Minggu-minggu berlalu, dan Zara mulai merasa sedikit lebih nyaman dengan kehidupannya di Boston. Kuliah berjalan lancar, teman-teman baru mulai muncul, dan ia mulai menyesuaikan diri dengan rutinitas baru. Namun, ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan-perasaan seperti ada yang selalu mengawasinya. Setiap kali ia merasa cemas atau bingung, ia menerima pesan-pesan misterius yang membuatnya merasa tenang, meskipun ia tak tahu siapa yang mengirimnya.
Suatu sore, setelah kuliah berakhir, Zara memutuskan untuk berjalan kaki menuju taman dekat kampus. Udara dingin menyelimuti kota, dan langit sedikit mendung. Ia merasa sedikit lelah, tetapi juga ingin menenangkan pikiran dengan berjalan santai. Ia duduk di bangku taman yang agak sepi, mengeluarkan earphone dan mendengarkan musik sambil memandangi pepohonan yang bergoyang pelan tertiup angin.
Di balik pepohonan yang agak jauh, French berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, memastikan dirinya tak terlihat oleh Zara. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Zara dengan jelas. Dia selalu merasa tenang hanya dengan berada di dekatnya, meskipun Zara tak tahu bahwa ia ada di sana. French memandangnya dengan penuh perhatian, tidak pernah berhenti berpikir tentang bagaimana ia bisa membuat Zara merasa aman dan bahagia.
"Aku tidak akan pernah menjauh darimu," pikirnya dalam hati, menatap Zara yang tampak begitu damai dengan dirinya sendiri.
Tiba-tiba, Zara mendengar suara seseorang mendekat. Ia menoleh, dan melihat seorang pria yang mengenakan jaket hitam dan topi yang agak rendah menutupi wajahnya. Tak ada yang aneh dengan pria itu, namun perasaan tak nyaman sedikit muncul. Namun, pria itu hanya melirik sekilas dan melanjutkan langkahnya, seakan-akan tak ada yang penting.
Zara menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir perasaan aneh itu. Namun, hatinya tak bisa mengabaikan rasa rindu yang mulai tumbuh. Ia mulai merasa bahwa ada seseorang yang selalu ada untuknya, meskipun ia tak bisa melihatnya. Selalu ada pesan-pesan misterius, selalu ada perhatian tanpa harus terlihat langsung. Ia merasa nyaman, tapi tak bisa sepenuhnya menjelaskan perasaan itu.
---
Beberapa hari kemudian, Zara berjalan kembali ke kafe favoritnya. Ia merasa sedikit tertekan dengan banyaknya tugas kuliah yang harus diselesaikan, dan memutuskan untuk duduk di tempat yang tenang, menikmati secangkir kopi dan mengerjakan pekerjaannya. Begitu ia duduk, pelayan datang dan meletakkan secarik kertas di mejanya.
Zara membaca tulisan itu, kali ini dengan senyuman kecil yang mulai merekah di wajahnya. Pesan itu hanya berbunyi:
"Kau selalu tahu bagaimana membuat dirimu tetap fokus. Jangan lupakan dirimu sendiri, Zara."
Ia menatap kertas itu lebih lama, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, mencoba menangkap bayangan seseorang yang mungkin sedang mengamatinya. Namun tak ada siapa pun. Ia hanya melihat gedung-gedung tinggi dan orang-orang yang berlalu-lalang, tidak ada yang mencurigakan.
Di luar kafe, French berdiri lagi di tempat yang sama, hanya beberapa langkah dari jendela tempat Zara duduk. Ia tersenyum dengan tatapan penuh kasih, meski ia tahu Zara tidak bisa melihatnya. French memutuskan untuk tetap menjaga jarak, tidak ingin mengganggu dunia baru Zara. Ia tahu, meskipun mereka terpisah, ikatan mereka tetap kuat. Ia memutuskan untuk memberikan kejutan yang lebih besar suatu saat nanti, sesuatu yang tidak akan bisa Zara lupakan.
"Aku ingin kamu tahu, Zara," bisiknya pelan, "bahwa aku ada di sini, tak peduli sejauh apa jarak yang memisahkan kita. Aku akan selalu ada, untukmu."
Zara menatap layar laptopnya, seolah-olah merasakan ada sesuatu yang hangat melingkupi hatinya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Short Story"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
