48

151 9 0
                                        

Beberapa hari kemudian, Zefran tiba di Turki. Tak membuang waktu, ia langsung menghubungi French dan meminta untuk bertemu. Mereka sepakat bertemu di sebuah kafe di pusat kota.

Saat Zefran masuk, ia melihat French sudah duduk menunggunya dengan ekspresi yang tenang. French berdiri saat Zefran mendekat, menyambutnya dengan senyum yang penuh harap.

"Selamat datang di Turki, Zefran. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu," kata French, suaranya hangat meski Zefran bisa merasakan ketegangan di udara.

Zefran mengangguk, langsung berbicara dengan tegas, "Aku rasa kita perlu berbicara. Tentang Zara."

French mengangguk dan duduk kembali. "Tentu, aku tahu ini pasti bukan hal mudah untuk dibicarakan. Aku hanya ingin menyampaikan niatku yang serius terhadap Zara."

Zefran duduk, memandang French dengan tatapan tajam. "Aku datang ke sini karena aku peduli dengan adikku. Aku perlu memastikan bahwa kau benar-benar serius dan tidak akan menyakiti Zara. Perbedaan usia yang cukup jauh antara kalian, serta kenyataan bahwa Zara masih sangat muda, membuat aku khawatir. Kau sudah 31 tahun, sementara dia baru berusia 21. Apa kau siap dengan tanggung jawab besar ini?"

French menatap Zefran dengan tatapan penuh pengertian. "Aku memahami kekhawatiranmu, Zefran. Aku tahu ini bukan hal yang mudah. Aku juga tahu ada perbedaan usia, tapi aku percaya bahwa usia tidak seharusnya menjadi penghalang jika dua orang saling mencintai dan saling mendukung. Aku sudah mengenal Zara cukup lama, dan aku merasa kami memiliki tujuan yang sama dalam hidup, meskipun kami mungkin berbeda dalam beberapa hal."

Zefran mendengus pelan. "Kau berbicara tentang tujuan hidup, tapi kau yakin bisa memberikan yang terbaik untuknya? Dia masih muda, masih banyak hal yang perlu dia pelajari. Apa kau siap untuk menjadi pendamping yang bisa membimbingnya tanpa menghalangi impian dan pencapaiannya?"

French menundukkan kepala sejenak, lalu mengangkatnya dengan senyuman yang penuh keyakinan. "Zara mungkin masih muda, tapi dia sangat cerdas dan penuh semangat. Aku melihat potensi besar dalam dirinya. Aku bukan hanya ingin menjadi pasangan hidupnya, tetapi juga ingin mendukungnya untuk berkembang, untuk mengejar impiannya. Aku tidak akan menghalanginya. Aku ingin berjalin hidup bersama, tetapi bukan untuk menghambat langkahnya. Aku ingin tumbuh bersama, bukan menahan."

Zefran mendengarkan dengan seksama, masih merasa ragu, namun ada ketulusan dalam kata-kata French yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Setelah beberapa detik hening, Zefran akhirnya berkata, "Kau bisa berbicara tentang keseriusan, tapi kenyataannya, Zara masih terlalu muda untuk membuat keputusan seperti ini. Kau pasti tahu betul apa yang kau inginkan dalam hidupmu, tapi dia… dia masih berada di persimpangan jalan. Apa kau yakin kau bisa menjadi pendamping yang memberinya ruang untuk bertumbuh tanpa mengontrol hidupnya?"

French mengambil napas dalam, mengatur kata-katanya dengan hati-hati. "Aku tidak ingin mengontrol hidupnya, Zefran. Aku ingin ada di sampingnya untuk mendukungnya. Tentu, aku tahu ada banyak hal yang harus dia lalui, dan aku tidak akan memaksanya. Tapi jika dia memilih untuk bersama aku, aku berjanji aku akan berada di sini untuknya, memberikan dukungan yang dia butuhkan untuk tumbuh dan berkembang. Aku ingin menjadi bagian dari hidupnya, tapi aku juga tahu aku harus memberi dia ruang untuk menjadi dirinya sendiri."

Zefran menatap French dengan lebih dalam, mencoba merasakan kejujuran dalam kata-kata pria itu. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam cara French berbicara, tidak hanya tentang dirinya, tetapi juga tentang Zara. Setelah beberapa saat, Zefran akhirnya menghela napas dan mengangguk.

"Baiklah, French. Jika itu yang kau katakan, aku akan percayakan pada adikku. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia tidak akan menyesal dengan keputusan yang diambilnya. Aku harap kau benar-benar siap dengan tanggung jawab yang besar ini."

French tersenyum, tampak lega. "Terima kasih, Zefran. Aku tahu ini bukan hal mudah. Aku akan memastikan bahwa Zara tidak akan pernah merasa salah memilih."

Zefran mengangguk sekali lagi, merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar keyakinan French. Meskipun ia masih merasa was-was, ia tahu bahwa ini adalah pilihan Zara, dan ia harus mendukung adiknya. "Aku hanya ingin dia bahagia, French. Jaga dia dengan baik."

"Jangan khawatir, Zefran. Aku akan menjaga Zara lebih dari nyawaku sendiri. Aku berjanji," jawab French dengan tegas.

Zefran menatap French satu kali lagi sebelum akhirnya berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. "Aku harap kau bisa memenuhi janji itu," kata Zefran dengan nada yang lebih lembut.

Mereka saling berjabat tangan, dan Zefran meninggalkan kafe dengan perasaan yang campur aduk. Meskipun hatinya masih terasa berat, ia merasa sedikit lebih lega setelah mendengar keseriusan French. Kini, keputusan ada di tangan Zara. Apa pun yang terjadi, Zefran hanya bisa berharap adiknya tidak akan menyesal dengan pilihan hidupnya.

***

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang