27

886 32 1
                                        

French duduk di sudut apartemennya, menatap ponsel yang tergeletak di meja dengan frustrasi. Cahaya redup lampu malam memperjelas bayangannya yang tegang di dinding. Sudah beberapa minggu sejak Zara menghilang begitu saja. Tak ada pesan, tak ada panggilan, bahkan tak ada tanda-tanda ke mana dia pergi.

Pikirannya terus berputar, memutar ulang setiap percakapan terakhir mereka, setiap detail kecil yang mungkin menjadi petunjuk. Tapi semua itu hanya membawanya pada satu kesimpulan. Zara sengaja menghilang darinya.

"Kenapa kau pergi begitu saja?" gumamnya sambil meraih rambutnya, menyisirnya kasar dengan jari-jarinya.

Ia telah mencoba segalanya. Menghubungi nomor Zara berkali-kali, mendatangi gym tempat Zara biasa berlatih, dan bahkan bertanya pada tetangga di apartemen Zara. Namun jawaban yang didapat selalu sama. Zara tak terlihat sejak beberapa minggu lalu.

Dengan langkah cepat, ia mengambil jaketnya dan keluar ke udara malam yang dingin. Kakinya tanpa sadar membawanya ke gym yang sudah menjadi tempatnya mencari Zara berkali-kali. Begitu sampai, ia membuka pintu dengan kasar, tatapannya menyapu ruangan kosong itu. Tidak ada seorang pun di sana, hanya suara samar alat-alat olahraga yang berdenting pelan.

French berjalan ke punching bag yang tergantung di sudut ruangan, menggerakkan tangannya seolah-olah sedang melatih pukulan. "Dia ada di sini biasanya. Aku bisa merasakannya," gumamnya dengan nada penuh tekad.

Ia memukul punching bag dengan keras, seolah melampiaskan rasa frustrasi yang telah lama menumpuk. Namun, setelah beberapa menit, ia berhenti dan menyandarkan dahinya pada permukaan kasar punching bag itu, mengatur napas.

"Zara," bisiknya pelan. "Apa kau benar-benar ingin aku berhenti? Apa itu yang kau mau?"

Tapi jawaban itu tidak datang. Hanya keheningan yang menemaninya, membuat hatinya semakin berat.

Ia berjalan keluar gym dengan langkah lesu, menatap langit malam yang gelap. Saat itu, sebuah ide muncul di pikirannya, menghantam seperti kilat. Zara pernah menyebutkan keluarganya di Turki, meski hanya sepintas. Mungkin, hanya mungkin, dia kembali ke sana. Apakah mimpinya malam itu akan menjadi kenyataan?

French meraih ponselnya dengan cepat dan mencari penerbangan ke Turki dalam beberapa minggu terakhir. Hatinya berdebar saat menemukan beberapa penerbangan yang cocok dengan waktu menghilangnya Zara.

“Kemungkinan besar dia kesana.” gumamnya dengan senyum tipis yang penuh arti. “Baiklah, Zara. Kalau itu tempatmu bersembunyi, aku akan datang mencarimu.”

Tanpa ragu, ia memesan tiket ke Istanbul untuk penerbangan berikutnya. Meskipun ia tahu ini gila—mengejar seorang wanita ke negara lain tanpa undangan—French tidak peduli. Zara adalah satu-satunya hal yang saat ini memenuhi pikirannya, dan ia tidak akan membiarkan wanita itu pergi begitu saja.

Kembali ke apartemennya, ia segera mulai mengemasi barang-barangnya. Koper hitamnya terbuka di atas tempat tidur, diisi dengan pakaian dan kebutuhan lainnya. Setiap kali melipat baju, ia memikirkan Zara, membayangkan bagaimana wajah wanita itu ketika ia tiba-tiba muncul di depannya lagi.

Malam itu terasa panjang, tapi tekad French semakin kuat. Ia tahu betul bahwa perasaannya pada Zara bukan sekadar obsesi atau keinginan sesaat. Wanita itu telah mengubahnya dalam banyak hal. Zara adalah satu-satunya yang mampu membuatnya merasa hidup, membuatnya ingin menjadi lebih baik.

Saat ia selesai berkemas, French duduk di pinggir tempat tidur, menatap tiket elektronik di ponselnya. Ia akan berada di negara lain, mengejar seseorang yang jelas-jelas mencoba menjauh darinya.

Namun, ia tidak gentar. Ia tahu ini mungkin tidak akan mudah, tapi ia siap menghadapi apa pun.

“Zara,” gumamnya lagi, suaranya lebih lembut kali ini. “Kau boleh mencoba menghindar dariku. Tapi aku tidak akan menyerah. Kau pantas diperjuangkan, dan aku akan membuktikannya.”

Dengan itu, ia memejamkan mata, mencoba tidur meski pikirannya masih penuh dengan bayangan Zara. Di dalam hatinya, ia tahu satu hal dengan pasti: perjalanan ini bukan hanya tentang menemukan Zara, tetapi juga tentang membuktikan bahwa cintanya tidak akan goyah, tidak peduli sejauh apa Zara mencoba berlari.

***

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang