Beberapa langkah menjauh dari bangku taman, French merasakan hatinya semakin berat. Setiap langkah seolah menarik beban yang tak terlihat, namun nyata menyakitkan. Ia berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan menarik napas panjang. Cahaya pagi menuju siang menusuk kulitnya, tapi itu tak ada artinya dibandingkan rasa sesak di dadanya. Dadanya berdegup cepat, otaknya berputar-putar seperti kaset rusak.
Kenapa begini? French memejamkan matanya, mencoba menahan perasaan yang memuncak. Ia ingin marah-pada dirinya sendiri, pada Zara, bahkan pada keadaan yang membuatnya seperti ini. Tapi paling utama, ia ingin Zara mengerti. Mengerti bahwa apa yang ia rasakan bukan hal yang sepele.
French membuka mata perlahan, menatap lurus ke jalan setapak yang sunyi. Jauh di ujung sana, ia bisa melihat bayangan kabur orang-orang yang lalu lalang menikmati suasana. Tapi baginya, semuanya tampak abu-abu. Yang ada di pikirannya hanya Zara-Zara dengan wajah santainya, Zara yang terus saja tak peka, Zara yang tak pernah benar-benar memberikan kepastian.
"Kenapa kau tak bisa melihat apa yang kulihat, Zara?" gumamnya pelan, hampir seperti bicara dengan dirinya sendiri. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, menahan getaran emosi yang hampir meledak. Ia tahu Zara mungkin tak bermaksud menyakitinya. Tapi justru itu masalahnya-Zara tak sadar betapa besar pengaruhnya dalam hidup French. Betapa obsesinya terhadap Zara semakin kuat setiap harinya.
French kembali melangkah, kali ini pelan. Setiap detik berlalu, ia merasa semakin frustrasi. Bayangan Zara terus menghantuinya. Dia bahkan tak mengejarku, pikirnya dengan getir. Rasa pahit menyelinap di hatinya. Apakah dirinya benar-benar sepenting itu bagi Zara? Apakah Zara pernah memikirkan perasaannya, walau hanya sedikit?
Ia mendadak berhenti lagi, menoleh ke belakang. Dari jauh, ia bisa melihat Zara masih duduk di bangku yang sama, tidak bergerak, tidak mengejarnya, malah sibuk dengan ponselnya. Sebuah tawa kecil, tanpa emosi, keluar dari bibirnya. "Sudah kuduga," katanya lirih. "Aku yang selalu berlari mengejarnya, sementara dia... dia bahkan tak berpikir untuk bangkit."
French meremas rambutnya dengan kesal, frustrasi membanjiri kepalanya. Apa aku salah? tanyanya sekali lagi pada dirinya sendiri. Apa perasaan ini memang hanya ada padaku? Tapi setiap kenangan bersama Zara-tawa kecilnya, cara ia berbicara dengan santai-membuat French semakin tenggelam. Zara adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup, tapi juga satu-satunya yang perlahan membuatnya gila.
Mata French kembali memandang Zara dari kejauhan. Ada sesuatu di dalam dirinya yang berteriak untuk kembali, untuk memaksa Zara mendengar apa yang ia rasakan, untuk menuntut jawaban yang jelas. Tapi ada sisi lain yang berkata ia hanya akan mempermalukan dirinya lagi-karena Zara tetap tak akan peka. Zara tetap akan menatapnya dengan wajah bingung dan mengatakan, "Aku tak mengerti."
Tapi bagaimana caranya French berhenti? Rasa itu sudah terlanjur tumbuh menjadi obsesi yang tak bisa dikendalikan. Ia sudah mencoba berpura-pura tenang, mencoba untuk tidak terlalu peduli, tapi nyatanya semakin ia menahan, semakin perasaannya memuncak.
Ia mengepalkan tangannya lebih erat kali ini, suaranya nyaris bergetar saat ia berbisik pada dirinya sendiri, "Aku tak bisa. Aku tak bisa berhenti peduli." French tahu ini berbahaya, ia tahu ini akan menyakitinya lebih jauh. Tapi baginya, membayangkan hidup tanpa Zara lebih menakutkan daripada apa pun.
Akhirnya, tanpa ia sadari, kakinya melangkah kembali ke arah bangku taman. Langkah itu kecil, nyaris ragu, tapi tetap tak bisa ia hentikan. Tatapannya lurus ke arah Zara, yang masih duduk diam di tempat yang sama. French memandangnya, mencoba membaca ekspresi Zara dari jauh. Apakah ia sadar? Apakah ia peduli?
"Kalau kau tak bisa melihatku sekarang, Zara..." French berbisik pelan, matanya tak lepas dari sosok Zara. "Maka aku akan membuatmu melihat. Aku akan membuatmu mengerti."
Langkahnya semakin mendekat, napasnya semakin cepat. Mungkin ia gila. Mungkin obsesinya sudah terlalu jauh. Tapi French tak peduli. Baginya, jika ia harus bertarung melawan semua rasa sakit ini demi membuat Zara memahami perasaannya, maka ia akan melakukannya. Apa pun yang terjadi.
French berhenti hanya beberapa meter dari bangku taman, memperhatikan Zara yang masih tak menyadari keberadaannya. "Aku tak akan menyerah," gumamnya, kali ini lebih mantap. "Bahkan jika kau belum siap memahaminya sekarang."
Dan di dalam kepalanya, hanya satu hal yang terus bergema-Zara adalah miliknya, atau setidaknya, ia akan membuat Zara merasa seperti itu. Tak peduli berapa lama pun waktu yang dibutuhkan.
***
Hai guys terimakasih sudah mendukung cerita sangat sangat lama 🙏
Vote dan dukungan kalian sangat berharga untuk melanjutkan cerita ini 🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Short Story"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
