37

812 19 0
                                        

Suatu pagi, French datang lebih awal dari biasanya. Mama sedang sibuk di dapur, sementara Dada menyiapkan beberapa dokumen di ruang kerjanya. French memanfaatkan waktu ini untuk duduk di sofa, membuka laptopnya, dan mempersiapkan presentasi yang akan ia sampaikan kepada Dada. Namun, matanya tanpa sadar melayang ke arah Zara yang tengah serius mengetik.

"Fokus, French," gumamnya dalam hati, mencoba mengalihkan pandangan kembali ke layar laptopnya. Namun, Zara tampaknya menjadi pusat gravitasi yang sulit diabaikan. Setiap gerakan kecilnya, mulai dari mengetik, menghela napas, hingga menyelipkan rambut ke belakang telinga, terus menarik perhatian French. Pria itu meneguk ludahnya kasar. Ia benar-benar sudah jatuh pada gadis kecil itu.

Ketika Dada akhirnya datang membawa dokumen, French berdiri dan segera menawarkan bantuan. "Biar saya bantu, sir," ucapnya, dengan sopan sambil mengambil sebagian dokumen dari tangan Dada.

"Terima kasih, French," kata Dada sambil duduk. "Aku penasaran, menurutmu, apa langkah terbaik untuk ekspansi perusahaan kita ke negara bagian lain?"

French, dengan percaya diri, menjelaskan analisisnya. Ia menunjukkan risiko dan peluang yang ada, sambil sesekali menambahkan ide kreatif untuk memastikan efisiensi operasional. Dada mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk tanda setuju. Namun, di sela-sela pembicaraan serius itu, French tak bisa menahan diri untuk mencuri pandang ke arah Zara.

"Dan tentunya," tambah French, sengaja menaikkan volume suaranya sedikit, "penting bagi generasi muda seperti Zara untuk mulai terlibat dalam diskusi seperti ini. Perspektif mereka bisa membawa ide-ide segar."

Zara, yang mendengar namanya disebut, berhenti mengetik dan menoleh dengan alis terangkat. "Kenapa aku harus terlibat?" tanyanya, suaranya datar.

French tersenyum, jelas menikmati reaksinya. "Karena kau cerdas, Zara. Dan kecerdasanmu bisa sangat berguna untuk bisnis keluargamu."

Zara mendengus pelan, lalu kembali menatap layar laptopnya. "Aku sibuk dengan pekerjaanku sendiri."

Dada, yang mendengar interaksi itu, tertawa kecil. "Kau harus belajar lebih banyak, Zara. Suatu hari, kau akan menyadari betapa pentingnya hal ini."

Zara hanya menghela napas pelan. Meskipun ia tidak mengakui secara langsung, ada sesuatu dalam cara French berbicara yang membuatnya sedikit terusik. Namun, ia memilih untuk mengabaikan perasaan itu dan fokus kembali pada urusannnya.

Setelah diskusi mereka selesai, Dada pamit untuk kembali ke ruang kerjanya, meninggalkan French dan Zara di ruang tamu. French mengambil kesempatan ini untuk mendekati Zara, membawa secangkir kopi yang ia letakkan di meja kerjanya.

"Kau tidak pernah berhenti bekerja, ya?" tanya French dengan nada santai.

Zara melirik sekilas, lalu mengangkat bahu. "Ada urusan yang harus kuselesaikan."

French tersenyum, menatapnya dengan pandangan lembut yang berbeda dari biasanya. "Kalau begitu, kau butuh istirahat. Bagaimana kalau kita pergi makan malam nanti? Ada restoran Turki baru yang harus kucoba, dan aku butuh teman."

Zara menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan, ragu untuk menjawab. Namun, setelah beberapa detik, ia akhirnya berkata, "Kita lihat nanti. Kalau aku selesai."

French mengangguk, puas dengan jawaban itu. Baginya, itu sudah cukup menjadi tanda bahwa Zara mulai melonggarkan dinding yang selama ini ia bangun. French tahu bahwa ini adalah perjalanan yang panjang, tetapi ia tidak keberatan menunggu, karena Zara adalah seseorang yang pantas diperjuangkan.

TBC

PLEASE LOVE ME  ✓ (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang