Zara terkejut mendengar telepon yang berdering di tengah malam. Nama kakaknya, Zefran, muncul di layar ponselnya. Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu langsung, hanya saling berkabar melalui pesan singkat atau telepon.
Dengan perasaan cemas, Zara segera mengangkat telepon. "Hallo kak, ada apa?" tanyanya, sedikit ragu.
Di sisi lain telepon, Zefran langsung berbicara dengan nada yang terburu-buru, seolah tak sabar. "Zara? Apa kau baik-baik saja?" Suaranya terdengar cemas, bahkan sedikit marah.
Zara bingung. "Kak, aku baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba telepon malam-malam begini?" jawabnya, mencoba untuk tetap tenang.
"Tadi malam aku baru dengar kabar dari mama. Kau... kau dilamar oleh French, pria berumur 31 tahun? C'mon Zara," suara Zefran terdengar sangat terkejut, hampir seperti tidak percaya.
Zara terdiam sejenak, kemudian mengangguk meskipun Zefran tak bisa melihatnya. "Iya, Kak."
Hening sejenak. Zara bisa merasakan kekhawatiran Zefran yang begitu besar, meskipun mereka berjarak ribuan kilometer, Zefran tetap merasa perlu untuk menanggapi keputusan ini. "Kenapa kau begitu terkejut? It's not a big deal," tanya Zara pelan.
"Zara, kau serius? Kau tahu kan, dia itu jauh lebih tua darimu? Dia sudah 31 tahun, sementara kau baru 21 tahun. Itu perbedaan usia yang besar. Kau masih muda, Zara! Kau belum tahu apa-apa tentang kehidupanmu, dan sekarang kau mau melangkah sejauh itu?" suara Zefran terdengar semakin cemas, bahkan sedikit marah.
"Aku tahu, Kak. Aku paham. Aku masih muda, tapi aku merasa ini adalah keputusan yang benar untukku. Aku ingin memberi kesempatan pada hubungan ini, Kak."
"Zara, kau tahu kau masih sangat muda, kan? Ini terlalu cepat. Kau masih kuliah, masih banyak yang harus kau jalani dalam hidup. Aku nggak bisa begitu saja membiarkan kau membuat keputusan ini tanpa mempertimbangkannya dengan matang. Aku nggak terima kalau kau terburu-buru seperti ini," ujar Zefran dengan nada yang lebih keras.
"Kak, aku sudah memikirkannya dengan hati-hati. Aku tak ingin keputusan ini merugikan siapa pun. Tapi aku ingin mencoba menjalani hubungan ini. Aku ingin tahu apakah ini bisa jadi sesuatu yang lebih."
Zefran terdiam, dan Zara bisa mendengar napasnya yang berat. "Zara, aku tahu kau masih ingin mencoba, tapi kau tidak bisa hanya mendengarkan perasaanmu saja. Kau perlu berpikir lebih jauh tentang masa depanmu. Aku nggak bisa biarkan kau membuat keputusan ini sendirian. Aku harus ada di sana. Aku harus pulang ke Turki," suara Zefran terdengar sangat tegas, seperti ada keputusan yang tak bisa digoyahkan.
Zara terkejut mendengar perkataan Zefran. "Kak, kau mau pulang ke Turki? Kenapa? Apa benar-benar perlu sampai segitunya?"
"Ya, aku harus pulang. Aku nggak bisa diam saja melihat kau mengambil keputusan besar tanpa ada yang membimbingmu. Aku akan segera mengatur penerbangan. Aku harus ada di sana untuk membantu kau memikirkan semuanya dengan lebih baik," jawab Zefran dengan penuh keyakinan.
Zara merasa dadanya sesak. Ia tahu Zefran hanya ingin melindunginya, tapi perasaan kakaknya yang begitu cemas malah membuat hatinya semakin berat. "Kak, aku... aku tahu kau peduli padaku. Tapi aku bisa menghadapi ini sendiri. Aku tidak ingin kau merasa harus pulang hanya karena keputusan ini. Aku bisa melakukannya tanpa kau di sini."
"Aku nggak bisa begitu saja membiarkanmu, Zara. Aku harus ada di sampingmu. Apa pun yang terjadi, kau harus tahu kau nggak sendirian. Aku nggak peduli seberapa jauh kita terpisah, aku akan ada untuk kau," kata Zefran dengan suara yang lebih lembut namun tetap penuh kekhawatiran.
Zara merasa hatinya semakin ragu. Ia tahu Zefran sangat mencintainya dan ingin yang terbaik untuknya, tetapi keputusan yang sudah diambilnya tetap berada dalam hatinya. "Kak, aku akan berpikir lebih matang. Aku tahu kau peduli, tapi... ini keputusan hidupku, Kak."
Zefran terdiam beberapa saat, kemudian berkata dengan suara yang lebih tenang, "Zara, aku akan segera pulang. Kita akan bicara lebih banyak ketika aku sampai di Turki. Aku cuma ingin kau tahu, aku selalu mendukungmu, apa pun yang terjadi."
Zara menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Setelah telepon berakhir, Zara merasa seakan ada beban yang lebih berat di hatinya. Zefran, yang jauh di Indonesia, kini akan kembali hanya untuk memastikan bahwa adiknya tidak salah langkah. Meskipun ia tahu bahwa keputusan ini adalah haknya, Zara tetap merasa terombang-ambing antara cinta dan kekhawatiran yang datang dari orang-orang terdekatnya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Short Story"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
