French membantu Zara kembali ke apartemennya, tetapi begitu mereka tiba, mereka mendapati Dada dan Mama Zara sudah menunggu di depan pintu dengan wajah khawatir.
“Zara!” seru Mama, bergegas menghampiri putrinya. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu dipapah seperti itu, sayang?”
“Aku cuma cedera ringan, Ma,” ujar Zara sambil tersenyum lemah, berusaha menenangkan Mamanya.
Namun, sebelum Zara sempat menjelaskan, Dada sudah menatap French dengan pandangan tajam. “Dan kau siapa? Kenapa Zara bisa begini?” tanyanya tegas, nada suaranya seperti petir di ruangan itu.
French berdiri tegak, meskipun sedikit gugup di bawah tatapan Dada yang mengintimidasi. "Perkenalkan saya French Hamilton. Dia cedera di gym saat mencoba angkat beban. Saya langsung membawanya ke klinik.”
Dada mengerutkan dahi, suaranya meninggi. “Kenapa dia sampai cedera? Apa kau yang membiarkan dia mencoba sesuatu yang jelas-jelas di luar batasnya?”
“Maafkan saya—” French mencoba menjawab, tapi Dada memotongnya.
“Kau pikir itu tanggung jawab siapa? Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu yang lebih parah? Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk kau, membahayakannya!”
Zara kali ini diam saja. Ia membiarkan French menerima semua kemarahan Dada tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Saya minta maaf, Mr. Harrison,” ujar French akhirnya, nada suaranya tulus. “Saya yang salah. Saya tidak seharusnya membiarkan dia mencoba beban seberat itu. Saya benar-benar menyesal.”
Dada mendengus. “Permintaan maaf tidak cukup! Kalau kau berada di sekitar Zara, tanggung jawabmu adalah memastikan dia aman. Kau paham itu?”
“Saya mengerti,” jawab French tanpa ragu.
“Sudahlah, sayang,” sela Mama dengan lembut, menyentuh lengan suaminya untuk menenangkan. “French sudah membawa Zara ke klinik dan memastikan dia aman. Kita seharusnya berterima kasih padanya, bukan terus menyalahkan.”
Dada menghela napas panjang, meski ekspresinya tetap keras. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak ingin ini terjadi lagi.”
Mama tersenyum pada French, tatapannya penuh pengertian. “Terima kasih sudah membantu Zara, Nak. Kau sudah melakukan yang terbaik.”
French mengangguk hormat. “Terima kasih, Mrs. Harrison. Saya akan lebih berhati-hati ke depannya.”
Di dalam Apartemen Zara. Setelah memastikan Zara duduk nyaman di sofa, Mama pergi ke dapur untuk membuat teh hangat. Sementara itu, Dada duduk di kursi seberang French, tatapannya tetap tajam seperti elang.
“Jadi, French,” kata Dada dengan nada perlahan tapi tegas. “Apa pekerjaanmu?”
French menegakkan tubuhnya. “Saya bekerja di kantor pajak sebagai Director of Corporate Tax Compliance.”
Dada mengangguk kecil, meski tidak sepenuhnya melonggarkan pandangannya yang tajam. “Kedengarannya mengesankan. Tapi dengan pekerjaan sebesar itu, kau masih punya waktu untuk gym?”
French tersenyum tipis. “Saya percaya keseimbangan itu penting, Mr. Harrison. Olahraga membantu menjaga kesehatan fisik dan mental, dan saya selalu meluangkan waktu untuk Zara.”
Zara melirik sinis pria itu. Meluangkan waktu?
Dada menyipitkan mata. “Itu bagus. Tapi keseimbangan itu tidak berarti membiarkan orang lain terluka. Paham maksudku?”
“Saya paham,” jawab French dengan mantap.
Setelah makan malam sederhana yang disiapkan Mama, suasana menjadi sedikit lebih santai. Namun, sebelum French berpamitan, Dada memanggilnya sekali lagi.
“French,” katanya, nadanya tetap serius. “Aku ingin kau ingat satu hal. Kalau kau ada di sekitar Zara, tanggung jawabmu adalah menjaganya. Kalau tidak, kau akan berurusan denganku.”
French menatap langsung ke mata Dada, lalu mengangguk dengan percaya diri. “Saya paham, Mr. Harrison. Saya berjanji tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi.”
Mama tersenyum hangat. “Terima kasih sudah membantu Zara hari ini, French. Kami benar-benar menghargai usahamu.”
Setelah French pergi, Dada menghela napas panjang dan menoleh pada Zara. “Aku tidak yakin sepenuhnya pada pria itu, tapi dia punya potensi,” katanya tegas.
Zara memandang ayahnya bingung. “Potensi untuk apa, Da?” Apa potensi pria menyebalkan itu?
“Potensi untuk jadi pria yang bisa diandalkan. Tapi aku masih akan mengawasinya,” balas Dada sambil mendengus.
Mama menepuk bahu suaminya sambil tersenyum lembut. “Sayang, tidak semua orang harus selalu diuji seperti ini. French sudah membuktikan dirinya hari ini.”
Zara hanya menghela napas panjang, “Da, Ma, dia cuma temanku.”
Dada mengangkat alisnya. “Oh ya? Aku yakin pria itu adalah pria yang kau ceritakan waktu itu.”
Mama tertawa kecil, sementara Zara memalingkan wajah.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Krótkie Opowiadania"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
