24

805 34 0
                                        

French berdiri di depan apartemen. Sudah ketiga kalinya ia datang hari itu, mengetuk pintu berulang-ulang, tapi hasilnya tetap sama—tidak ada jawaban. Ruangan itu hening, seolah-olah penghuninya sudah pergi jauh. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

"Ke mana kau, Zara?" gumamnya pelan, tangan yang terkepal mengetuk pintu satu kali lagi, kali ini lebih keras. Tetap sunyi. Dia mendekatkan telinganya ke pintu, berharap bisa mendengar sesuatu—apapun yang memberi petunjuk bahwa wanita itu masih ada di dalam. Tapi sia-sia.

French melangkah mundur dengan frustrasi. Napasnya berat, dan pikirannya dipenuhi dengan ribuan skenario yang tak bisa ia kendalikan. Zara tidak pernah meninggalkan apartemennya tanpa alasan. Ponselnya mati, pesan-pesan hanya centang satu, dan tempat-tempat biasa yang sering ia kunjungi juga kosong. Wanita itu menghilang seperti bayangan yang tertiup angin.

Dengan langkah cepat, ia meninggalkan lorong apartemen itu. Ia tidak tahu ke mana harus mencari, tapi ia tahu satu hal—ia tidak akan berhenti sampai menemukan Zara. Dia terlalu keras kepala untuk menyerah.

French menyalakan mesin mobilnya dengan gerakan cepat, tangannya menggenggam kemudi erat-erat. Ia memutuskan untuk mencoba tempat-tempat lain, meskipun ia tahu usahanya mungkin sia-sia. Gym Zara? Sudah ia periksa kemarin. Kafe tempat mereka sering bertemu? Kosong. Bahkan teman-temannya pun mengaku tidak tahu ke mana wanita itu pergi.

Ponselnya bergetar di saku, membuatnya tersentak. Dengan cepat ia meraihnya, berharap ada pesan atau telepon dari Zara. Tapi yang ia temukan hanyalah notifikasi biasa, tidak penting. French mendesah, melemparkan ponsel itu ke kursi penumpang dengan frustrasi.

Di tengah perjalanan, pikirannya kembali mengulang percakapan terakhir mereka. Zara marah, itu jelas, tapi ia tidak pernah menyangka wanita itu akan benar-benar pergi seperti ini. Dia bukan tipe orang yang melarikan diri, setidaknya tidak tanpa memberi peringatan terlebih dahulu.

"Dimana kau, sayang," gumamnya sambil mengetuk setir.

French berhenti di depan gym tempat Zara biasa berlatih. Meski sudah tahu tempat itu kosong, ia tetap masuk, berharap ada yang bisa memberinya informasi. Resepsionis menggeleng ketika ditanya, memastikan Zara tidak pernah terlihat selama beberapa hari terakhir.

"Dia benar-benar menghilang," bisiknya pelan saat berjalan keluar. Pandangannya menyapu jalanan yang ramai, mencoba mencari sesuatu yang mungkin terlewat.

Kembali ke mobil, ia memegang ponselnya sekali lagi, mencoba menelepon Zara. Namun, seperti sebelumnya, panggilannya langsung masuk ke voicemail. Suaranya terdengar pelan saat ia meninggalkan pesan, "Zara, aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi kau tidak bisa terus seperti ini. Telepon aku. Kumohon."

Waktu berlalu tanpa ada hasil. French duduk di dalam mobilnya, pandangannya kosong menatap jalanan malam yang mulai lengang. Hatinya dipenuhi kekhawatiran yang bercampur dengan frustrasi. Ia tidak tahu harus mencari di mana lagi. Semua petunjuk seolah mengarah pada jalan buntu.

Tapi satu hal yang ia tahu pasti. Zara tidak akan pergi begitu saja tanpa alasan. Dia tidak bisa menerima itu. Ada sesuatu yang tidak dia ketahui, dan itu membuatnya gila.

Ketika malam semakin larut, French menghidupkan mesin mobil sekali lagi. Ia tidak akan menyerah, tidak malam ini, tidak esok hari. Jika Zara berpikir dia bisa menghilang tanpa jejak, dia salah besar.

"Aku akan menemukanmu, Zara," gumamnya dengan suara rendah, penuh tekad. "Tidak peduli di mana kau bersembunyi."

Ia melaju ke jalanan gelap, pikirannya dipenuhi rencana-rencana untuk melacak wanita itu. Zara mungkin mencoba melarikan diri darinya, tapi French tahu bahwa tidak ada tempat yang cukup jauh untuk menghindar dari dirinya.

***

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang