Beberapa hari setelah percakapan panjang itu, French semakin sering datang ke apartemen Zara. Bukan hanya untuk menjenguk Zara, tapi juga untuk bertemu dengan Dada dan Mama, membahas beberapa hal tentang bisnis yang kini sedang berkembang. Pertemuan-pertemuan ini lebih sering dilakukan di ruang tamu apartemen Zara, dengan Dada yang banyak berbicara mengenai pajak perusahaan dan masalah-masalah administrasi yang sering kali sulit dipahami. French, dengan sikapnya yang profesional, menjelaskan setiap detail dengan tenang, membuat Dada terkesan.
Namun, meskipun pembicaraan sering kali berfokus pada bisnis dan pajak, French tak bisa mengabaikan keberadaan Zara yang selalu berada di sekitar mereka. Saat Dada dan Mama berdiskusi, Zara biasanya duduk di meja kerja dekat jendela, fokus menekuri layar laptopnya. Terkadang, ia melirik sekilas ke arah mereka, tetapi lebih sering ia terbenam dalam urusannnya sendiri, tak peduli dengan obrolan yang berlangsung di sekitarnya.
Pada hari tertentu, seperti saat itu, French tiba lebih awal dari biasanya. Dada sedang menyiapkan beberapa dokumen untuk dibahas, dan Mama sedang sibuk di dapur. French duduk di sofa sambil membuka laptop, matanya melayang ke arah Zara yang duduk di meja kerjanya. Dia tampak begitu fokus, rambutnya yang agak berantakan jatuh menutupi wajahnya yang terfokus. French mendapati dirinya terpaku sejenak, mengamati Zara tanpa disadari. Gadis itu sangat menawan. Entah bagaimana ia menjelaskannya dengan kata-kata.
Zara mengetik dengan cepat, sesekali mengerutkan dahi saat membaca email yang baru saja masuk. Ia sedang mengurus sesuatu. Suatu hal yang besar untuk masa depannya.
French menghela napas pelan, lalu kembali menatap laptopnya sendiri. Meskipun saat ini hubungan mereka masih rumit, ia tidak bisa mengabaikan perasaan yang muncul setiap kali ia berada di sekitar Zara.
Sementara itu, Zara yang sadar akan tatapan French yang tak lepas darinya, sedikit mengerutkan kening. Ia merasa tak nyaman, seolah ada sesuatu yang mengganjal meskipun French tampaknya tidak mengatakan apapun. Namun, ia tetap fokus pada pekerjaannya. Ia tidak mau menunjukkan betapa ia mulai merasa lebih dekat dengan pria itu, meskipun ia tak bisa menyangkal adanya perubahan dalam dirinya.
Beberapa menit kemudian, Dada masuk ke ruang tamu dengan beberapa tumpuk dokumen yang tampaknya berat. French segera bangkit, menawarkan diri untuk membantu. Sementara itu, Zara akhirnya menoleh dan melemparkan senyum tipis kepada Dada yang sibuk meletakkan dokumen-dokumen itu ke meja besar.
"Bagaimana kemajuan perusahaan, French?" tanya Dada, menatapnya dengan serius. "Aku ingin pastikan semuanya sudah sesuai dengan ketentuan pajak di negara bagian lain. Apakah ada pembaruan yang harus kita waspadai?"
French mengangguk, lalu mulai menjelaskan dengan rinci. "Sejauh ini, tidak ada masalah besar. Namun, jika kita melibatkan lebih banyak cabang atau distribusi ke negara bagian baru, kita harus lebih hati-hati dengan alokasi penghasilan. Itu akan mempengaruhi perhitungan pajak kita."
Zara mengangguk kecil dari sudut meja, sambil mendengarkan pembicaraan mereka. Meskipun ia tidak sepenuhnya memahami semua yang mereka bahas, ia bisa merasakan betapa seriusnya diskusi ini. French benar-benar kompeten dalam pekerjaannya, dan itu membuat Zara sedikit terkesan, meskipun ia tak ingin mengakuinya.
Namun, semakin sering ia mendengar percakapan ini, semakin ia menyadari bahwa French memiliki sisi yang berbeda dari apa yang ia pikirkan sebelumnya. Dia bukan hanya pria yang penuh percaya diri dan terkadang menyebalkan, tetapi juga seseorang yang memiliki pengetahuan yang luas dan ambisius dalam pekerjaan.
"Jadi, menurutmu," Dada melanjutkan, menatap French dengan tatapan yang serius, "kami perlu melakukan audit internal untuk memastikan semua laporan kita akurat, atau ada langkah lain yang lebih efisien?"
French menghela napas pendek, berpikir sejenak sebelum menjawab. "Audit internal akan sangat membantu, tetapi lebih dari itu, kita harus memastikan laporan-laporan yang dikirimkan sudah sesuai dengan standar yang berlaku di setiap negara bagian. Kita tidak ingin masalah pajak ini berkembang lebih besar."
Zara, yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya tidak tahan. "Pajak, pajak, dan pajak," gumamnya hampir tak terdengar. "Kenapa urusan pajak selalu terasa begitu rumit?" Ia menatap laptopnya dengan sedikit kesal.
French, yang mendengar keluhan Zara, menoleh dan tersenyum tipis. "Pajak memang rumit, tapi jika dipahami dengan baik, itu bisa menjadi hal yang menguntungkan, Zara."
Zara melirik French sejenak, merasa sedikit terkejut dengan jawabannya. "Aku tidak yakin itu," balasnya, meski suaranya sudah sedikit melunak.
Dada, yang mendengarkan percakapan mereka, tertawa kecil. "Kau lihat, Zara, French memang tahu apa yang dia bicarakan. Kalau dia bisa menangani semua ini dengan baik, kita akan berada dalam posisi yang lebih baik."
Zara hanya tersenyum kecil, namun dalam hatinya, ia merasa semakin ragu untuk menanggapi French dengan sikap yang sama seperti sebelumnya. Ada sisi lain dari pria ini yang mulai terlihat, dan itu membuatnya berpikir dua kali.
Setelah beberapa saat, pembicaraan pun kembali fokus pada pajak dan dokumen-dokumen lainnya, sementara Zara kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan perasaan yang mulai tumbuh, bahkan meskipun ia berusaha untuk menjaga jarak.
French, yang duduk diam, tetap memperhatikan Zara sesekali, matanya yang tajam tak terlepas dari sosok yang kini sedikit lebih dekat di hatinya. Ia tahu bahwa Zara belum siap untuk membuka hatinya sepenuhnya, tapi ia juga tahu bahwa suatu saat, Zara akan melihatnya dengan cara yang berbeda.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Short Story"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
