12

1.4K 40 0
                                        

Zara dan pria itu duduk di sebuah bangku taman, menikmati pagi yang cerah. Zara sibuk menggigit croissant almondnya yang dari tadi belum habis. Sementara pria itu duduk dengan raut wajah yang tampak sedikit gelisah tak menikmati makanannya. Mereka berdua tak banyak bicara setelah meninggalkan toko roti tadi.

Setelah beberapa saat, pria itu membuka percakapan. "Zara," katanya dengan suara yang agak pelan, "Apa kau tak merasa aneh tadi? Maksudku, pria itu terlalu banyak bicara, kan?"

Zara menoleh ke arahnya, masih dengan roti di tangan. "Maksudmu yang di toko roti? Kenapa merasa aneh?" tanya Zara sambil mengunyah santai, seolah tak ada yang penting.

Pria itu menghela napas. "Ya, karena dia jelas-jelas tertarik padamu. Kau tak merasa itu aneh?"

Zara menatap pria itu dengan bingung. "Tertarik? Dia hanya memberi saran soal croissant. Tidak ada yang aneh kan?" jawabnya, justru pria ini yang aneh, merasa percakapan ini agak berlebihan.

Pria itu mengerutkan dahi, merasa frustrasi. "Zara, dia bukan cuma membahas soal roti. Itu jelas lebih dari itu. Dan kau... kau bisa begitu santainya?"

"Aku santai karena tidak ada yang serius. Lagi pula, apa masalahmu? Dasar aneh," jawabnya sambil menatap pria itu, tak mengerti kenapa ini jadi masalah.

Pria itu tetap diam, mencoba menahan emosinya. "Maksudku, aku tak suka kalau ada orang lain yang terlalu dekat denganmu," ujarnya, perlahan.

Zara mengangkat bahu. "Kau cemburu? Gara-gara orang asing membahas roti?" tanya Zara.

Pria itu tak bisa menepis. "Ya, cemburu," jawab pria itu dengan nada yang lebih serius, matanya menatap ke arah Zara. "Aku tak suka ada orang lain yang terlalu akrab denganmu. Itu membuatku tak nyaman."

Zara mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata pria itu. "Tapi dia hanya mengobrol biasa, bukan gitu?" tanyanya, tetap tidak paham.

Pria itu menarik napas panjang, merasa kesal karena Zara tak juga peka. "Iya, hanya mengobrol, tapi apa kau tidak sadar? Dia tak cuma bicara soal makanan. Ada hal lain di balik itu," katanya, berusaha menjelaskan.

Zara hanya menggelengkan kepala. "Aku tak mengerti maksudmu. Dia tak melakukan apapun, French," jawabnya santai, kemudian melanjutkan makan.

Pria itu hanya bisa menatap Zara dengan tatapan kosong, merasa kebingungan. "Ya, memang kau tak pernah mengerti, kan?" gumamnya.

Zara menatapnya sejenak, merasa ada yang kurang jelas. "Kau cemburu?" ulangnya, sedikit bingung.

"Ya, cemburu," jawab pria itu lagi, nada suaranya mulai lebih tegas.

Zara masih merasa heran. Pria ini konyol sekali. "Jadi, kau cemburu dengan orang yang hanya membahas croissant?" ulangnya dengan nada santai.

Pria itu tampak tidak bisa menahan perasaannya lagi. "Itulah masalahnya, Zara. Aku tak suka kalau ada orang lain yang terlalu dekat denganmu. Itu membuatku tak nyaman. Dan kau seakan tak peduli."

Zara mendengus kecil, mencoba merenung sejenak. "Mungkin kau hanya butuh waktu untuk tenang. Tidak semua orang itu punya niat buruk, kau tahu?"

Pria itu hanya bisa menghela napas panjang, merasa sedikit kecewa dengan sikap Zara yang tetap santai. "Aku tak tahu, Zara. Kau tak pernah mengerti kenapa aku merasa seperti ini," katanya dengan suara rendah.

Zara menghela nafas pelan kembali menikmati croissant-nya. Ia tak terlalu menganggap hubungan ini serius dari awal. Namun pria ini sangat susah sekali dihindari. Berkencan tanpa memiliki perasaan memanglah mustahil. Entah bagaimana akhirnya lihat saja nanti kedepannya. Kecemburuan yang berlebihan bisa menjadi boomerang. Pria itu perlu mengendalikan perasaannya.

Mungkin Zara memang tidak menyadari apa yang ia rasakan. Namun, dia tahu satu hal pasti, perasaan cemburunya masih sulit untuk dilepaskan begitu saja.

***

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang