harus memastikan kau tahu betapa pentingnya kau untukku. Zara, aku tidak akan memaksamu untuk tetap di sini, atau untuk melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan. Tapi aku juga tidak akan mundur. Aku akan ada di sini, mendukungmu, apa pun yang kau butuhkan."

Zara menatap pria itu dengan pandangan penuh keraguan. "Kau benar-benar tidak keberatan dengan ini semua? Maksudku.. kita tak tahu bukan apa yang akan ada di masa mendatang. Seperti mungkin aku akan memiliki pacar disana atau kau—"

"Aku akan menunggumu Zara. Aku akan selalu menunggumu walau seribu tahun sekalipun. Jika kau memiliki pacar disana tentu aku takkan pernah mundur kau pasti tahu diriku kan?"

"Aku tahu ini tidak akan mudah. Kau di Boston, aku di sini, dan kita masih bisa saling terhubung. Teknologi ada untuk alasan itu, Zara."

***

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang