Setelah beberapa saat hening, pria itu akhirnya bersuara lagi. Kali ini nadanya lebih dalam, lebih serius. "Zara, apa kita perlu bicara soal ini sekarang? Soal kita."
Zara menoleh dengan alis terangkat, tangan memegang kopi. "Soal kita? Apa maksudmu?" tanyanya, sedikit malas dengan arah percakapan yang mulai terasa berat.
Pria itu memutar tubuhnya sedikit, menatap langsung ke wajah Zara. Matanya tajam, seperti ada beban yang sudah lama dipendam. "Aku tak suka begini, Zara. Tak suka merasa... seperti satu-satunya orang yang peduli tentang kita. Sementara kau terus-terusan bertingkah seakan ini semua tak penting."
Zara menghela napas, menyandarkan tubuhnya ke bangku taman. "French, aku tak tahu kau bicara apa. Kita hanya duduk, makan croissant, minum kopi dan tiba-tiba kau bicara soal 'kita' seperti semuanya berantakan. Apa maksudmu?"
Pria itu mendengus, matanya menatap tajam ke arah Zara yang masih tampak santai. "Masalahnya, Zara, aku ini—sial, aku ini sangat peduli denganmu! Aku cemburu karena aku peduli. Aku marah karena aku tak mengerti kenapa kau selalu bersikap seperti aku ini cuma angin lalu untukmu."
Zara memutar bola matanya, merasa sedikit geram. "Aku tak mau ribut soal hal-hal kecil seperti ini. Tadi itu hanya percakapan biasa, dan kau tahu itu."
Pria itu mengetukkan jarinya ke pahanya, jelas-jelas berusaha menahan emosinya. "Hal kecil? Untukmu, mungkin ini hal kecil. Tapi untukku, setiap pria asing yang berusaha dekatmu—entah itu bicara soal croissant atau sialan apa pun—selalu jadi masalah untukku. Karena aku... karena aku tak bisa bayangkan kalau ada orang lain yang bisa memilikimu."
Zara menatap pria itu lebih lama kali ini. Pandangan matanya sarat akan kebingungan. "French, ini bukan soal siapa yang 'punya' siapa. Kita ada di sini, iya, tapi bukan berarti kau bisa cemburu pada setiap orang yang hanya bicara dua kalimat denganku."
Pria itu menggeleng pelan, rahangnya mengeras. "Ini soal aku tak mau kehilangan kau, Zara. Tapi bagaimana caranya aku bisa tenang kalau kau terus begini? Selalu pura-pura tak mengerti."
"Karena aku memang tak mengerti!" balas Zara, suaranya naik satu oktaf. "Kau marah, kau cemburu, tapi aku tak pernah mengerti kenapa ini jadi sebesar itu buatmu. Kita bahkan—" Zara terhenti sejenak, lalu menatapnya lagi, "kita bahkan belum sepakat soal apa kita ini sebenarnya, kan?"
Pria itu terdiam. Seketika, udara di sekitar mereka terasa lebih berat. "Jadi, itu masalahnya," katanya lirih, seakan baru menyadari sesuatu. "Buatmu, ini belum pasti huh? Aku ini cuma seseorang yang... kebetulan ada di hidupmu sekarang?"
Zara tak segera menjawab. Tatapannya berpindah ke kopi di tangannya yang kini tak lagi terasa nikmat. Ada sesuatu yang menusuk di dada mendengar kata-kata pria itu, tapi ia tak tahu harus berkata apa.
"Jawab, Zara," desak pria itu, suaranya rendah namun tegas. "Apa kita ini hanya kebetulan?"
Zara akhirnya menatapnya lagi, mata mereka bertemu. Ada sesuatu di balik pandangan mata pria itu yang membuatnya merasa bersalah. "Aku tak tahu, French," jawab Zara dengan suara pelan. "Aku tak mau memberi jawaban yang membuatmu salah paham atau berharap lebih." Lagi..
Pria itu menghela napas panjang, lalu berdiri. "Oke," katanya singkat, suaranya datar. "Kalau itu jawabanmu, mungkin aku harus belajar untuk tak terlalu peduli."
Zara menatap punggung pria itu ketika ia mulai melangkah pergi. Namun, ia tetap diam, membiarkan pria itu pergi.
Ia tak pernah berpikir kalau hal-hal kecil, seperti obrolan singkat di toko roti, bisa berkembang menjadi masalah sebesar ini.
Pria itu memang selalu sedikit berlebihan, pikirnya. Zara menatap langit biru yang cerah, tapi suasana hatinya jauh dari tenang.
Pria itu mungkin akan mulai menjauhinya, pikirnya sedikit senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Historia Corta"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
