21

1K 33 0
                                        

"Begitu kah?"

Melihat respon tenang French. Zara menyercitkan keningnya, "Pria itu tak marah? Atau kecewa?"

"Mungkin kau akan mengatai gila untuk kesekian kalinya. Bahwasanya aku tak perduli dengan itu semua."

French memiringkan tubuhnya ke arah Zara, matanya menatap tajam dengan sorot penuh tekad yang hampir membuat perempuan itu ingin mengalihkan pandangannya. Tapi ia tetap diam, menunggu pria itu melanjutkan.

“Kau boleh berkata apa saja, Zara. Kau boleh menolak aku seribu kali,” French berkata dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan, tapi ada ketegasan di baliknya. “Tapi aku tidak akan pergi begitu saja. Tidak, sayang. Kau tidak akan semudah itu lepas dariku.”

Zara menelan ludah. Ia merasa seperti sedang menghadapi badai yang tak terduga. “French, kau tidak mengerti—”

“Tidak, aku mengerti,” potong French. “Kau takut. Kau membangun dinding di sekelilingmu karena kau pikir itu akan melindungimu. Kau pikir dengan bersikap dingin, kau bisa mencegah orang lain masuk ke hidupmu. Tapi aku di sini bukan untuk mundur, Zara. Aku di sini untuk menghancurkan semua dinding itu.”

“Dan kau pikir itu hakmu?” tantang Zara. “Apa yang membuatmu berpikir kau punya hak untuk memaksakan dirimu masuk ke hidupku?”

French tersenyum kecil, tapi kali ini tidak ada kelembutan di sana. Senyuman itu dingin, penuh keyakinan yang membuat Zara bergidik. “Karena aku tahu kau membutuhkan seseorang, meskipun kau tidak mau mengakuinya."

Zara berdiri dengan tiba-tiba, mencoba memutus intensitas di antara mereka. Tapi French lebih cepat. Ia juga berdiri, mendekatkan dirinya pada Zara, membuat jarak di antara mereka hanya beberapa inci.

"Aku akan membuatmu merasakannya, Zara."

"Sekarang pergi dari sini!"

"Tapi kau harus tahu sesuatu. Aku tidak peduli seberapa keras kau mencoba mengusirku, aku akan tetap ada."

"Kubilang pergi, French!"

"Okay. Tapi tidak dari hidupmu."

***

Langit sore yang hangat menembus kaca jendela kafe, memantulkan cahaya ke meja kayu tempat Zara duduk. Tangannya mencengkeram cangkir kopi yang sudah dingin, matanya tajam menatap ke luar jendela, mencoba menikmati waktu sendirinya. Tapi suasana tenang itu langsung terusik ketika bunyi lonceng pintu kafe terdengar, diikuti oleh langkah berat yang familiar.

Zara langsung menoleh, tatapannya penuh amarah saat melihat French memasuki kafe, matanya yang penuh percaya diri langsung menangkap milik Zara. Ia berjalan mendekat tanpa ragu, seolah seluruh ruangan hanya ada mereka berdua.

"Kau serius, French? Sampai sini juga kau mengikutiku?" tanya Zara tajam, suaranya memotong keheningan di antara mereka.

French hanya mengangkat alis, senyumnya tipis tapi penuh arti. "Mengikutimu? Tidak, Zara. Aku hanya kebetulan tahu kau ada di sini."

"Omong kosong," balas Zara dingin. Ia menyilangkan tangan di depan dada, sorot matanya menusuk. "Apa sebenarnya yang kau inginkan? Berhenti bermain-main denganku."

French berdiri di dekat meja, tidak langsung duduk. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana, sikapnya santai tapi penuh kendali. "Aku tidak bermain-main. Aku hanya memastikan kau tahu aku tidak akan pergi begitu saja."

"Kau gila," desis Zara, nadanya penuh kemarahan. "Kau pikir ini semacam permainan? Kau pikir dengan terus muncul di mana-mana, aku akan tiba-tiba berubah pikiran?"

French tersenyum kecil, tapi kali ini senyumnya tidak lembut. Ada ketegasan di sana, dingin tapi tidak tergoyahkan. "Bukan permainan, Zara. Ini hanya aku memastikan bahwa kau tahu aku serius."

"Serius?" Zara bangkit dari kursinya, berdiri tegak dan menatapnya langsung. "Kau pikir dengan memaksa seperti ini, aku akan memberimu apa yang kau inginkan? Kau tidak punya hak untuk ada di sini!"

French maju satu langkah, jarak di antara mereka semakin kecil, tapi Zara tidak bergerak mundur. "Dan kau tidak punya hak untuk berbohong pada dirimu sendiri, Zara. Aku tahu kau marah, tapi aku juga tahu kenapa."

"Oh, begitu? Beritahu aku, kenapa aku marah?" tantang Zara dengan nada sinis.

"Karena aku tahu kau tidak bisa mengontrol ini," jawab French cepat, suaranya tegas. "Apa yang ada di antara kita. Kau mencoba melawannya, menolaknya, tapi itu hanya membuatmu semakin frustrasi."

Zara menghela napas panjang, nadanya berubah lebih dingin. "French, kau mungkin berpikir kau tahu segalanya, tapi kau salah. Kau salah tentang aku, tentang kita, tentang semuanya."

French mendekat lagi, suaranya lebih rendah, tapi tetap penuh intensitas. "Tidak, Zara. Aku tidak salah. Kau boleh marah, kau boleh mengusirku. Tapi aku tidak akan berhenti. Kau tidak akan lepas dariku semudah itu."

Zara menatapnya tajam, rahangnya mengeras. "Kau lebih baik pergi sekarang, sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran."

French tersenyum tipis, lalu melangkah mundur perlahan, matanya masih terkunci pada Zara. "Baiklah. Aku akan pergi," katanya, suaranya tenang. Tapi sebelum ia membuka pintu kafe, ia menoleh sebentar, memberikan tatapan yang membuat darah Zara mendidih.

"Tapi jangan berpikir ini selesai, Zara. Aku tidak akan menyerah. Kau tahu itu." Dengan senyuman penuh kepastian, French melangkah keluar, meninggalkan Zara dengan amarah yang membara dan perasaan tak tenang yang sulit ia abaikan.

***

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang