Zara menunduk, jemarinya menyentuh cangkir kopinya yang telah dingin. Ia terdiam, sementara di hadapannya, French masih menatapnya dengan intens. Suasana di antara mereka terasa begitu hening, namun penuh dengan sesuatu yang tak terucapkan. Bagaimana tidak pria itu tiba-tiba mengatakan cinta kepadanya.
"Aku mencintaimu, Zara. Sangat mencintaimu." Pria itu mengatakannya bersungguh-sungguh.
French menunggu, mencoba mencari tanda-tanda dari sikap Zara. Ia akhirnya bersandar sedikit ke depan, suaranya rendah dan tenang, “Kau tidak akan mengatakan apa-apa? Hanya diam seperti ini?”
Zara mendongak perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata French, namun ia tetap tak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya gerakan kecil, tangannya yang terulur dengan lembut, menyentuh tangan French yang tergeletak di atas meja. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat waktu terasa berhenti bagi French.
French membeku sejenak, terkejut oleh gerakan Zara yang tiba-tiba. Jantungnya berdegup kencang, dan ia mencoba mengendalikan ekspresinya. Namun, detak jantungnya yang begitu keras terasa mustahil untuk diabaikan. Ia mengerjapkan mata sekali, lalu menatap tangan Zara yang kini menggenggam tangannya dengan lembut.
“Zara...” gumam French pelan, nyaris tak terdengar. Suaranya bergetar sedikit, dan ia merasa kesulitan untuk merangkai kata-kata.
Namun Zara tetap diam. Ia tidak melepaskan genggamannya, hanya menatap French dengan sorot mata yang dalam dan tenang. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, tetapi tindakannya sudah cukup untuk menyampaikan sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan.
French menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri dari gejolak emosi yang tiba-tiba muncul. Ia menatap Zara dengan senyum kecil, meski hatinya terasa begitu riuh. “Kau benar-benar membuatku bingung. Kau tidak mengatakan apa-apa, tapi kau... membuatku merasa seperti dicintai.”
Zara menatapnya tanpa ekspresi yang jelas, namun caranya memandang menunjukkan bahwa ia mendengar setiap kata yang French ucapkan. Jemarinya menggenggam tangan French sedikit lebih erat, seolah ingin meyakinkannya tanpa berkata apa-apa.
French merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan. Sentuhan Zara terasa begitu hangat, begitu nyata, hingga ia tak bisa menahan senyum tipis yang muncul di wajahnya. Ia mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, matanya tak lepas dari wajah Zara. “Kau tahu, Zara,” ucapnya dengan nada lebih lembut, “kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Diam pun aku bisa membaca semuanya.” Tidak dia tidak bisa.
Zara tetap tidak menjawab. Namun, ada kilatan halus di matanya, seolah ia ingin mengatakan sesuatu tetapi memilih untuk tetap diam. Ia tahu bahwa jika ia berbicara, perasaan yang selama ini ia coba abaikan mungkin akan terlihat lebih jelas.
French menarik napas panjang, lalu tersenyum lebar. “Baiklah, kau menang. Aku tidak akan memaksamu untuk berbicara. Tapi aku ingin kau tahu satu hal.” Ia menatap Zara lebih dalam, suaranya penuh ketulusan. “Aku tidak akan ke mana-mana. Kau boleh diam, tapi aku akan tetap di sini. Sampai kau siap untuk mengatakan apa yang kau rasakan.”
Zara tetap diam, ia masih belum siap untuk mengakui apa yang ia rasakan. Dengan sedikit ragu, ia menundukkan kepala lagi, tetapi tangannya tetap memegang tangan French, seolah-olah genggaman itu adalah jawabannya.
French tersenyum, meski jantungnya masih berdegup kencang. Ia tahu bahwa Zara mungkin tidak akan mengatakan apa-apa hari ini, tetapi itu tidak membuatnya menyerah. Hening di antara mereka terasa begitu bermakna, seolah-olah tanpa kata pun, semuanya sudah tersampaikan.
Dan malam itu , Zara tak mengatakan apa-apa.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Nouvelles"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
